Pemeriksaan Fisik (head to toe) klien

 

Pemeriksaan Fisik

 

A.    Pengertian

Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/ membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien.

B.     Tujuan dan Manfaat

Tujuan :

Secara umum pemeriksaan fisik bertujuan untuk :

1.      Mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien

2.      Menambah, mengkonfirmasi atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan

3.      Mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnose keperawatan

4.      Membuat penilaian klinis tentang perubahan status keperawatan

5.      Membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan enatalaksanaan

6.      Mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan

Manfaat :

Manfaat dari pemeriksaaan fisik antara lain :

1.      Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan

2.      Mengetahui masalah kesehatan yang dialami klien

3.      Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat

4.      Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan

 

C.     Indikasi dan Proses Pemeriksaan Fisik

Indikasi :

Indikasi dilakukan pada klien, terutama pada :

1.      Klien yang baru masuk ketempat pelayanan kesehatan untuk dirawat

2.      Secara rutin pada klien yang sedang dirawat

3.      Sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien

Proses Pemeriksaan Fisik :

Dalam pemeriksaan fisik terdapat 4 proses/ tehnik yang dilakukan antara lain :

1.      Inspeksi

Merupakan proses observasi dengan menggunakan mata. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Dalam melakukan inspeksi terhadap pasien harus memperhatikan tahap-tahap tertentu.

Langkah-langkah kerja inspeksi adalah sebagai berikut :

a.       Atur pencahayaan yang cukup

b.      Atur suhu dan ruangan yang nyaman

c.       Buka bagian yang diinspeksi dan yakinkan bahwa bagian tersebut tidak terttup baju. Selimut dan sebagainya.

d.      Bila perlu gunakan kaca pembesar

e.       Lihat dengan jelas dalam menentukan apa yang dilihat

f.       Perhatikan kesan pertama pasien yang meliputi perilaku, ekspirasi, penampilan umum, pakaian, poster tubuh dan gerakan dengan waktu yang cukup

g.      Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu dibandingkan satu bagian sisi tubuh dengan sisi yang lain.

2.      Palpasi

Palpasi merupakan bagian yang vital dalam pemeriksaan fisik, banyak struktur tubuh meskipun tidak terlihat, tetap dapat dicapai dengan tangan dan bisa dikaji dengan sentuhan. Palpasi merupakan salah satu tehnik pemeriksaan fisik yang harus dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau rabaan.

Langkah kerja palpasi adalah sebagai berikut :

a.       Pastikan bahwa area yang akan dipalpasi tidak tertutup baju, selimut dan sebagainya.

b.      Cuci tangan dengan benar

c.       Beritahu pasien tentang apa yang akan dikerjakan

d.      Secara prinsip palpasi dapat dikerjakan dengan semua jari, tetapi jari telunjuk dan ibu jari lebih sensitive.

e.       Untuk mendeterminasi bentuk dan struktur organ gunakan jari 2,3 dan 4 secara bersamaan. Untuk palpasi abdomen gunakan telapak tangan dan beri tekanan dan jri-jari secara ringan

f.       Bila perlu lakukan palpasi dengan 2 tangan

g.      Perhatikan ekspresi wajah pasien selama dilakukan palpasi untuk mengetahi adanya nyeri tekan

h.      Lakukan palpasi, secara sistematis dan uraikan ciri-ciri tentang ukuran, bentuk, konsistensi dan permukaannya.

3.      Perkusi

Perkusi merupakan penerjemahan dari pembebanan tenaga fisik menjadi suara. Perkusi merupakan keterampilan yang sulit dikuasai tapi dengan perkusi kita dapat memperoleh banyak informasi mengenai proses penyakit dalam dada dan abdomen. Pada prinsipnya perkusi adalah menggetarkan dinding dada atau dinding abdomen dengan cara mengetuk, sehingga akan menghasilkan suara dan suara tersebut merupakan refleksi densitas struktur dibawahnya. Suara yang dihasilkan dari perkusi tersebut antara lain:

Bunyi

Intensitas

Nada

Durasi

Kualitas

Lokasi Umum

 

timpani

keras

tinggi

sedang

Seperti drum

Ruang tertutup berisi udara dalam lambung, pipi yang dikembungkan

resonansi

Sedang-keras

rendah

lama

bergema

Paru normal

hiperresonansi

Sangat keras

Sangat rendah

Lebih lama dari resonansi

nyaring

Paru emfisema

pekak

Lembut sampai sedang

tinggi

sedang

Seperti bergedebuk

hati

flatness

lunak

tinggi

singkat

datar

Otot

 

Langkah kerja perkusi adalah sebagai berikut :

a.       Buka pakaian pasien sesuai yang diperlukan

b.      Luruskan jari tengah tangan kiri, tekan bagian ujung jari dan letakkan dengan kuat pada permukaan yang diperkusi. Upayakan jari-jari yang lain tidak menyentuh permukaan, karena akan mengaburkan suara. Konsistensilah dalam memberikan pada permukaan yang diperkusi

c.       Lenturkan jari tengah tangan kanan ke atas dengan lengan bawah releks. Pertahankan kelenturan tangan pada pergelangan tangan

d.      Gerakan pergelangan tangan dengan cepat, jelas dan relaks serta ketukan ujung jari tengah tangan kanan pada jari tengah tangan kiri. Arahkan pada ujung jari tengah tangan kiri dimana tekanan yang mendesak pada permukaan yang diperkusi paling besar.

e.       Segera angkat jari tengah tangan kanan untuk menghindari vibrasi terendam

f.       Pertahankan gerakan pada pergelangan tangan, tidak pada jari, siku atau pundak.

4.      Auskultasi

Bunyi dapat dihasilkan dari dalam tubuh baik oleh gerakan udara melalui struktur berongga atau oleh tekanan yang diakibatkan gerakan rongga udara atau cairan yang mengakibatkan struktur sulit bergerak. Suara yang dihasilkan didalam tubuh, bila amplitudonya cukup akan menggetarkan seluruh struktur diantara tempat asal suara dan permukaan tubuh. Suara tersebut dapat didengar oleh telinga, namun lebih tepat lagi jika menggunakan bantuan stetoskop. Melalui auskultasi, perawat memperhatikan karakteristik bunyi yaitu :

a.       Frekuensi, atau jumlah siklus gelombang bunyi perdetik yang dihasilkan oleh benda bergetar. Semakin tinggi frekuensinya semakin tnggi nada bunyi dan sebaliknya

b.      Kekerasan atau amplitude gelombang bunyi, bunyi yang terauskultasi digambarkan sebagai keras atau pelan

c.       Kualitas atau bunyi-bunyian dengan frekuensi dan kekerasan yang sama dari sumber yang berbeda. Istilah seperti tiupan atau gemuruh menggambarkan kualitas bunyi

d.      Durasi atau lamanya waktu bunyi itu berlangsung. Durasi bunyi adalah pendek, sedang atau panjang.

Langkah kerja auskultasi adalah sebagai berikut :

a.       Pastikan bahwa area yang akan diauskultasi tidak tertutup baju, selimut dan sebagainya

b.      Gunakan stetoskop untuk membantu melakukan auskultasi

c.       Lakukan auskultasi dengan sistematik

 

D.    Pengkajian Keadaan Umum

1.      Observasi Umum

Inspeksi secara umum dimulai saat pertama kali kontak dengan pasien . dari observasi terhadap pasien, banyak kesan yang dapat muncul. Saat melakukan observasi yang harus diperhatikan pada pemeriksaan awal pasien antara lain :

a.       Postur tubuh, postru tubuh seseorang dapat memberikan informasi yang berharga mengenai penyakit, misalnya : pasien yang mengalami kesulitan bernapas (dispneu) akibat penyakit jantung biasanya lebih suka duduk dan mungkin akan mengeluh sesak bila disuruh barbering walau hanya sebentar saja.

b.      Gerakan tubuh, abnormalitas gerakan tubuh dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

1.      Disrupsi umum gerakan volunteer atau involunter. Misalnya temor yang dapat terjadi pada saat istirahat (Parkinson), saat aktivitas (ataksia serebral) atau saat istirahat maupun aktivitas (delirium lepas alcohol)

2.      Gerakan yang asimetris, dimana hanya salah satu sisi yang bergerak, dapat terlihat pada pasien dengan penyakit system saraf pusat, khususnya penderita stroke.

c.       Nutrisi, status nutrisi penting diperhatikan, hal ini dapat diperhatikan salah satunya dari gambaran tubuh pasien. Apakah pasien tampak obesitas atau kurus

d.      Pola bicara, pelo bias terjadi pada penyakit system saraf pusat atau ketidakmampuan berartikulasi akibat kerusakan nervus kranialis. Misalnya kerusakan saraf laringeus rekurens akan menyebabkan suara serak

2. Kesadaran

Tingkat kesadaran :

a.       Komposmentis : ciri-cirinya adalah sadar sepenuhnya dan dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.

b.      Apatis : ciri-cirinya adalah keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan kehidupan sekitarnya dan sikap acuh tak acuh

c.       Somnolen : ciri-cirinya adalah selalu ingin tidur dan dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri tetapi jatuh tidur lagi

d.      Delirium : ciri-cirinya adalah keadaan kacau yang sangat memberontak, berteriak-teriak, tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu

e.       Spoor/semikoma : ciri-cirinya adalah kesadaran menyerupai koma dan reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsangan nyeri

f.       Koma : ciri-cirinya adalah kesadaran hilang sama sekali dan tidak bias dibangunkan dengan rangsangan apapun

Kesadaran/ ketanggapan dapat diuji dengan menggunakan Skala KOma Glosgow (Glasgow Coma Scale, GCS) khususnya pada pasien yang mengalami cedera berat atau pasien yang diperkirakan akan mengalami penurunan kesadaran dengan cepat. Apabila mendapatkan pasien dengan kondisi ini secara tepat dan tepat harus mengkaji tingkat kesadaran pasien secara teratur. GCS mempunyai 3 parameter yang diobservasi yaitu keadaan mata membuka, respon verbal, dan respon motorikseperti dibawah ini :

Skala Koma Glasgow (GCS)

Parameter

Nilai

Mata :

Membuka mata secara spontan

Terhadap suara

Terhadap nyeri

Tidak berespon

 

4

3

2

1

Respon Verbal

Orientasi baik

Bingung

Kata-kata tidak jelas

Bunyi tidak jelas

Tidak berespon

 

5

4

3

2

1

Respon Motorik/ gerak

Mengikuti perintah

Gerakan local

Fleksi, menarik

Fleksi, abnormal

Ekstensi abnormal

Tidak ada

 

6

5

4

3

2

1

Nilai Maksimal 15, Minimal 3

 

3.      Tanda- tanda Vital

a.       Suhu : 36-37˚ C

Batas normal untuk dewasa :

-          Oral rata-rata : 37˚ C

-          Rectal rata-rata : 37,5 ˚ C

-          Aksila rata-rata : 36,5 ˚ C

b.      Respirasi

Frekuensi pernapasan rata-rata normal

-          BBL : 35-45 x/m

-          Bayi (6 bulan) : 30-50 x/m

-          Toddler (2 tahun) : 25-35 x/m

-          Anak-anak : 20-30 x/m

-          Remaja : 16-19x/m

-          Dewasa : 12-20x/m

c.       Tekanan darah

Tekanan darah normal rata-rata

-          BBL : 40(rerata) mmhg

-          1 bulan : 85/54mmhg

-          1 tahun : 95/65mmhg

-          6 tahun : 105/65mmhg

-          10-13 tahun : 110/65mmhg

-          14-17 tahun : 120/75mmhg

-          Dewasa : 120/80mmhg

-          Lansia : 140/90mmhg

d.      Denyut nadi

Nadi normal

-          Bayi : 120-160 x/m

-          Toodler : 90-140x/m

-          Prasekolah : 80-110x/m

-          Usia sekolah : 75-100x/m

-          Remaja : 60-90 x/m

-          Dewasa : 60-100x/m

e.       Tinggi badan dan Berat Badan

Tinggi badan dan Berat Badan dapat memberikan gambaran tentang kecukupan gizi pada seseorang

E.     Prosedur pemeriksaan Fisik

1.      Persiapan

a.       Alat : meteran, Timbangan BB, Penlight, Stetoskop. Tensimeter/Spighnomanometer. Termometer, Arloji/ stopwatch, reflex hammer, otoskop, handscone bersih (jika perlu), tisu, buku catatan perawat. Alat diletakkan didekat tempat tidur klien yang akan diperiksa

b.      Lingkungan : pastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan. Misalnya menutup pintu/ jendela atau sampiran untuk menjaga privasi klien

c.       Klien (fisik dan fisiologis) : bantu klien mengenakan naju periksa jika ada anjurkan klien untuk rileks.

F.      Pemeriksaan Fisik Head To Toe ( Kepala Sampai Kaki)

Tahap-tahap pemeriksaan fisik dilakukan secara urut dan menyeluruh dan dimulai dari bagian tubuh sebagai berikut :

1.      Kulit, rambut dan kuku

a.       Kulit

Tujuan :

-          Untuk mengetahui turgor kulit dan tekstur kulit

-          Untuk mengetahui adanya lesi atau bekas luka

Tindakan :

-          Inspeksi : lihat ada/tidak adanya lesi, hiperpigmentasi (warna kehitaman/kecoklatan), edema dan distribusi rambut kulit.

-          Palpasi : diraba dan tentukan turgor kulit elastis atau tidak , tekstur (kasar/halus), suhu akral dingin atau hangat

b.      Rambut

Tujuan :

-          Untuk mengetahui warna, tekstur dan percabangan rambut

-          Untuk mengetahui ranbut mudah rontok dan kotor

Tindakan :

-          Inspeksi : distribusi rambut merata atau tidak, kotor atau tidak, bercabang atau todak

-          Palpasi : mudah rontok/tidak, tektur : kasar/halus

c.       Kuku

Tujuan :

-          Untuk mengetahui keadaan kuku : warna dan panjang kuku

-          Untuk mengetahui kapiler refill pada kuku

Tindakan :

-          Inspeksi : catat mengenai warna biru : sianosis, merah: peningkatan visibilitas HB, bentuk : clubbing karena hypoxia pada kanker paru, beau’s lines pada penyakit defisiensi fe(anemia fe).

-          Palpasi : catat adanya nyeri tekan, dan hitung berapa detik kapiler refill ( pada pasien hypoxia lambat s/d 5-15 detik)

2.      Kepala (mata, hidung, telinga dan mulut)

a.       Kepala

Tujuan :

-          Untuk mengetahui bentuk dan fungsi kepala

-          Untuk mengetahui luka dan kelainan pada kepala

Tindakan :

-          Inspeksi : lihat kesimetrisan wajah, jika muka kanan dan kiri berbeda atau misalnya lebih condong ke kanan atau ke kiri itu menunjukkan ada parese/kelumpuhan

-          Palpasi : cari adanya luka, tonjolan patologik dan respon nyeri dengan menekan kepala sesuai kebutuhan

b.      Mata

Tujuan :

-          Untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata (medan penglihatan, visus dan otot-otot mata)

-          Untuk mengetahui adanya kelainan atau peradangan pada mata

Tindakan :

-          Inspeksi : kelopak mata ada radang atau tidak, simetris kanan dan kiri atau tidak, reflex kedip baik/tidak, konjungtiva dan sclera merah/ konjungtivitis, ikterik/indikasi hiperbilirubin gangguan pada hepar, pupil isokor kanan dan kiri (normal), miosis/ mengecil, pin point / sangat kecil (suspek SOL) medriasis/melebar/dilatasi (pada pasien sudah meninggal)

-          Inspeksi gerakan mata :

a.       Anjurkan pasien untuk melihat lururs ke depan

b.      Amati adanya nistagmus/ gerakan mata memandang kedepan atau ada yang deviasi

c.       Beritahu pasien untuk memandang dan mengikuti jari anda dan jaga posisi kepala pasien tetap, lalu gerakkan jari ke 8 arah untuk mengetahui fungsi otot-otot mata

-          Inspeksi medan penglihatan :

a.       Berdirilah didepan pasien

b.      Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan menutup mata yang tidak diperiksa

c.       Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan dan memfokuskan pada satu titik pandang, misalnya pasien disuruh memandang hidung pemeriksa

d.      Kemudian ambil benda/ ballpoint dan dekatkan kedepan hidung pemeriksa kemudian Tarik atau jauhkan kesamping kanan dan kiri pasien, suruh pasien mengatakan kapan dan di titik mana benda mulai tidak terlihat( ingat, pasien tidak boleh melirik untuk hasil akurat)

-          Pemeriksaan visus mata

a.       Siapkan kartu snllen (dewasa huruf dan anak gambar)

b.      Atur kursi pasien dan tentukan jarak antara kursi dan kartu, misalnya 5 meter (sesuai kebijakan masing-masing ada yang 6 dan 7 meter)

c.       Atur penerangan yang memadai agar dapat melihat dengan jelas

d.      Tutup mata yang tidak diperiksa dan bergantian kanan kiri.

e.       Memulai memeriksa dengan menyuruh pasien membaca dari huruf yang terbesar sampai yang terkecil yang dapat dibaca dengan jelas oleh pasien

f.       Catat hasil pemeriksaan dan tentukan hasil pemeriksaan

Missal : hasil visus

-                      OD (Optik Dekstra/kanan) : 5/5 berarti pada jarak 5m, mata masih bias melihat huruf yang seharusnya dapat dilihat / dibaca pada jarak 5m

-                      )S (Optik Sinistra/kiri) : 5/2 berarti pada jarak 5 m mata masih dapat melihat/ membaca yang seharusnya dibaca pada jarak 2m

-          Palpasi : tekan secara ringan untuk mengetahui adanya TIO (Tekanan Intra Okuler) jika ada peningkatan akan teraba keras (pasien glaucoma/ kerusakan dikus optikus), kaji adanya nyeri tekan

c. Hidung

Tujuan :

-          Untuk mengetahui bentuk dan fungsi hidung

-          Untuk mengetahui adanya inflamasi/sinusitis

Tindakan :

-          Inspeksi : apakah hidung simetris, apakah ada inflamasi, apakah ada secret

-          Palpasi : apakah ada nyeri tekan atau tidak da nada massa atau tidak

 

d. Telinga

Tujuan :

-          Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga dan gendang telinga

-          Untuk mengetahui fungsi pendengaran

Tindakan :

a. telinga luar

- Inspeksi : daun telinga simetris atau tidak, warna, ukuran, bentuk, kebersihannya, apakah lesi atau tidak

- Palpasi :tekan daun telinga apakah ada respon nyeri, rasakan kelenturan kartilago

b. telinga dalam

- dewasa : daun telinga ditarik ke atas agar mudah dilihat

- anak : daun telinga ditarik ke bawah

- Inspeksi : telinga dalam menggunakan otoskop perhatikan membrane timpani (warna, bentuk) adanya serumen, peradangan dan benda asing dan darah

Pemeriksaan Pendengaran :

a.       Pemeriksaan dengan bisikan

-          Mengatur pasien berdiri membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 meter

-          Menginstruksikan pada klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa

-          Membisikkan suatu bilangan misalnya 6 atau 5

-          Menyuruh pasien mengulangi apa yang didengar

-          Melakukan pemeriksaan telinga yang satu

-          Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri

b.      Pemeriksaan dengan arloji

-          Mengatur suasana tenang

-          Pegang sebuah arloji disamping telinga klien

-          Menyuruh klien menyatakan apakah mendengar suara detak arloji

-          Memindahkan arloji secara perlahan-lahan menjauhi telinga dan suruh pasien menyatakan tak mendengar lagi

-          Normalnya pada jarak 30 cm masih dapat didengar

3.      Leher meliputi mulut dan faring

a.       Mulut dan faring

Tujuan :

-          Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut

-          Untuk mengetahui kebersihan mulut

Tindakan :

-          Inspeksi :

a.       Amati bibir apa ada kelainan kongenital ( bibir sumbing), warna kesimetrisan. Kelembapan, pembengkakan, lesi.

b.      Amati jumlah dan bentuk gigi, gigi berlubang. Warna, plak, dan kebersihan gigi

-          Inspeksi mulut dalam dan faring

a.       Menyuruh pasien membuka mulut, amati mukosa : tekstur. Warna, kelembapan  dan adanya lesi

b.      Amati lidah tekstur, warna, kelembapan, lesi

c.       Untuk melihat faring gunakan tongstapel yang sudah dibungkus kassa steril, kemudian minta klien menjulurkan lidah dan berkata “AH” amati ovula /epiglottis simetris tidak terhadap faring, amati tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel)

-          Palpasi

a.       Pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/ tumor, pembengkakan dan nyeri

b.      Lakukan palpasi dasar mulut dengan menggunakan jari telunjuk dengan memakai handscone, kemudian suruh pasien mengatakan kata “EL” sambil menjulurkan lidah, pegang ujung lidah dengan kassa dan tekan lidah dengan jari telunjuk, posisi ibu jari menahan dagu. Catat apakah ada respon nyeri pada tindakan tersebut

b.  Leher

Tujuan :

-          Untuk menentukan struktur integritas leher

-          Untuk mengetahui bentuk leher dan organ yang berkaitan

-          Untuk memeriksa system limfatik

Tindakan :

a.       Inspeksi

-          Amati mengenai bentuk, warna kulit, jaringan parut

-          Amati adanya pembengkakkan kelenjar tiroid/ gondok, dan adanya massa

-          Amati kesimetrisan leher dari depan, belakang dan samping kanan dan kiri

-          Mintalah pasien untuk menggerakkan leher (fleksi-ekstensi kanan dan kiri) dan merotasi

-          Amati apakah bias dengan mudah dan apa respon nyeri

b.      Palpasi

-          Letakkan kedua telapak tangan pada leher klien, suruh pasien menelan dan rasakan adanya kelenjar tiroid (kaji ukuran, bentuk, permukaannya)

-          Apakah kedudukan trachea simetris atau tidak

4.      Dada atau thorax meliputi paru/pulmonalis dan jantung

a.       Paru / pulmonalis

Tujuan :

-          Untuk mengetahui bentuk, kesimetrisan, ekspansi paru

-          Untuk mengetahui frekuensi, irama pernapasan

-          Untuk mengetahui adanya myeri tekan, adanya massa, peradangan, edema taktil fremitus

-          Untuk mengetahui batas paru / adanya sumbatan aliran udara

Tindakan :

-          Inspeksi :

1.      Amati kesimetrisan dada kanan dan kiri, amati adanya retraksi interkosta amati gerakan paru

2.      Amati klavikula dan scapula simetris atau tidak

-          Palpasi ekspansi paru :

1.      Berdiri didepan klien dan taruh kedua telapak tangan pemeriksa didada dibawah papilla, anjurkan pasien menarik napas dalam, rasakan apakah sama antara paru kanan dan kiri

2.      Berdiri dibelakang pasien, taruh telapak tangan pada garis bawah scapula/ setinggi costa ke 10, ibu jari kanan dan kiri didekatkan jangan sampai menempel, dan jari-jari diregangkan lebih kurang 5 cm dari ibu jari. Suruh pasien kembali menarik napas dalam dan amati gerakkan ibu jari kanan dan kiri sma atau tidak

-          Palpasi taktil V remitus Posterior dan Anterior

1.      Meletakkan telapak tangan kanan dibelakang dada tepat pada apex paru/ setinggi supra scapula (posisi posterior).

2.      Menginstruksikan pasien untuk mengucapkan kata “Sembilan-sembilan atau tujuh-tujuh” (nada rendah)

3.      Minta klien untuk mengulangi mengucapkan kata tersebut, sambil pemeriksa menggerakkan ke posisi kanan dan kiri kemudian kebawah sampai pada basal paru atau setinggi vertebra thorakal ke 12

4.      Bandingkan fremitus pada kedua sisi paru

5.      Bila fremitus redup minta pasien bicara lebih rendah

6.      Ulani / lakukan pada dada anterior

-          Perkusi /Pe

1.      Atur posisi dengan posisi supinasi

2.      Untuk perkusi anterior dimulai batas clavikula lalu kebawah sampai intercostal 5 tentukan batas paru kanan dan kiri (bunyi paru normal : sonor seluruh lapang paru, batas paru hepar dan jantung: redup)

3.      Jika ada edema paru dan efusi pleura suara meredup

-          Auskultasi /Aus

1.      Gunakan diafragma stetoskop untuk dewasa dan bell pada anak

2.      Letakkan stetoskop pada interkostalis, menginstruksikan pasien untuk napas pelan kemudian dalam dan mendengarkan bunyi napas : vesikel/ wheezing/ creckels.

b.      Jantung/Cordis

-          Inspeksi

1.      Amati denyut apek jantung pada area midsternu lebih kurang 2 cm disamping bawah xifoideus

-          Palpasi

1.      Merasakan adanya pulsasi

2.      Palpasi spasium interkostalis ke 2 kanan untuk menentukan area aorta dan spasium interkosta ke 2 kiri letak pulmonal kiri

3.      Palpasi spasium interkostalis ke 5 untuk mengetahui area trikuspidalis/ventrikuler amati adanya pulsasi

4.      Dari interkosta ke 5 pindah tangan secara lateral 5-7 cm ke garis midklavikula kiri dimana akan ditemukan daerah apical jantung atau PMI (Point of Maximal Impuls) temukan pulsasi kuat pada area ini

5.      Untuk mengetahui pulsasi aorta palpasi pada area epigastika atau dibawah sternum

-          Perkusi

1.      Perkusi dari arah lateral ke medial untuk menentukan batas jantung bagian kiri

2.      Lakukan perkusi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui batas jantung kanan

3.      Lakukan dari atas ke bawah untuk mengetahui batas atas dan bawah jantung

4.      Bunyi redup menunjukkan organ jantung ada pada daerah perkusi

-          Auskultasi

1.      Menganjurkan pasien bernapas normal dan menahannya saat ekspirasi selesai

2.      Dengarkan suara jantung dengan meletakkan stetoskop pada interkostalis ke 5 sambil menekan arteri karotis

- bunyi S1 : dengarkan suara “LUB” yaitu bunyi dari menutupnya katup mitral (biskuspidalis) dan trikuspidalis pada waktu sistolik

- bunyi S2 : dengarkan suara “DUB” yaitu bunyi menutupnya katub semilunaris (aorta dan pulmunalis) pada saat distolik

- bunyi S3 : gagal jantung “ LUB-DUB-CEE…” S4 : pada pasien hipertensi “DEE…-LUB-DUB”.

5. Abdomen : pemeriksaan Dangkal dan Dalam

Tujuan :

a.       Untuk mengetahui bentuk dan gerak-gerakan perut

b.      Untuk mendengarkan bunyi peristaltic usus

c.       Untuk mengetahui respon nyeri tekan pada organ dalam abdomen

Tindakan :

a.       Inspeksi :

-          Amati bentuk perut secara umum, warna kulit, adanya retraksi, penonjolan, adanya ketidaksimetrisan, adanya asites

b.      Auskultasi

-          Untuk mendengarkan 2 suara abdomen yaitu bising usus (peristaltic) yang disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan sepanjang intestinum dan suara pembuluh darah

-          Untuk mendeteksi fungsi pencernaan pasien setelah menjalani operasi

c.       Perkusi

-          Untuk mendengarkan atau mendeteksi adanya gas, cairan atau massa didalam abdomen

-          Untuk mengetahui fungsi limpa dan hepar

-          Bunyi perkusi pada abdomen yang normal adalah timpani

d.      Palpasi

-          Palpasi ringan : untuk mengetahui adanya massa dan respon nyeri tekan letakkan telapak tangan pada abdomen secara berhimpitan dan tekan secara merata sesuai kuadran

-          Palpasi dalam : untuk mengetahui posisi organ dalam seperti hepar, ginjal, limpa dengan metode bimanual ½ tangan

-          Palpasi hepar : palpasi hepar dapat dilakukan secara bimanual , terutama untuk mengetahui adanya pembesaran

a.       Letakkan tangan pemeriksa dengan posisi ujung jari ke atas pada bagian hipokondria kanan kira-kira pada interkosta ke 11-12

b.      Tekan saat pasien inhalasi kira-kira sedalam 4-5 cm, rasakan adanya organ hepar . kaji hepatomegaly

-          Palpasi limpa : Limpa tidak teraba pada orang dewasa yang normal. Palpasi limpa dikerjakan dengan menggunakan pola seperti pada palpasi hepar.

a.       Anjurkan pasien miring kanan dan letakkan tangan pada bawah interkosta kiri dan minta pasien mengambil napas dalam kemudian tekan saat inhalasi tentukan adanya limpa

b.      Pada orang dewasa normal tidak teraba

-          Palpasi renalis, secara otomatis, lobus atas kedua ginjal menyentuh diafragma dan ginjal turun secara inhalasi. Ginjal kanan normalnya lebih mudah dipalpasi daripada ginjal kiri karena ginjal kanan terletak lebih rendah daripada ginjal kiri

a.       Untuk palpasi ginjal kanan letakkan tangan pada atas dan bawah perut setinggi lumbal 3-4 dibawah kosta kanan

b.      Untuk palpasi ginjal kiri letakkan tangan setinggi lumbal 1-2 dibawah kosta kiri

c.       Tekan sedalam 4-5 cm setelah pasien inhalasi jika teraba adanya ginjal rasakan bentuk, kontur, ukuran dan respon nyeri.

5.      Genitalia

Tujuan :

-          Untuk mengetahui adanya lesi

-          Untuk mengetahui adanya infeksi (gonorea, shipilis, dan lainnya)

-          Untuk mengetahui kebersihan genitalia

Tindakan :

a.       Genitalia laki-laki

-          Inspeksi

a.       Amati penis mengenai kulit, ukuran dan kelainan lain

b.      Pada penis yang tidak disirkumsisi buka prepusium dan amati kepala penis adanya lesi

c.       Amati skrotum apakah ada hernia inginalis, amati bentuk dan ukuran

-          Palpasi

a.       Tekan dengan lembut batang penis untuk mengetahui adanya nyeri

b.      Tekan saluran sperma dengan jari dan ibu jari

b. Genitalia wanita

- inspeksi

a. inspeksi kuantitas dan penyebaran pubis merata atau tidak

b. amati adanya lesi, eritema, keputihan/ candidiasis

palpasi : Tarik lembut labia mayora dengan jari-jari oleh satu tangan untuk mengetahui keadan klitoris, selaput dara, orifisium dan perineum

7. Rektum dan Anal

Tujuan :

a.       Untuk mengetahui kondisi rectum dan anus

b.      Untuk mengetahui adanya massa pada rektal

c.       Untuk mengetahui adanya pelebaran vena pada rektal/hemoroid

Tindakan : posisi pria sims/ berdiri setengah membungkuk, wanita dengan posisi litotomi/ terlentang kaki diangkat dan ditopang

Inspeksi : jaringan perineal dan jaringan sekitarnya kaji adanya lesi dan ulkus

Palpasi : oleskan zat pelumas dan masukkan jari-jari ke rektal dan rasakan adanya nodul dan adanya pelebaran vena pada rectum

EVALUASI :

1.      Sebutkan dan jelaskan proses pemeriksaan fisik!

2.      Bagaimana langkah kerja palpasi pada klien !

3.      Sebutkan suara yang dihasilkan dari perkusi!

4.      Bagainana langkah mengkaji keadaan umum pasien saat observasi pertama kali!

5.      Sebutkan dan jelaskan tingkat kesadaran!

6.      Jelaskan pemeriksaan fisik pada bagian kulit, rambut dan kuku!

7.      Sebutkan tujuan pemeriksaan fisik pada kepala, mata dan hidung!

8.      Jelaskan bagaimana tindakan inspeksi pada bagian leher

9.      Sebutkan tujuan pemeriksaan pada paru

10.  Jelaskan urutan tindakan pemeriksaan fisik pada abdomen!


G.  Pemeriksaan Fisik pada bayi

Penilaian dilakukan dengan 3 aspek :

-          Antopometri yaitu ukuran-ukuran tubuh

-          System organ tubuh yaitu dengan melihat kesempurnaan bentuk tubuh

-          Neurologik yaitu perkembangan organ syaraf , Tehnik pemeriksaan yang dilakukan secara komprehensif :

·         Inspeksi

·         Palpasi

·         Auskultasi

·         Perkusi

Pengkajian pada bayi baru lahir yang dilakukan segera setelah lahir yaitu untuk mengkaji penyesuaian bayi dari kehidupan intrauterin ke. Ekstrauterin.

Pemeriksaan fisik bayi baru lahir yang lengkap terdiri dari tiga bagian

1.        Riwayat bayi baru lahir

2.        Pengkajian usia kehamilan dan

3.        Pemeriksaan fisik

-          Riwayat bayi baru lahir dikumpulkan dengan tinjauan dan wawancara dengan ibu dan jika mungkin ayah bayi baru lahir.area persoalan termasuk faktor lingkungan, genetik, sosial, medis maternal, perinatal dan neonatus.

-          Pengkajian usia kehamilan meliputi skala untuk pengkajian usia gestasi dan aplikasi pengkajian usia gestasi

-          Pemeriksaan fisik bayi baru lahir dilakukan dengan melakukan pengukuran antropometri, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan sistem organ dari kepala hingga kaki.

Tujuan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir adalah

1.        Untuk menentukan status kesehatan klien

2.        Mengidentifikasi masalah

3.        Mengambil data dasar untuk menentukan rencana asuhan

4.        Untuk mengenal dan menemukan kelainan yang perlu mendapat tindakan segera

5.        Untuk menentukan data objektif dari riwayat keperawatan klien.

 

Penampilan dan perilaku bayi baru lahir

1.        Periode pertama reaktifitas

Periode ini berakhir 30 menit setelah kelahiran. Karakteristik :

-          TTV, nadi cepat tidak teratur, pernapasan hingga 80x/i, ekspirasi mendengkur

-          Fluktuasi warna merah jambu pucat ke sianosis

-          Bising usus tidak ada

-          Menangis dan refleks isap kuat

 

Perawatan :

-          Kaji TTV per 30 mnt selama 4 jam

-          Jaga kehangatan

-          Skin to skin

-          Tunda profilaksis mata untuk interaksi orang tua-bayi

2.        Fase tidur

Waktu : 30 mnt sampai 2-4 jam Karakteristik :

-          Fase tidur, frekuensi jantung dan pernapasan menurun

-          Warna kulit stabil

-          Bising usus bisa di dengar

3.        Periode kedua reaktifitas Waktu : berakhir sekitar 4-6 jam Karakteristik :

-          Frekuensi jantung 120-160x/i, RR 30-60x/i, nafas tidak cuping hidung ataupun retraksi

-         


Bayi kerp berkemih dan mengeluarkan mekonium

1.        Meja periksa

2.        Celemek

3.        Lampu sorot

4.        Stetoskope

5.        Jam tangan

6.        Timbangan bayi

7.        Alat ukur panjang

8.        Bak instrumen

9.        Handskon 1 pasang

10.     Meteran/ pita sentimeter

11.     Selimut bayi

12.     Pakaian bayi

13.     Kom bertutup yang berisi kapas DTT

14.     Termometer anal

15.     Tiga kom berisi: Klorin 0,5%, air sabun, air deterjen masing-masing berisi 200cc

16.     Baskom berisi air klorin 0,5%

17.     Lampu sorot

18.     Nierbeken/ bengkok

19.     Alat tulis

20.     Gelang identitas


1.        Melakukan informed consent pada ibu atau keluarga bayi

2.        Memakai celemek untuk perlindungan diri

3.        Mencuci tangan dengan sabun dan air DTT

4.        MENGAMATI DAN MENILAI KEADAAN BAYI, meliputi:

 

a.     Pernafasan

b.     Warna kulit

c.     Tangis bayi

d.     Tonus otot dan tingkat aktivitas

e.     Ukuran keseluruhan

 

5.     MEMERIKSA TANDA-TANDA VITAL BAYI, yaitu:

 

a.     Menghitung jumlah pernafasan (inspirasi yang diikuti ekspirasi) dalam 1 menit lalu dicatat

b.     Menghitung laju jantung dengan menggunakan stetoskope tepat diatas jantung bayi selama 1 menit

c.     Memeriksa suhu bayi, letakkan termometer pada aksila bayi tunggu selama 5-10 menit

d.     Perhatikan air raksa pada skala berapa dan catat hasilnya.

 

6.       


MENIMBANG BERAT BADAN

 

a.        Skala timbangan bayi tepat pada angka 0

b.        Letakkan bayi diatas timbangan dan lihat skalanya berapa, dan catat hasilnya

c.        Rapikan dan bersihkan alat yang telah digunakan

 

7.    MENGUKUR TINGGI / PANJANG

a.        Persiapkan meja datar

b.        Letakkan bayi dalam posisi ekstensi

c.        Letakkan bayi pada garis tengah alat ukur (bila alat ukur tidak ada pakai meteran dan letakka meteran tepat ditengah)

d.        Luruskan lutut bayi secara lembut

e.        Dorong sehingga kaki ekstensi penuh dan mendatar pada meja datar yang berukuran

f.         Lihat berapa panjang atau tinggi bayi dengan melihat angka pada tumit kaki bayi

g.         catat hasilnya

8.   PERIKSA KEADAAN KEPALA BAYI

a.        Periksa ubun-ubun, moulase, adanya benjolan dan daerah yang mencekung.

 

-          Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Fontanel yang besar terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus sedangkan terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol diakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sedangkan yang cekung akibat dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi 21

-          Perhatikan adanya kelainan congenital seperti mis: anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.

-          Periksa adanya trauma kelahiran misalnya : caput suksedanum, cepal hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak.

 

 

 

b.        Ukur lingkar kepala bayi dengan melingkarkan  pita pengukur mulai dari pertengahan frontalis hingga ketulang atas telinga, oksipitalis atau belakang kepala hingga kembali ke forntalis , lihat dan catat hasil.

 

9.            PERIKSA KEADAAN

-          Tataplah mata bayi, bayangkan sebuah garis lurus melintas dikedua mata si bayi secara vertikal untuk mengetahui bayi mengalami Syndrom Down. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (pierre-robin)

-          Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel. Hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal

10.     PERIKSA KEADAAN MATA BAYI

 

-       Periksa jumlah, posisi atau letak mata

-       Periksa kedua mata bayi apakah normal dan bergerak ke arah yang sama

-       Tanda-tanda infeksi misalnya : pus

-       Periksa adanya strabismus atau koordinasi mata yang belum sempurna

-       Periksa adanya glaucoma congenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea

-       Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadabg ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina

-       Periksa adanya trauma seperti pada palpebra, perdarahan konjunctiva atau retina

-       Periksa adanya secret pada mata, konjuntivis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan

-       Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down

-       Sentuh bulu mata untuk mengetahui Refleks Labirin

 

11.    


PERIKSA KEADAAN HIDUNG DAN MULUT BAYI

 

-   Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih 2,5 cm.

-  Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring

-  Periksa adanya secret yang mukopuluren yang terkadang berdarah, hal ini kemungkinan adanya sifilis congenital

-  Periksa adanya pernapasan cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan

-   Periksa bibir bayi apakah ada sumbing/kelainan

-   Refleks menghisap bayi (Sucking Refleks)

-  Rooting Refleks dinilai dengan menekan pipi sibayi maka bayi akan mengarahkan kepalanya kearah jari anda atau pada saat sibayi menyusui dan dapat menilai Refleks menelan bayi (Swalowing Refleks)

12.     PERIKSA KEADAAN LEHER BAYI

 

-        Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher

-        Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis

-        Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan. Periksa adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis

-        Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi 21

13.     PERIKSA KEADAAN DADA BAYI

 

-       Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernafas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis diafragma atau hernia diafragmatika. Pernapasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan

-       Pada bayi cukup bulan, putting susu sudah terbentuk dengan baik dan tampak simetris

-       Payudara dapat tampak membesar tetapi ini normal

-       Dengarkan bunyi jantung dan pernafasan menggunakan stetoskop Ukur dada dengan pita cm. ukuran normal <1-2 cm dari ukuran kepala

14.     PERIKSA KEADAAN BAHU, LENGAN DAN TANGAN BAYI

-            Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke bawah

-            Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur

-            Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili

-           Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom seperti trisomy 21

-            Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan

15.     PERIKSA KEADAAN SISTEM SARAF BAYI

Adanya refleks morro

Lakukan rangsangan dengan suara keras, yaitu pemeriksa bertepuk tangan

16.     PERIKSA KEADAAN ABDOMEN BAYI

 

-          Abdomen harus tampak bulat dan bergerak secra bersamaan dengan gerakan dada saat bernapas. Kaji adanya pembengkakan (palpasi)

-          Jika perut sampai cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika

-          Abdomen yang membuncit kemungkinan karena hepatosplenomegali atau tumor lainnya

-          Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau ductus omfaloentriskus persisten (kaji dengan palpasi)

Periksa keadaan tali pusat, kaji adanya tanda-tanda infeksi (kulit sekitar memerah, tali pusat berbau)

17.     PERIKSA KEADAAN GENETALIA DAN ANUS BAYI

 

-       Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm. periksa posisi lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis.

-       Periksa adanya hipospadia dan epispadia

-       Skortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua

-       Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minora

-       Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina

Terkadang tampak adanya sekrat yang berdarah dar vagina. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormone ibu (withdrawlbedding).

18.    


PERIKSA KEADAAN TUNGKAI DAN KAKI BAYI

 

-       Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan

-       Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas. Kurangnya gerakan berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan neurologis

-       Periksa adanya polidaktili atau sidaktili pada jari kaki

Gerakan dan jumlah jari untuk menilai Refleks Babynsky dan Walking

19.     PERIKSA KEADAAN ANUS BAYI

 

-       Periksa adanya kelainan atresia ani (pemerikasaaan dapat dengan memasukkan thermometer rectal kedalam anus), kaji posisinya

Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama.jika sampai 48 jam belum keluar kemungkian adanya mekonium plug syndrome, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan

20.    


PERIKSA KEADAAN PUNGGUNG BAYI

 

Balikkan badan bayi dan lihat punggungnya, jalankan jari jemari anda untuk menelusuri punggung bayi untuk merasakan benjolan pada tulang punggungnya.

21.     PERIKSA KEADAAN KULIT BAYI

a.        Verniks (Tidak perlu dibersihkan untuk menjaga kehangatan tubuh bayi)

b.        Warna kulit

c.        Pembengkakan atau bercak-bercak

Amati tanda lahir bayi, Mongolord (hitam hijau) dan Salmon (Merah)

22.       Mencatat seluruh hasil pemeriksaan dan laporkan setiap kali ada kelainan yang anda temukan pada saat pemeriksaan

-       Membereskan alat dan mencuci tangan

 

Jawablah pertanyaan berikut secara singkat dan jelas:

1.          Bayi lahir 2 jam yang lalu di BPM dengan spontan. Hasil pemeriksaan fisik normal, cacat (-), reflex positif, suhu 370C, BB 2800 gr, PB 48 cm. Berapakah batasan normal berat badan bayi ?

a.     2500 gr-3000 gr

b.    2500 gr-3500 gr

c.     2500 gr-4000 gr

d.    2500 gr-4200 gr

e.     2500 gr-4500 gr

1.          Seorang bayi rewel tidak mau menyusu dan sering gumoh. BB : 3000 gr dan PB : 49 cm, TTV dalam batas normal dan terdapat celah pada bibir. Diagnosa apakah yang paling tepat untukkasus di atas adalah

a.          Hisprung

b.          Atresia Ani

c.          Labioskizis

d.          Atresia Duodenum

e.      Palatoskizis

2.          Seorang bayi laki- laki lahir di BPM BB : 3000 gr, ibunya mengatakan bayinya tidak mau menyu sesak nafas dan kulit berwarna kebiruan pada saat diberi ASI, hasil pemeriksaan fisik warna kulit berubah sianosis, TTV dalam batas normal. Apakah diagnosa pada kasus tersebut ?

 

a.      Atresia Ani

b.     Atresia Esophagus

c.      Asfiksia

d.     Labioskizis

e.      Palatoskizis

 

3.        Seorang bidan melakukan pemeriksaan bayi baru lahir di BPM. Dari hasil pemeriksaan didapatkan sutura tengkorak bayi yang belum menutup, TTV dalam batas normal, sklera tampak diatas iris, bola mata terdorong kebawah, ukuran lingkar kepala 40 cm. apakah kemungkinan diagnosis dari kasus diatas adalah ?

 

a.     Caput suksadenum                                       d. Ancefalokel

b.     Cepal hematom                                             e. Hipospadia

c.     Hidrocefalus

4.     Seorang bayi perempuan lahir normal di BPS. Usia kehamilan ibunya 38 minggu, segera menangis, bergerak aktif dan kulit kemerahan. Bayi segera dikeringkan dan diletakkan di atas perut dan dada ibu untuk IMD. apakah fase yang dialami bayi tersebut

a.     Fase transisi

b.     Fase tidur

c.     Fase bangun

d.     Fase reaktif pertama

e.     Fase reaktif kedua


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD PKK 1 ( Pemenuhan Kebutuhan Dasar Bayi 0-6 Hari)

LKPD PKK 1 (Konsep Dasar Home Care)

Imunisasi Dasar Balita