Bab 2
Petunjuk Antisipasi (Anticipatory Guidance) dan
Pencegahan Kecelakaan Pada Anak
·
TUJUAN PEMBELAJARAN
·
Umum
Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan mampu menerapkan bimbingan
antisipasi dan pencegahan kecelakaan pada anak sesuai tahap usia.
·
Khusus
Setelah selesai
mengikuti pembelajaran, Anda dapat:
·
Menjelaskan pengertian bimbingan antisipasi dan pencegahan kecelakaan pada anak.
·
Menjelaskan berbagai pencegahan kecelakaan
yang sering terjadi pada anak dari berbagai
tahap usia.
·
POKOK-POKOK MATERI
Berdasarkan tujuan
di atas, maka pokok-pokok materi pada Topik 2 ini adalah:
·
Pengertian bimbingan antisipasi.
·
Pencegahan kecelakaan pada anak sesuai tahap usia.
·
URAIAN MATERI
Masa anak merupakan masa dimana rasa ingin tahu mereka terhadap
lingkungan sekitar sangat
tinggi. Mereka akan mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan menggunakan seluruh panca indra mereka tanpa
memperhitungkan kemungkinan bahaya yang akan timbul sehingga dapat menyebabkan kecelakaan dan melukai
tubuh mereka bahkan bisa mengakibatkan kematian. Tidak jarang luka
yang diakibatkan karena kecelakaan pada anak
ini bersifat menetap
dan harus ditanggung oleh anak sepanjang
usianya. Saat anak menginjak
usia remaja dimana rasa identitas dirinya muncul, ia akan menjadi minder karena body imagenya terganggu, akibatnya
anak akan menjadi rendah diri dan dapat membatasi diri dalam pergaulan.
Untuk menghindari atau
meminimalkan terjadinya kecelakaan dan hal-hal yang tidak diinginkan pada anak, maka perawat perlu
membekali orang tua dengan bimbingan petunjuk
antisipasi (anticipatory guidance)
agar masa emas (golden age) ini dapat berlangsung dengan baik dan tidak ada penyesalan orang tua di kemudian hari.
Apa yang dimaksud dengan
petunjuk antisipasi itu? Mari kita bahas lebih lanjut.
·
Pengertian Petunjuk
Antisipasi (Anticipatory Guidance).
Secara harfiah, petunjuk antisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu anticipatory guidance. Anticipatory berarti lebih dahulu, guidance
berarti petunjuk. Jadi petunjuk antisipasi dapat diartikan sebagai
petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya secara
bijaksana sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang
secara normal (Nursalam, 2005)
Anticipatory guidance
juga merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh perawat dalam membimbing orang tua tentang tahapan
perkembangan anak sehingga orang tua sadar
akan apa yang terjadi dan mengetahui apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan tahapan usia anak.
Bimbingan antisipasi bagi orang
tua akan berbeda untuk setiap tahap usia anak karena disesuaikan dengan karakteristiknya. Sebagai contoh mari kita lihat uraian di bawah ini (Wong, 2004):
·
Usia Bayi
·
6 bulan pertama
·
Ajarkan perawatan
bayi dan bantu orang tua untuk memahami
kebutuhan dan respons
bayi
·
Bantu orang tua untuk
memenuhi kebutuhan stimulasi bayi
·
Tekankan kebutuhan imunisasi
·
Persiapkan untuk pengenalan makanan
padat
·
6 bulan kedua
·
Siapkan orang
tua akan respons
stranger anxiety (takut
pada orang asing)
dari anak.
·
Bimbing orang tua mengenai
disiplin karena peningkatan mobilitas bayi.
·
Ajarkan pencegahan
cedera karena peningkatan keterampilan motorik anak dan rasa keingintahuannya.
·
Usia toddler
(1-3 tahun):
·
Usia 12-18 bulan
·
Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkah
laku dari toddler
khususnya negativisme.
·
Dorong orang tua untuk melakukan penyapihan secara bertahap dan peningkatan pemberian
makanan padat.
·
Adanya jadwal
waktu makan yang rutin.
·
Pencegahan bahaya
kecelakaan yang potensial terjadi terutama di rumah, kendaraan bermotor, keracunan, jatuh.
·
Perlunya
ketentuan-ketentuan/peraturan/aturan disiplin dengan lembut dan cara-cara untuk mengatasi negatifistik dan temper tantrum
yang sering terjadi
pada todler.
·
Perlunya mainan baru untuk mengembangkan motorik,
bahasa, pengetahuan dan keterampilan sosial.
·
Usia 18-24 bulan
·
Menekankan pentingnya persahabatan sebaya dalam
bermain.
·
Menekankan pentingnya persiapan anak untuk kehadiran bayi baru dan kemungkinan terjadinya persaingan dengan saudara
kandung (sibling rivalry). Persaingan dengan saudara
kandung adalah perasaan cemburu dan benci
yang biasanya dialami oleh anak karena kehadiran/kelahiran saudara kandungnya. Hal ini terjadi
bukan karena rasa benci tetapi lebih karena perubahan situasi.
Libatkan anak dalam perawatan adik barunya seperti
mengambilkan baju, popok, susu dan sebagainya.
·
Mendiskusikan
kesiapan fisik dan psikologis anak untuk toilet training. Toilet training adalah suatu usaha untuk melatih
anak agar mampu mengontrol dalam
melakukan buang air kecil atau buang air besar. Toilet training secara umum dapat dilaksanakan pada setiap anak yang sudah
mulai memasuki fase kemandirian. Fase ini biasanya
terjadi pada anak usia 18 – 24 bulan. Dalam melakukan
toilet training ini, anak membutuhkan persiapan fisik, psikologis maupun intelektualnya. Dari persiapan tersebut
anak dapat mengontrol buang air besar dan buang air
kecil secara mandiri (Hidayat, 2005).
·
Perawat bertanggung
jawab dalam membantu orang tua mengidentifikasi kesiapan anak untuk toilet training. Latihan miksi biasanya
dicapai sebelum defekasi karena
merupakan aktifitas regular yang data diduga. Sedangkan defekasi merupakan sensasi
yang lebih besar daripada miksi yang dapat menimbulkan perhatian
dari anak.


Sumber:http://motherhoodinstyle.net/2014/03/14/potty-training http://madscientistcrazymom.com/2013/02/15/toilet-training-for-dummies
Gambar 3.3
Pispot portable untuk
melatih toilet training.
·
Mendiskusikan berkembangnya rasa takut seperti
pada kegelapan atau suara
keras.
·
Menyiapkan orang
tua akan adanya tanda-tanda regresi pada waktu anak mengalami stress (misalnya anak yang tadinya sudah tidak
mengompol tiba- tiba menjadi sering mengompol).
·
Usia 24-36 bulan
·
Mendiskusikan kebutuhan
anak untuk dilibatkan dalam kegiatan dengan cara
meniru.
·
Mendiskusikan
pendekatan yang dilakukan dalam toilet training dan sikap menghadapi keadaan-keadaan seperti mengompol
atau buang air besar (BAB) dicelana.
·
Menekankan keunikan
dari proses berfikir toddler misalnya: melalui bahasa yang digunakan, ketidakmampuan melihat kejadian dari perspektif yang lain.
·
Menekankan disiplin
harus tetap berstruktur dengan benar dan nyata, ajukan
alasan yang rasional, hindari kebingungan dan salah pengertian.
·
Usia Prasekolah
Bimbingan terhadap orang tua selama
usia prasekolah di antaranya adalah:
·
Usia 3 tahun
·
Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan yang luas.
·
Menekankan pentingnya batas-batas/peraturan-peraturan.
·
Mengantisipasi
perubahan perilaku yang agresif (menurunkan ketegangan/ tension).
·
Menganjurkan orang tua untuk menawarkan kepada anaknya alternatif- alternatif pilihan pada
saat anak bimbang.
·
Perlunya perhatian
ekstra.
·
Usia 4 tahun
·
Perilaku lebih agresif termasuk aktivitas motorik
dan bahasa.
·
Menyiapkan meningkatnya rasa ingin tahu tentang seksual.
·
Menekankan pentingnya batas-batas yang realistik dari tingkah lakunya.
·
Usia 5 tahun
·
Menyiapkan anak memasuki lingkungan sekolah.
·
Meyakinkan bahwa usia tersebut
merupakan periode tenang
pada anak.
·
Usia Sekolah
Bimbingan yang dapat dilakukan pada orang tua untuk anak usia sekolah di antaranya
adalah:
·
Usia 6 tahun
·
Bantu orang tua untuk memahami kebutuhan
sosialisasi dengan cara mendorong anak berinteraksi
dengan temannya.
·
Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan
terutama naik sepeda.
·
Siapkan orang tua akan peningkatan
ketertarikan anak keluar
rumah.
·
Dorong orang tua untuk menghargai kebutuhan
anak akan privacy dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.
·
Usia 7-10 tahun
·
Menekankan untuk mendorong kebutuhan
akan kemandirian.
·
Tertarik untuk beraktivitas di luar rumah.
·
Siapkan orang tua untuk menghadapi anak terutama anak perempuan memasuki
prapubertas.
·
Usia 11-12 tahun
·
Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan
tubuh saat pubertas.
·
Anak wanita
mengalami pertumbuhan cepat.
·
Pendidikan seks (Sex education) yang adekuat dan informasi yang akurat.
·
Usia Remaja
·
Terima remaja
sebagai manusia biasa
·
Hargai ide-idenya, kesukaan dan ketidaksukaan serta harapannya.
·
Biarkan remaja
mempelajari dan melakukan
hal-hal yang disukainya walaupun metodenya berbeda
dengan orang dewasa.
·
Berikn batasan yang jelas dan masuk akal.
·
Hargai privacy
remaja
·
Berikan kasih sayang tanpa menuntut.
·
Gunakan pertemuan
keluarga untuk merundingkan masalah dan menentukan aturan-aturan.
·
Orangtua juga harus
menyadari bahwa: mereka ingin mandiri, sensitif terhadap perasaan dan perilaku yang mempengaruhinya, teman-temannya
merupakan hal yang sangat penting
dan memandang segala sesuatu sebagai hitam atau putih, baik atau buruk.
·
Pencegahan Kecelakaan Pada Anak
Kecelakaan merupakan peristiwa
yang sering dialami oleh anak yang dapat melukai bahkan menyebabkan kematian. Bagaimanapun orang tua merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kebutuhan
dan keselamatan anak, sehingga mereka harus memahami
karakteristik dan perilaku
anak serta menyadari
potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.
Anak laki-laki biasanya lebih
banyak mengalami kecelakaan terutama saat bermain dibandingkan anak perempuan
karena mereka lebih aktif dan banyak menggunakan keterampilan motorik kasarnya seperti berlari, melompat,
memanjat, bermain sepeda dan sebagainya. Sedangkan
anak perempuan cenderung
lebih banyak menggunakan keterampilan motorik halus seperti bermain boneka,
masak-masakan, bermain peran dan sebagainya.
Kejadian kecelakaan pada anak
sebenarnya dapat dicegah dan diminimalisir dengan melakukan berbagai upaya di antaranya adalah memodifikasi
lingkungan agar aman bagi anak.
Di bawah ini adalah upaya-upaya
pencegahan kecelakaan yang dapat dilakukan sesuai dengan tahap usia anak
(Wong, 2004):
·
Masa Bayi
Jenis kecelakaan yang biasa
terjadi di antaranya adalah aspirasi benda asing (terutama benda-benda kecil seperti kancing,
kacang-kacangan, biji buah, bedak dan sebagainya) jatuh, luka bakar (tersiram air panas atau minyak panas),
keracunan dan kekurangan oksigen.
Pencegahan yang sebaiknya
dilakukan:
·
Menghindari aspirasi:
Simpan pada tempat yang aman dan tidak terjangkau atau buang
benda-benda yang berpotensi menyebabkan aspirasi seperti bedak, kancing, permen,
biji-bijian dan sebagainya. Gendong bayi saat memberi makan
dan menyusui.
·
Kekurangan oksigen:
jauhkan dan jangan biarkan anak bermain plastik, sarung bantal atau benda-benda yang berpotensi membuat
anak kekurangan oksigen. Jangan pernah meninggalkan bayi sendirian
di kamar bayi atau kamar mandi.
·
Jatuh : beri
pengaman tempat tidur saat bayi/anak sedang tidur, usahakan anak duduk di kursi khusus atau tidak memakai kursi tinggi, usahakan ujung
benda seperti meja dan kursi tidak
tajam. Jangan pernah meninggalkan bayi pada tempat yang tinggi dan bila ragu
tempatkan bayi di lantai dengan pengalas.
·
Luka bakar : cek
air mandi sebelum dipakai, simpan air panas di tempat yang aman dan tidak terjangkau oleh anak. Jangan
merokok di dalam rumah atau dekat dengan bayi.
Tempatkan peralatan listrik
jauh dari jangkauan
bayi dan gunakan
pengaman.
·
Keracunan : simpan
bahan toxic dilemari/tempat yang aman. Buang bahan-bahan yang mengandung zat kimia tidak terpakai seperti
baterai ke tempat yang jauh dari jangkauan
bayi.
·
Masa Toddler
Jenis kecelakaan yang sering terjadi
:
·
Jatuh/luka akibat
mengendarai sepeda.
·
Tenggelam.
·
Keracunan atau terbakar.
·
Tertabrak karena lari mengejar
bola/balon.
·
Aspirasi dan asfiksia.
Pencegahan yang bisa dilakukan:
·
Awasi anak jika bermain
dekat sumber air.
·
Ajarkan anak berenang.
·
Simpan korek
api, hati-hati terhadap
kompor masak dan strika.
·
Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
·
Jangan biarkan
anak main tanpa pengawasan.
·
Cek air mandi sebelum
dipakai.
·
Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
·
Jangan biarkan
kabel listrik menggantung/menjuntai ke lantai.
·
Awasi anak pada saat memanjat, lari, lompat.
·
Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi biasanya
karena anak kurang menyadari potensi bahaya seperti: obyek panas, benda tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil
bola/layangan, menyeberang
jalan.
Pencegahannya ada 2 cara:
·
Mengontrol lingkungan.
·
Mendidik anak terhadap keamanan
dan potensial bahaya.
·
Jauhkan korek api dari jangkauan.
·
Mengamankan tempat-tempat yang secara potensial dapat membahayakan anak.
·
Mendidik anak cara menyeberang jalan, arti rambu-rambu lalu lintas.
·
Usia Sekolah
·
Anak biasanya
sudah berpikir sebelum
bertindak.
·
Aktif dalam kegiatan: mengendarai sepeda, mendaki gunung,
berenang.
·
Berikan pendidikan tentang Aturan lalu-lintas pada anak.
·
Apabila anak suka berenang, ajakan aturan yang aman dalam berenang.
·
Awasi anak saat menggunakan alat berbahaya seperti gergaji,
alat listrik.
·
Ajarkan anak untuk tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.
·
Remaja
·
Jenis kecelakaan yang sering terjadi
pada usia ini adalah:
·
Kecelakaan lalu lintas terutama kendaraan bermotor yang dapat mengakibatkan fraktur, cedera
kepala.
·
Kecelakaan karena
olah raga.
·
Oleh karena
itu perlu diberikan
pemahaman kepada remaja
tentang:
·
Petunjuk dalam penggunaan kendaraan
bermotor
·
Ada negosiasi antara orang tua dengan remaja.
·
Penggunaan alat pengaman yang sesuai seperti
helm sesuai standar,
penggunaan sabuk keselamatan.
·
Melakukan latihan
fisik yang sesuai
sebelum melakukan olah raga
Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi praktikum di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Anda telah mengetahui bahwa
potensi kecelakaan yang dapat dialami oleh anak dapat berasal darimana saja termasuk dari lingkungan sekitar
Anda. Tugas Anda adalah:
·
Jika Anda belum
mempunyai anak, bayangkan seandainya Anda mempunyai bayi atau anak antara usia satu tahun sampai usia remaja. Kalau Anda sudah mempunyai anak, tugas ini akan lebih memudahkan Anda karena Anda
tinggal menyesuaikan dengan
usia anak.
·
Identifikasilah potensi-potensi bahaya yang ada di sekitar
Anda yang dapat menyebabkan
kecelakaan pada anak.
·
Tulislah di buku catatan
hasil identifikasi yang telah Anda lakukan.
·
Buatlah rencana pemecahan masalahnya dengan cara memodifikasi lingkungan sesuai dengan kemampuan Anda.
·
Lakukan minimal
satu pencegahan yang bisa Anda buat.
·
Dokumentasikan situasi
sebelum dan sesudah
perubahan yang Anda lakukan.
·
Nah selamat
mencoba, semoga sukses.
Ringkasan
Masa anak adalah masa dimana
mereka aktif mengeksplorasi lingkungan sekitar. Rasa keingintahuannya yang tinggi kadang-kadang membuat mereka tidak memahami bahaya yang dapat ditimbulkan dari apa yang mereka lakukan. Oleh karena
itu maka kewajiban orang tua dan keluarga untuk menjaga dan melindungi anak agar tetap terjaga
kesehatan dan keamanannya terutama dari bahaya lingkungan yang tidak bisa di modifikasi dan dimanipulasi.
Peran perawat dalam hal ini adalah membimbing dan memotivasi orang tua dan keluarga dalam upaya meminimalkan dan menghindari kejadian
kecelakaan pada anak dengan
cara memberikan alternatif pencegahan yang dapat dilakukan sesuai dengan tahap usia anak.
Tes 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
·
Bimbingan antisipasi adalah salah satu upaya perawat untuk .…
·
mengajari orang tua mendidik
anaknya
·
membimbing orang tua dalam memahami kebutuhan anak sesuai tahap usia
·
memotivasi orang
tua untuk menjaga anaknya seketat mungkin
·
memberi pemahaman
pada orang tua bahwa over protective pada anak adalah
hal yang wajar
·
memberi penegasan
pada orang tua bahwa tidak ada orang tua yang tidak sayang
pada anak
·
Di bawah
ini adalah hal-hal
yang berhubungan dengan
bimbingan antisipasi .…
·
bimbingan antisipasi berbeda untuk tiap tahap usia
·
pada dasarnya
setiap orang tua telah memahami
bahaya yang mungkin
terjadi pada anaknya
·
potensi bahaya
biasanya berasal dari lingkungan karena
lingkungan tidak dapat
dimodifikasi
·
kecelakaan tidak akan terjadi
bila fasilitas keamanan
lingkungan tersedia
·
bimbingan antisipasi pada prinsipnya sama untuk tiap tahap usia anak
·
Bimbingan antisipasi yang dapat dilakukan
pada bayi 6 bulan
ke dua adalah…
·
ajarkan perawatan
bayi dan bantu orang tua untuk memahami
kebutuhan dan respons
bayi
·
bantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan stimulasi bayi
·
siapkan orang tua untuk respons stranger anxiety dari anak
·
tekankan kebutuhan imunisasi
·
persiapkan untuk pengenalan makanan
padat
·
Bimbingan antisipasi yang dapat dilakukan
pada anak usia 2 tahun adalah…
·
menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan yang luas
·
menekankan pentingnya batas-batas/peraturan-peraturan
·
mengantisipasi perubahan
perilaku yang agresif
(menurunkan ketegangan/
tension)
·
mendiskusikan pendekatan yang dilakukan dalam toilet training
dan sikap menghadapi keadaan-keadaan seperti
mengompol atau buang air besar (BAB) di celana
·
menganjurkan orang
tua untuk menawarkan kepada anaknya alternatif-alternatif pilihan pada saat anak bimbang
·
Menghargai privacy anak merupakan salah satu strategi
yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam menghadapi anak usia .…
·
bayi
·
toddler
·
pra sekolah
·
sekolah
·
remaja
·
Kejadian kecelakaan pada anak lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding
anak perempuan. Hal ini terjadi karena .…
·
anak laki-laki
lebih bebas bermain
dibandingkan anak perempuan
·
anak perempuan cenderung pasif dibandingkan dengan anak laki-laki
·
anak laki-laki lebih banyak menggunakan motorik kasar dalam aktifitasnya terutama
bermain
·
orang tua lebih percaya
pada anak laki-laki
pada saat bermain
·
anak laki-laki lebih percaya diri dalam melakukan
aktifitasnya dibanding anak perempuan
·
Untuk menghindarkan kejadian aspirasi maka orang tua sebaiknya
.…
·
buang peralatan yang mengandung zat kimia seperti
baterai bekas
·
jauhkan bahan-bahan dari plastik dari jangkauan anak
·
jauhkan benda-benda kecil seperti kancing
dari jangkauan anak
·
beri penghalang di tempat tidur bayi
·
jangan letakkan anak di tempat yang tinggi
·
Untuk menghindari bahaya luka bakar, maka pencegahan yang dapat dilakukan
di antaranya adalah .…
·
simpan bahan-bahan kimia di tempat yang aman
·
hindari kabel listrik menjuntai ke lantai
·
cek air mandi sebelum
dipakai
·
hindari sudut permukaan tajam
·
simpan kantung
plastik di lemari
·
Kecelakaan yang sering terjadi
pada anak remaja
adalah .…
·
keracunan
·
tenggelam
·
aspirasi
·
jatuh
·
kecelakaan lalu lintas
·
Pemahaman yang perlu
diberikan pada remaja
di antaranya adalah .…
·
pendidikan tentang
cara bersepeda yang benar
·
berikan pemahaman tentang aturan dan cara berlalu lintas yang benar
·
beri pengertian bahwa berkendara adalah
kegiatan yang membahayakan
·
beri pemahaman
pada anak untuk mentaati aturan
sekolah
·
ajarkan anak untuk tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar
Komentar
Posting Komentar