Hospitalisasi Pada Anak
Hospitalisasi
Pada Anak
A.
TUJUAN
PEMBELAJARAN
a.
Umum
Setelah mempelajari materi Topik ini,
Anda diharapkan mampu memahami tentang Hospitalisasi pada anak
b.
Khusus
Setelah selesai mempelajari materi
ini, Anda diharapkan mampu:
a. Menjelaskan
pengertian hospitalisasi.
b. Menjelaskan
stressor umum pada hospitalisasi
c. Menjelaskan
factor-faktor yang mempengaruhi hospitalisasi pada anak.
d. Menjelaskan
pendekatan yang digunakan dalam hospitalisasi
e. Menjelaskan
reaksi anak terhadap hospitalisasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak
f. Menjelaskan
intervensi keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi pada anak
g. Menjelaskan
manajemen asuhan keperawatan anak dengan hospitalisasi
c.
POKOK-POKOK
MATERI
Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan
diatas, maka pokok-pokok materi yang akan dibahas dalam Topik ini adalah:
a. pengertian
hospitalisasi.
b. stressor
umum pada hospitalisasi
c. factor-faktor
yang mempengaruhi hospitalisasi pada anak.
d. pendekatan
yang digunakan dalam hospitalisasi
e. reaksi
anak terhadap hospitalisasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak
f. intervensi
keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi pada anak
g. manajemen
asuhan keperawatan anak dengan hospitalisasi
d.
URAIAN
MATERI
1. Pengertian
Hospitalisasi
Anak membutuhkan perawatan yang
kompeten untuk meminimalisasi efek negative dari hospitalisasi dan
mengembangkan efek yang positif. Dalam membuat rencana asuhan keperawatan,
harus berdasarkan pemahaman tentang pertumbuhan dan perkembangan. Hospitalisasi
merupakan suatu proses yang memiliki alas an yang berencana/ darurat sehingga
mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua
dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan
dengan pengalaman yang sangat traumatic dan penuh dengan stress. Perasaan yang
sering muncul yaitu: cemas, marah, sedih, takut, dan rasa bersalah (Wong,2000).
Perawatan anak di RS memaksa anak
untuk berpisah dari lingkungan yang dirasanya aman, penuh kasih saying dan menyenangkan, yaitu lingkungan rumah,
permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan yang
ditunjukkan anak usia pra sekolah adalah dengan menolak makan, sering bertanya,
menangis walaupun perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.
Perawatan di RS mengharuskan adanya pembatasan aktivitas anak sehingga anak
merasa kehilangan kekuatan diri, perawatan di RS sering kali dipersepsikan anak
prasekolah sebagai hukuman sehingga anak merasa malu, bersalah, atau takut. Hal
ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal
dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat dan
ketergantungan pada orang tua (Desidel dkk,2011).
2. Stressor
umum pada Hospitalisasi
1.
Perpisahan
2.
Kehilangan
kendali
3.
Perubahan
gambaran diri (citra tubuh)
4.
Nyeri
dan rasa takut
3. Factor-faktor
yang mempengaruhi Hospitalisasi pada anak
1.
Berpisah
dengan orang tua dan sparing
2.
Fantasi-fantasi
dan unrealistic anxieties tentang kegelapan monster, pembunuhan, dan binatang
buas, diawali dengan yang asing.
3.
Gangguan
kontak social jika pengunjung tidak diizinkan
4.
Nyeri
dan komplikasi akibat pembedahan atau penyakit
5.
Prosedur
yang menyakitkan dan takut akan cacat dan kematian
4. Pendekatan
yang digunakan dalam hospitalisasi anak
1.
Pendekatan empiric
Pendekatan empiric
dilakukan dengan menanamkan kesadaran diri terhadap para personil yang terlibat
dalam hospitalisasi. Metode pendekatan empiric menggunakan strategi, yaitu :
a.
Melalui
dunia pendidikan yang ditanamkan secara dini kepada peserta didik
b.
Melalui
penyuluhan atau sosialisasi yamg diharapkan meningkatnya kesadaran diri mereka
sendiri dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.
2.
Pendekatan
melalui metode permainan
Metode permainan merupakan cara
alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konfliks dalam dirinya yang tidak
disadari. Kegiatan yang dilakukan sesuai keinginan sendiri untuk memperoleh
kesenangan. Bermain merupakan kegiatan menyenangkan( yang dinimmati anak),
berupa kegiatan fisik, intelektual, emosi, social sekaligus untuk belajar dan
perkembangan mental.
Tujuan bermain di RS adalah
adalah untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rwat dan
untuk mengungkapkan pikiran, perasaan serta fantasinya melalui permainan.
Prinsip bermain di RS adalah
sebagai berikit :
a.
Tidak
membutuhkan banyak energy
b.
Waktunya
singkat
c.
Mudah
dilakukan
d.
Aman
e.
Kelompok
usia
f.
Idak
bertentangan dengan terapi
g.
Melibatkan
keluarga
5. Reaksi
Hospitalisasi pada anak sesuai usia
5.1
Reaksi Hospitalisasi pada anak
usia 0-12 bulan
1.
Reaksi anak usia bayi terhadap
hsopitalisasi
Masalahnya yang utama adalah
dampak dari perpisahan dengan orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa
percaya dan kasih saying. Pada anak usia lebih dari 6 bulan terjadi stanger anxiety(cemas
apabila berhadapan dengan orang tua yang tidak dikenalnya) dan cemas karena
perpisahan. Respon yang paling sering muncul pada anak ini adalah menangis,
marah dan banyak melakukan gerakan sikap terhadap stanger anxiety.
2.
Reaksi orang tua terhadap
hospitalisasi anak
Reaksi orang tua terhadap
perawatan anak dirs. Dan latar belakang yang menyebabkan dapat diuraikan sbb :
a.
Perasaan
cemas dan takut : perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anak
menjalani prosedur yang menyakitkan, seperti pengambilan darah, infus, injeksi
dan prosedur invasive lainnya.
b.
Perasaan
sedih : perasaan ini muncul terutama pada saat anak dalam kondisi terminal dan
orang tua mengetahui bahwa tidak ada lagi harapan anaknya untuk sembuh.
c.
Perasaan
frustasi : pada kondisi anak yang telah dirawat cukup lama dan dirasakan tidak
mengalami perubahan serta tidak kuatnya dukungan psikologis yang diterima
orangtua baik dari keluarga maupun kerabat lainnya.
5.2
Reaksi Hospitalisasi pada usia
toddler
Sebagian besar stess yang terjadi
pada anak usia pertengahan sampai anak periode prasekolah khusunya anak yang
berumur 6-30 bulan adalah cemas karena perpisahan. Balita belum mampu
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan memiliki pengertian
yang terbatas terhadap realita. Hubungan anak dengan ibu adalah sangat dekat,
apabila perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan pada anak akan
orang yang terdekat dirinya dan akan lingkungan yang dikenal olehnya, sehingga
pada akhirnya akan menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa cemas(Nursalam,
2005).
Respon perilaku anak akibat
perpisahan dibagi dalam 3 tahap, yaitu :
a.
Tahap
protes (phase of Protest)
Pada tahap ini dimanifestasikan
dengan menangis kuat, menjerit, dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah
laku agresif, seperti menendang, menggigit, memukul, mencubit, mencoba untuk
membuat orangtuanya tetap tinggal, dan menolak perhatian orang lain. Secara
verbal anak menyerang dengan rasa marah, seperti mengatakan pergi. Perilaku
tersebut dapat berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Perilaku
protes tersebut, seperti menangis akan terus berkanjut dan hanya akan berhenti
bila anak merasa kelelahan. Pendekatan dengan orang asing yang tergesa-gesa
akan meningkatkan protes.
b.
Tahap
putus asa (Phase of Despair)
Pada tahap ini, anak tampak
tegang, tangisnya berkurang, tidak aktif kurang berminat untuk bermain, tidak
ada nafsu makan, menarik diri, tidak mau berkomunikasi, sedih, apatis dan
regresi (misalnya : mengompol atau mengisap jari). Pada tahap ini, kondisi anak
mengkhawatirkan karena anak menolak untuk makan. Minum, bergerak.
c.
Tahap
menolak (Phase of Denial)
Pada tahap ini, secara
samar-samar anak menerima perpisahan, mulai tertarik dengan apa yang ada di
sekitanya, dan membina hubungan dangkal dengan orang lain. Anak mulai kelihatan
gembira. Fase ini biasanya terjadi setelah perpisahan yang lama dengan
orangtua.
Reaksi keluarga terhadap anak
yang sakit dan dirawat di RS adalah :
a.
Reaksi
orang tua
Reaksi orangtua terhadap anaknya
yang sakit dan dirawat di RS dipengaruhi oleh berbagai macam factor berikut :
1.
Tingkat
keseriusan penyakit anak
2.
Pengalaman
sebelumnya terhadap sakit dan dirawat di RS
3.
Prosedur
pengobatan
4.
System
pendukung yang tersedia
5.
Kekuatan
ego individu
6.
Kemampuan
dalam pengunaan koping
7.
Dukungan
dari keluarga
8.
Kebudayaan
dan kepercayaan
9.
Komunikasi
dalam keluarga
Reaksi
orangtua terhadap anaknya yang sakit dan dirawat di RS :
1.
Penolakan
atau ketidakpercayaan
Yaitu
menolak atau tidak percaya. Hal ini terjadi terutama bila anak tiba-tiba sakit
dan serius.
2.
Marah
dan merasa bersalah atau keduanya
Setelah
mengetahui anaknya sakit, maka reaksi orang tua adlah marah dan menyalahkan
dirinya sendiri. Mereka merasa tidak merawat anaknya dengan benar. Mereka
mengingat-ingat kembali tentang hal-hal yang telah mereka lakukan dan
kemungkinan dapat mencegah anaknya agar tidak menjadi sakit atau mengingat
kembali tentang hal-hal yang menyebabkan anaknya sakit. Jika anaknya dirawat di
RS orang tua menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menolong mengurangi
rasa sakit yang dialami oleh anaknya.
3.
Ketakutan,
cemas dan frustasi
Ketakutan
dan kecemasan dihubungkan dengan tingkat keseriusan penyakit dan jenis proseudr
medis. Frustrasi dihubungkan dengan kurangnya informasi terhadap prosedur dan
pengobatan serta tidak familiar dengan peraturan RS.
4.
Depresi
Biasanya
depresi ini terjadi setelah masa krisis anak berlalu. Ibu sering mengeluh
merasa lelah, baik secara fisik mapun mental. Orang tua mulai merasa khawatir
terhadap anak-anak mereka yang lain, yang dirawat oleh anggota keluarga yang
lain, teman atau tetangga. Hal-hal lain yang membuat orangtua cemas dan depresi
adalah mengenai kesehatan anaknya dimasa-masa yang akan dating, misalnya efek
dari prosedur pengobatan dan biaya pengobatan.
Reaksi
saudara kandung (sibling) terhadap saudaranya yang sakit dan dirawat di RS
adalah kesepian, ketakutan, khawatir, marah, cemburu, benci dan merasa
bersalah. Orangtua seringkali mencurahkan perhatiannya lebih besar terhadap
anak yang sakit dibandingkan dengan ana yang sehat. Hal ini akan menimbulkan
perasaan cemburu pada anak yang sehat dan anak merasa ditolak.
Dampak
dari perpisahan dalam peran keluarga adalah kehilangan peran orangtua, saudara,
anak cucu. Perhatian orangtua hanya tertuju pada anak yang sakit. Akibatnya
saudara-saudaranya yang lain menganggap hal tersebut tidak adil. Respos
tersebut biasanya tidak disadari dan tidak disengaja. Orangtua sering
menyalahkan saudara perilaku antisosial. Sakit akan membuat anak kehilangan
kebersamaan mereka dengan anggota keluarga yang lain atau teman sekelompok.
5.3
Reaksi Hospitalisasi Pada usia
Prasekolah
Dampak hospitalisasi pada anak
usia prasekolah :
1.
Menolak
makan
2.
Seing
bertanya
3.
Menangis
berlahan
4.
Tidak
kooperatif dengan tenaga kesehatan
5.4
Reaksi Hospitalisasi pada masa
sekolah (6-12 tahun)
Perawatan di RS memaksakan anak
meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok social sehingga
menimbulkan kecemasan. Kehilangan control berdampak pada perubahan peran dalam
keluarga, kehilangan kelompok , social, perasaan takut mati, dan kelemahan
fisik. Reaksi nyeri dapat digambarkan dengan verbal dan nonverbal.
5.5
Konsep Hospitalisasi pada masa
remaja (12-18 tahun)
Anak remaja begitu percaya dan
terpengaruh kelompok sebayanya. Reaksi yang muncul adalah sbb :
1.
Menolak
kooperatif dengan petugas
2.
Bertanya-tanya
3.
Menarik
diri
4.
Menolak
kehadiran orang lain
5.6
Intervensi Keperawatan dalam
mengatasi dampak Hospitalisasi
1.
Meminimalkan stres
Upaya meminimalkan stressor atau
penyebab stress dapat dilakukan dengan
cara :
a.
Mencegah
atau mengurangi dampak perpisahan :
Upaya mencegah/ meminimalkan
dampak perpisahan dilaukan dengan cara :
1.
Melibatkan
orangtua berperan aktif dalam perawatan anak
2.
Modifikasi
ruang perawatan
3.
Mempertahankan
kontak dengan kegiatan sekolah, surat menyurat, bertemu teman sekolah
b.
Mencegah
perasaan kehilangan control
Mencegah perasaan kehilangan
control dapat dilakukan dengan cara :
1.
Hindarkan
pembatasan jika anak dapat kooperatif
2.
Bila
anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan
3.
Buat
jadwal untuk prosedur terapi, latihan, bermain
2.
Mengurangi/ meminimalkan rasa
takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri
Meminimalkan rasa takut terhadap
cedera tubuh dan rasa nyeri dilakukan dengan cara :
a.
Mempersiapkan
psikologis anak dan orangtua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa
nyeri
b.
Lakukan
permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
c.
Menghadirkan
orangtua bila mungkin
d.
Tunjukka
sikap empati
e.
Pada
tindakan efektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui
cerita dan gambar
f.
Perlu
dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini
dengan terbuka
3.
Memaksimalkan manfaat
hospitalisasi
Memaksimalkan manfaat
hospitalisasi akan dilakukan dengan cara :
a.
Membantu
perkembangan anak dengan memberi kesempatan orangtua untuk belajar
b.
Memberi
kesempatan pada orangtua untuk belajar tentang penyakit anak
c.
Meningkatkan
kemampuan control diri
d.
Memberi
kesempatan untuk sosialisasi
4.
Memberikan dukungan psikologis
pada anggota keluarga
5.
Mempersiapkan anak sebelum masuk
RS dan sebelum mendapatkan perawatan di RS
Mempersiapkan anak untuk mendapat
perawatan di RS dilakukan dengan cara :
a.
Kenalkan
perawat dan dokter yang merawatnya
b.
Kenalkan
pada pasien yang lain
c.
Berikan
identitas pada anak
d.
Jelaskan
aturan RS
e.
Laksanakan
pengkajian
f.
Lakukan
pemeriksaan fisik
7.
Manajemen Asuhan Keperawatan Anak dengan Hospitalisasi
1.
Usia balita
Manajemen asuhan keperawatan anak
usia balita dengan hospitalisasi meliputi :
a.
Berikan
asuhan keperawatan yang konsisten
b.
Menyanyi
dan berbicara dengan bayi
c.
Sentuh,
pegang dan gendong bayi dan terus berinteraksi selama prosedur
d.
Anjurkan
interaksi dengan orang tua : rooming in, orangtua bicara dengan anak dan ijin
apabila mau pergi.
e.
Biarkan
mainan yang membuat rasa nyaman dan aman
f.
Anjurkan
orangtua berada disamping anak saat prosedur invasive yang menyakitkan
g.
Dekatkan
mainan favorit anak
h.
Pertahankan
kontak maksimal dengan beberapa perawatan kenalkan, kenalkan perawatan
disamping orangtua, ijinkan anak bertemu perawatan sebelum prosedur dilakukan.
i.
Bantu
kunjungan saudara kandung
2.
Anak usia prasekolah
Manajemen asuhan keperawatan anak
usia balita dengan hospitalisasi meliputi :
a.
Batasi
aturan dan dorongan pada perilaku
b.
Anjurkan
orangtua merencanakan kunjungan dengan anak
c.
Ijinkan
anak memilih dalam batasan yang dapat diterima
d.
Berikan
cara-cara anak dapat membantu pengobatan dan puji atas kerja sama anak
Permasalahan yang dihadapi anak
usia prasekolah dalam hospitalisasi :
1.
Rasa
takut : berusaha memahami tentang penyebab penyakit, rasa takut ditunjukkan
dengan ekspresi verbal dan nonverbal
2.
Ansietas
: paham alas an dipisahkan tetapi masih butuh keberadaan orangtua dan lebih
peduli terhadap rutinitas sekolah dan teman-teman
3.
Tidak
berdaya : anak marah dan frustasi, alamnya imobilisasi dihubungkan dengan
menarik diri, bosan, perasaan antipasti. Anak sensitive terhadap kehilangan
control emosi dengan menunjukkan sikap menangis katrena malu yang berlebihan
akibat pengobatan
4.
Gangguan
citra diri : anak sensitive terhadap perubahan tubuh, dapat mengalihkan rasa
nyeri dengan mengalihkan perhatian, takut terhadap pembedahan di area genital.
3.
Anak
usia sekolah
Manajemen asuhan keperawatan anak
balita dengan hospitalisai meliputi :
1.
Monitor
perilaku untuk menentukan kebutuhan emosi terutama pada anak yang menarik diri
dan tidak berespon
2.
Jelaskan
prosedur secara rinci (jika anak meminta)
3.
Anjurkan
kunjungan teman sebaya
4.
Diskusikan
respon terhadap pertanyaan tentang penyakit dan perubahan tubuh
5.
Berikan
waktu diskusi
6.
Ijinkan
anak memilih, berpartisipasi dan menjga privasi
7.
Ikuti
keinginan anak tentang keberadaan orangtua
Permasalahan yang dihadapi anak
usia sekolah dalam hospitralisasi :
a.
Rasa
takut : paham bahwa penyakit itu beragam, sedikit rasa takut dapat menjadi
ketakutan jika pengalaman masa lalu menyakitkan
b.
Ansietas
: peduli atas perpisahan dengan guru dan teman, cemas terhadap PR sekolah dan
perubahan peran dalam kelompok.
c.
Tidak
berdaya : anak berusaha mandiri, mencoba berani selama prosedur medis, kasar
pada orangtua saat berusaha mandiri membuat stress. Anak akan mengekspresikan
perasaan dan malu terhadap perilaku yang berlebihan, merasa tidak pasti tentang
masa depan karena penyakit atau hospitalisasi.
4. Anak
usia remaja
Manajemen asuhan keperawatan
untuk anak usia remaja dengan hospitalisasi :
1.
Fasilitasi
perencanaan aktivasi teman sebaya
2.
Jelaskan
kepada orangtua tentang kebutuhan mandiri
3.
Monitor
perilaku anak apabila ingin bicara
4.
Berikan
permainan dan aktivitas lain yang membantu remaja berdiskusi
5.
Berikan
penyuluhan secara rinci tentang prosedur pengobatan dan terapi yang menyangkut
area genital
6.
Berikan
privasi atas setiap prosedur tindakan
Permasalahan yang dihadapi anak
usia remaja dalam hospitalisasi :
1.
Rasa
takut : anak dapat berpikir hipotesis tentang penyakiatnya, banyak bertanya,
dan mengekspresikan rasa takut secara verbal tentang konsekuensi penyakit
2.
Ansietas
: perpisahan dengan sekolah dan teman lebih bermakna daripada perpisahan dengan
orangtua, menarik diri dikarenakan perubahan penampilan
3.
Tidak
berdaya : sensitive terhadap kehilangan fungsi mandiri, sulit mengijinkan
bantuan secara fisik dan emosi saat marah, menarik diri atau frustasi
4.
Gangguan
citra diri : sensitive dengan ancaman terhadap perubahan dan perkembangan
identitas seksualitas serta peran sesuai gender, sangat peduli terhadap
perubahan citra diri, kuatir tentang tanggapan orang lain/ dikasihi, sulit
bekerja sama jika pengobatan yang berhubungan dengan perubahan citra diri.
Latihan
Soal :
Seorang anak perempuan usia 8
tahun dirawat di RS karena menderita demam berdarah. Selama 2 hari dirawat ia
sering menangis minta pulang. Jika ada perawat yang akan melakukan tindakan,
anak tersebut menolak sambil merengek pada ibunya :
1.
Stressor
apa saja yang mungkin dialami anak tersebut terkait hospitalissai pada diriny?
2.
Bagaimana
sikap perawat sebaiknya dalam menghadapi anak tersebut?
3.
Pendekatan
apa yang dapat dilakukan perawat jika akan melakaukan prosedur pada anak
tersebut ?
4.
Jelaskan
contoh terapi bermain yang dilakukan pada anak tersebut?
Materinya lengkap mudah di mengerti
BalasHapusMaterinya lengkap dan mudah untuk dipahami, saya juga sangat suka dengan metode mengajar ibu
BalasHapusIbu Annis menjelaskannya sangat detail dan komunikatif. Materinya mudah dipahami karena diselingi oleh beberapa contoh yang terkait dengan materi. Terima kasih banyak ibu, semoga ilmu yang ibu berikan menjadi berkah. Aamiin
BalasHapusNama: Sheryl Aprisa Adiyanti
BalasHapusKelas:XI PERAWAT 1
Materi mudah di pahami dan materi lengkap.
materinya lengkap dan mudah dipahami, metode pembelajaran nya juga sangat mudah dipahami, terimakasih ibuu
BalasHapusNama: Elvina Meisy Setiawan
BalasHapusKelas: XI Perawat 1
Materinya lengkap dan mudah dimengerti
Nama: Safa Nurkhasanah
BalasHapusKelas: XI perawat 1
materi yang ibu berikan lengkap dan mudah dimengerti, cara ibu menyampaikan juga seru karena diberikan contohnya juga. Terimakasih ibu🙏🏼
Nama : Berliana Nurohim
BalasHapusKelas : XI Perawat 1
Materi yang ibu berikan sangat lengkap dan mudah di pahami, cara ibu mengajar juga sangat seru. Terimakasih ibu 🤍🤍
materi lengkap dan mudah dipahami, penjelasannya pun mudah dicerna
BalasHapusterimakasih atas ilmunya ibu🙏
nama: Anandya Nashwa
BalasHapuskelas: 11 perawat 1
Materi yang ibu berikan lengkap dan sangat mudah dipahami. Terimakasih ibu
Naila Salsabila,materi lengkap,cukup di pahami, dan penjelasan nya mudah di pahami juga,terima kasih Bu atas ilmu nya🙏🏻
BalasHapusDewi indawati,materi lengkap,mudah dipahami, terimakasih Bu atas ilmunya🙏🏻
BalasHapusmaterinya lengkap dan mudah dipahami, metode pembelajaran nya juga sangat mudah dipahami, terimakasih ibuu.
BalasHapusMutiara Aini,materi nya lengkap,mudah dipahami, terimakasih Bu atas ilmunya 🙏🏻
BalasHapusAmelia Putri, materi nya mudah dipahami,dan lengkap terimakasih ibu🙏🏻
BalasHapusmateri nya lengkap dan dapat di pahami,terimakasih ibuu
BalasHapusAdellia Martasya Wijaya, materinya yang ibu kasih lengkap ,dan cara penyampaian/menjelaskan ibu mudah dipahami , terimakasih ibu🙏🏻
BalasHapusmateri lengkap dan mudah di pahami, alhamdulilah saya mengerti ketika ibu menjelaskan,karna metode ngajar ibu sangat seru tidak bikin bosan,terima ibu atas materinya.
BalasHapusMaterinya sangat lengkap, mudah di pahami dan ibu menjelaskannya serius tapi asyik hihi ^ ^
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmateri mudah dimengerti dan menjelaskannya tidak bosan, terimakasih ibuu
BalasHapusIra nursepti, Materi nya lengkap dan mudah di pahami,dan cara mengajarnya pun asik tidak membosankan.Terimakasih ibu 🙏
BalasHapusNicke yuditiara
BalasHapusMateri yang ibu kasih mudah dipahami jelas dan cara ibu menerangkan materi nya pun jelas, terima kasih ibuuuu
Nama: Syahara Maulidya U
BalasHapusKelas: XI P3
materi nya lengkap & mudah dipahami, terimakasih ibuuu🙏💖
cara ibu memberikan materi sudah lengkap dan cukup jelas, cara ibu menjelaskan nya juga seru jadi tidak gampang bosan^^
BalasHapusNama:Keyza Adha Revalina.P
BalasHapusKelas:XlP3
materi yg ibu beri sangat lengkap,dan cara ibu mengajar juga jelas,mudah di pahami, terimakasih bu🙏
materinya lengkap dan sangat mudah dipahami karena metode pembelajaran yg ibu terapkan asik dan tidak membosankan, terimakasih ibu..
BalasHapusMaterinya lengkap dan mudah dipahami juga tidak membosankan saat belajar
BalasHapusMaterinya lengkap metode pembelajaran yang ibu kasih seru, tidak membosankan, cara ibu mengajarkan jelas, mudah di pahami
BalasHapussaya suka dengan cara ibu menjelaskan materi,jadi mudah dipahami oleh saya
BalasHapusMaterinya mudah dimengerti dan lengkap bu
BalasHapusNazwa apriliyana: materi yang diberikan mudah di pahami cara menjaskannya juga enjoy dan jelas
BalasHapusWulan r
BalasHapusmateri nya dapat dimengerti
materinya sangat lengkap dan cara mengajar ibu seruu
BalasHapusnama : nur Afni Octavia
BalasHapuskelas : xi perawat 2
komentar :
materi yang ibu sampaikan mudah di mengerti dan di pahamin
Siti nurmala
BalasHapusSangat mudah untuk di pahami terimakasih ibu
Saya indri lestari 11p2
BalasHapusKomentar: materi yang ibu sampaikan sangat seru dan asikk yang tadinya ngantukk jadi tidak ngantukk dan sangat mudah di pahami