Angka Morbiditas dan Mortalitas Anak dan Penyakit Infeksi
Bab
Angka Morbiditas dan Mortalitas Anak dan
Penyakit Infeksi
·
PENGANTAR
Selamat datang dalam langkah
awal belajar tentang “keperawatan anak”. Bab ini berisi
tentang masalah-masalah kesehatan
yang lazim terjadi pada anak. Pada
Bab IV ini Anda akan mempelajari
tentang angka morbiditas dan mortalitas anak di Indonesia, serta jenis penyakit infeksi, dan jenis penyakit non infeksi.
Agar memudahkan Anda belajar,
maka Bab ini dikemas dalam 2 Topik dan seluruhnya diberi alokasi waktu 12 jam. Topik tersebut disusun dengan
urutan sebagai berikut:
·
Topik 1: Angka morbiditas dan mortalitas anak serta jenis penyakit infeksi.
·
Topik 2: Jenis penyakit
infeksi.
Oleh karena itu setelah
mempelajari Bab ini Anda diharapkan dapat:
·
Menjelaskan angka morbiditas dan mortalitas anak.
·
Menjelaskan jenis penyakit infeksi.
Proses pembelajaran dalam Bab IV ini dapat berjalan
dengan baik apabila
Anda mengikuti langkah-langkah belajar sebagai berikut:
·
Berusaha membaca
buku-buku sumber terlebih dahulu yang berkaitan dengan konsep penyakit yang sering terjadi pada anak dan
mempelajari anatomi dan fisiologi, karena materi tersebut
merupakan dasar bagi Anda untuk memahami tentang
berbagai penyakit pada anak.
·
Berusahalah untuk
konsentrasi dalam membaca setiap materi yang terdapat di dalam bab ini sehingga Anda dapat memahami
apa yang dimaksud.
Belajarlah secara berurutan mulai dari Topik 1 sampai selesai kemudian
baru dilanjutkan ke Topik 2.
Hal ini penting untuk menyusun pola pikir Anda sehingga menjadi terstruktur.
·
TUJUAN PEMBELAJARAN
·
Umum
Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan mampu memahami tentang angka morbiditas dan mortalitas anak serta berbagai
penyakit infeksi pada anak.
·
Khusus
Setelah selesai
mempelajari materi ini, Anda diharapkan mampu:
·
Menjelaskan angka morbiditas dan mortalitas anak.
·
Menjelaskan konsep dasar jenis-jenis penyakit infeksi.
·
POKOK-POKOK MATERI
Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan di atas, maka pokok-pokok materi
yang akan dibahas dalam Topik 1 ini
adalah:
·
Angka morbiditas dan mortalitas anak.
·
Konsep dasar jenis-jenis penyakit
infeksi.
·
URAIAN MATERI
·
Angka Morbiditas dan Mortalitas
·
Pengertian Mortalitas
Apa yang Anda pikirkan tentang
kata mortalitas, tahukah? Tentu ada yang belum tahu. Arti singkat menunjukkan kematian. Mortalitas merupakan gambaran
tingkat kejadian untuk peristiwa seperti
pada anak yang biasanya disebut
sebagai statistik vital, sedangkan mortalitas statistik menggambarkan insiden atau jumlah individu
yang meninggal selama periode waktu tertentu, biasanya
disajikan sebagai angka per 100.000
kelahiran. Angka mortalitas bayi (angka kematian bayi) adalah
jumlah kematian per 1.000 kelahiran hidup selama
tahun pertama kehidupan dan kemudian
dibagi lagi menjadi mortalitas neonatal untuk
usia lebih dari 28 hari dan mortalitas pasca natal untuk usia 28 hari
sampai 11 bulan. Angka mortalitas
anak (angka kematian anak) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai
umur 5 tahun per 1.000 kelahiran
hidup (Hockenberry et all, 2009).
·
Morbiditas (Statistik Morbiditas)
Anda sudah belajar mortalitas
atau kematian. Sekarang pernahkah mendengar kata morbiditas ? Tentunya
ada yang sudah
tapi ada juga yang belum kan! Kira-kira menurut Anda apa
bedanya morbiditas dengan mortalitas? Anda pasti pernah ke rumah sakit. Nah, kalau anak-anak di rawat di rumah sakit pasti karena mengalami sakit. Jadi morbiditas intinya sama dengan kejadian anak yang sakit tetapi memang
sangat sulit diartikan secara luas dan hanya menunjukkan jumlah penyakit yang dialami anak. Baiklah kita bahas bersama-sama.
Prevalensi penyakit
khusus dalam populasi
pada waktu tertentu
dikenal sebagai statistik
morbiditas atau statistik
kesakitan, yang secara umum disajikan
sebagai angka per
1.000 populasi. Morbiditas
(kesakitan) sulit didefinisikan dan hanya menunjukkan penyakit akut, penyakit kronis dan ketidakmampuan.
Morbiditas dapat merujuk pada pernyataan terkena penyakit,
derajat kerasnya penyakit,
meratanya penyakit: jumlah kasus pada populasi,
insiden penyakit: jumlah kasus baru pada populasi serta cacat terlepas dari
akibat seperti cacat disebabkan oleh kecelakaan (Hockenberry et all,
2009).
·
Penyebab Mortalitas, Morbiditas dan Kejadian.
Kita telah belajar tentang
kesakitan dan kematian? Menurut Anda, apa sih penyebab anak menjadi sakit atau meninggal? Tentunya karena terserang
suatu penyakit. Apakah Anda pernah
melihat atau mendengar di lingkungan Anda tinggal, penyakit yang sering
menyerang anak-anak atau bayi? Ya tentu tiap-tiap
usia penyebabnya berbeda
dan pemerintah khususnya
Kementerian Kesehatan sering melakukan pendataan
ada yang karena diare, infeksi
dan lain-lain.
Menurut Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) pada tahun 2007, penyebab kematian
pada:
·
Perinatal 0 - 7 hari adalah:
·
Gangguan/kelainan pernapasan (35,9 %).
·
Prematuritas (32,4%).
- Sepsis (12,0 %).
·
Kematian neonatal
7 - 29 hari adalah:
- Sepsis (20,5 %).
·
Malformasi kongenital (18,1 %).
·
Pneumonia (15,4 %).
·
Kematian bayi terbanyak karena diare (42 %)
dan pneumonia (24 %), sedangkan
penyebab kematian Balita disebabkan diare (25,2 %), pneumonia (15,5 %) dan DBD (6,8 %)
(Depkes).
·
Konsep Dasar Jenis-jenis Penyakit
Infeksi.
·
Konsep Dasar Penyakit Demam
Berdarah Dengue
·
Pengertian
Deman berdarah dengue atau dengue
haemorrhagic fever adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui
gigitan nyamuk Aedes
Aegypti (WHO, 2009).
·
Etiologi
Menurut Depkes (2005), penyebab
DBD adalah virus dengue, yang mana memiliki 4 serotipe yaitu dengue-1,
dengue-2, dengue-3 dan dengue-4 dan telah ditemukan di seluruh Indonesia, serta termasuk dalam group B Arthropod Borne
Virus (Arbovirus). Saat ini Indonesia yang dominan adalah dengue-3.
Nyamuk aedes aegypti mengalami
metamorphosis di dalam air mulai dari
telur- jentik-kepongpong-nyamuk.
Telur menetas menjadi jentik berlangsung selama dua hari terendam dalam air, stadium jentik berlangsung selama
enam sampai delapan hari dan stadium
kepongpong selama dua sampai empat hari serta dari telur menjadi nyamuk dewasa berlangsung selama sembilan sampai
sepuluh hari (Depkes, 2005). Menurut Anggraeni
(2010), nyamuk aedes
aegypti menggigit pada siang hari sekitar jam 09.00 sampai
10.00 dan sore hari sekitar jam 14.00 sampai jam 17.00.
·
Patofisiologi
Pada serangan virus dengue untuk pertama kali tubuh akan membentuk
kekebalan spesifik khusus
untuk dengue tetapi masih memungkinkan diserang untuk kedua kalinya atau lebih karena ada lebih dari satu tipe virus dengue (Nadesul,
2007). Orang yang terinfeksi
virus dengue untuk pertama kali umumnya hanya menderita demam ringan dan biasanya sembuh sendiri dalam waktu 5 hari pengobatan, (Depkes,
2005). Infeksi virus dengue selanjutnya dengan tipe virus yang berbeda
akan menyebabkan penyakit
DBD (Nadesul, 2007).
Setelah virus masuk ke dalam tubuh maka virus akan berkembang biak di retikuloendotel sel (sel-sel mesenhim
dengan daya fagosit)
sehingga tubuh mengalami
viremia (darah mengandung virus) yang menyebabkan terbentuknya virus antibody, sehingga menyebabkan agregrasi trombosit yang berdampak
terjadinya trombositopenia, aktivitas koagulasi yang berdampak
meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga
terjadi kebocoran plasma,
aktivasi komplemen juga akan berdampak pada
permeabilitas kalpiler sehingga dapat
terjadi kebocoran plasma dan timbul
syok (WHO, 2009).
·
Tanda dan Gejala
Gejala klinis
berikut ini harus ada yaitu:
·
Demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-
menerus selama 2-7 hari.
·
Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai
dengan:
·
Petekie, ekimosis
dan purpura.
·
Perdarahan mukosa,
epistaksis dan perdarahan gusi.
·
Hematemisis dan atau
melena.
·
Pembesaran hati
·
Syok, yang ditandai dengan nadi cepat dan lemah sampai tak teraba, penyempitan tekanan nadi ( ≤ 20 mmHg),
hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab, capillary refill time memanjang ( > 2
detik) dan pasien tampak
gelisah.
Gambaran klinis berdasarkan fase meliputi:
·
Fase febris, biasanya demam mendadak tinggi 2-7 hari, disertai muka kemerahan,
eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri
tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah.
Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti
ptekie, perdarahan mukosa,
walaupun jarang dapat pula terjadi
perdarahan pervaginam dan perdarahan
gastrointestinal.
·
Fase kritis, terjadi pada hari 3 - 7 sakit dan ditandai dengan
penurunan suhu tubuh disertai
kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 - 48 jam. Kebocoran plasma
sering
didahului
oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi
syok.
·
Fase pemulihan, bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian
cairan dari ekstravaskuler ke
intravaskuler secara perlahan pada 48 - 72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu
makan pulih kembali, hemodinamik stabil dan diuresis membaik.
·
Klasifikasi DBD
Menurut WHO
(2008), derajat penyakit DBD dapat diklasifikasikan dalam 4 derajat dimana pada setiap derajat sudah ditemukan
trombositopenia dan hemokonsentrasi, yang terdiri
dari:
·
Derajat I: demam
disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji bendung.
·
Derajat II: seperti
derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
·
Derajat III:
didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau
hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah.
·
Derajat IV: syok berat, nadi tidak
dapat diraba dan tekanan
darah tidak teratur.
·
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan meliputi:
·
Pemeriksaan trombosit, dimana ditemukan trombositopenia (100.000/μl atau kurang).
·
Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler dengan
manifestasi sebagai berikut:
·
Peningkatan hematocrit ≥ 20 % dari nilai standar.
·
Peningkatan hematokrit setelah ≥ 20% setelah mendapat
terapi cairan.
·
Efusi pleura/pericardial, asites,
hipoproteinemia.
Dua dari kriteria
gejala klinis pertama
ditambah satu dari kriteria laboratorium (atau hanya peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis kerja DBD.
·
Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
Tanpa Syok
Penatalaksanaan disesuaikan dengan gambaran klinis maupun fase, dan untuk diagnosis
DBD pada derajat I dan II menunjukkan bahwa anak mengalami DBD tanpa syok sedangkan
pada derajat III dan derajat
IV maka anak mengalami DBD disertai dengan
syok.
Tatalaksana untuk anak yang dirawat di rumah
sakit meliputi:
·
Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air tajin, air sirup, susu untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma, demam, muntah/diare.
·
Berikan parasetamol
bila demam, jangan berikan asetosal atau ibuprofen karena dapat merangsang terjadinya perdarahan.
·
Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang:
·
Berikan hanya larutan isotonic
seperti ringer laktat/asetat.
·
Kebutuhan cairan
parenteral:
·
Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam
·
Berat badan
14-40 kg : 5
ml/kgBB/jam
·
Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam
·
Pantau tanda vital
dan diuresis setiap jam, serta periksa laboratorium (hematocrit, trombosit, leukosit dan hemoglobin) tiap 6 jam.
·
Apabila terjadi
penurunan hematocrit dan klinis membaik, turunkan jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil.
Cairan intrvena biasanya
hanya memerlukan waktu 24-48
jam sejak kebocoran pembuluh kapiler spontan setelah pemberian cairan.
·
Apabila terjadi
perburukan klinis maka berikan tatalaksana sesuai dengan tatalaksana syok terkompensasi.
·
Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue Dengan Syok
Penatalaksanaan DBD menurut
WHO (2008), meliputi:
·
Perlakukan sebagai
gawat darurat. Berikan
oksigen 2-4 L/menit
secara nasal.
·
Berikan 20 ml/kg larutan
kristaloid seperti ringer
laktat/asetan secepatnya.
·
Jika tidak
menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau
pertimbangkan pemberian koloid 10-20 ml/kg BB/jam
maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.
·
Jika tidak ada perbaikan
klinis tetapi hematocrit dan hemoglobin menurun
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi: berikan transfusi
darah/komponen.
·
Jika terdapat
perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi
perifer mulai membaik, tekanan nadi melebar), jumlah
cairan dikurangi hingga 10 ml/kgBB dalam
2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai kondisi klinis laboratorium.
·
Dalam banyak kasus,
cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam. Perlu diingat banyak kematian terjadi karena
pemberian cairan yang terlalu banyak dari pada pemberian
yang terlalu sedikit.
·
Konsep Dasar Penyakit Pneumonia
·
Pengertian
Peumonia adalah inflamasi atau
infeksi parenhim paru terutama pada bronchielos dan alveoli (Ball & Bindler, 2003). Pneumonia adalah peradangan
pada parenhim paru (Nursalam, 2005).
·
Penyebab
Penyebab awal pneumonia adalah
bakteri, virus atau mycoplasma. Organisme yang
paling umum RSV, virus parainfluenza, adenovirus, enterovirus dan
pneumococcus. Pada anak-anak dengan gangguan imun maka akan mudah terserang bakteri,
parasite dan fungal.
·
Patofisiologi
Pneumonia terjadi akibat
penyebaran kuman infeksi dari traktus respiratorius atas ke traktus respiratorius bawah melalui aliran darah. Mekanisme pertahanan meliputi reflek batuk, rambut mukosa, pagositosis oleh makrofag alveolus, reaksi
peradangan dan respons imun dalam
melindungi seseorang dari menghirup kuman yang pathogen. Kuman pathogen ini menginvasi/menyerang seseorang dengan mengeluarkan toksin kemudian
menstimulasi dan merusak mekanisme
pertahanan. Toksin yang dihasilkan merusak
daya tahan tubuh di bagian membrane mukosa paru sehingga
menyebabkan akumulasi debris dan eksudat di jalan
nafas, sehingga akan mengakibatkan perbandingan ventilasi dan perfusi tidak
normal. Pneumonia lobaris meliputi
satu atau lebih lobus yang terserang,
Pneumonia interstitial meliputi
dinding alveolus, peribrochial dan jaringan interlobular dan pneumonia
bronchial meliputi bronchus
dan seluruh paru (Potts dan Mandleco, 2007).
·
Manifestasi klinis
Tanda dan gejala anak yang terkena
pneumonia adalah peningkatan suhu tubuh, rocnhi,
wheezing (mengi) atau rale, batuk disertai produkasi
sputum, dyspnea, tachypnea, dan peningkatan suara nafas.
Cyanosis central maupun perifer, retraksi substernal, subcostal dan intercostal (Potts dan Mandleko, 2007).
·
Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan
di laboratorium atau pemeriksaan diagnostic
dilakukan untuk menegakkan diagnosa pneumonia, pemeriksaan meliputi:
·
Pulse Oximetry
biasanya menunjukan saturasi
oksigen tampak menurun
atau normal.
·
Pemeriksaan rontgen,
tergantung kuman penyebab dan usia anak. Pada bayi
dan anak yang masih muda tampak ada infiltrasi dan konsolidasi paru.
·
Kultur sputum
untuk menentukan kuman penyebab.
·
Pemeriksaan sel darah putih biasanya meningkat
pada pneumonia yang disebabkan bakteri.
·
Pneumonia berdasarkan MTBS
Menurut World Health Organization (2008), pneumonia ditujukan
dalam penanggulangan penyakit
ISPA. Pneumonia diklasifikasikan sebagai pneumonia sangat berat, pneumonia berat, pneumonia dan
bukan pneumonia, berdasarkan ada tidaknya tanda
bahaya, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam dan frekwensi nafas dan dengan pengobatan yang spesifik untuk
masing-masing derajat penyakit. Dalam MTBS, anak
dengan batuk diklasifikasikan sebagai penyakit sangat berat (pneumonia berat) dan anak harus dirawat inap. Pneumonia
dimana anak berobat jalan. Dan batuk bukan pneumonia
yang cukup diberi nasihat untuk perawatan di rumah. Derajat keparahan dalam diagnose pneumonia dibagi menjadi
pneumonia berat yang harus di rawat inap dan pneumonia
ringan hanya dengan rawat
jalan.
·
Pneumonia Ringan
·
Diagnosis
Pada pneumonia ringan apabila
pada diagnosis ditemukan:
·
Di samping batuk
atau kesulitan bernafas, hanya terdapat nafas cepat saja. Nafas cepat:
·
Pada anak umur 2 bulan
- 11 bulan : ≥50 kali/menit
·
Pada anak umur 1 tahun - 5 tahun : ≥ 40 kali/menit
·
Pastikan anak tidak mempunyai
tanda-tanda pneumonia berat.
·
Tata Laksana
·
Anak dirawat
jalan.
·
Beri antibiotik:
kotrimoksasol ( 4 mg TMP/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari atau
amoksilain (25 mg/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari.
·
Tindak lanjut:
Anjurkan ibu untuk memberi
makan anak, nasehati
ibu untuk membawa
kembali anaknya setelah
2 hari, atau lebih cepat jika keadaan
anak memburuk atau bila anak tidak bisa minum atau menyusu. Ketika anak kembali,
jika pernafasannya membaik
(melambat), demam berkurang, nafsu makan membaik
maka lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 3 hari.
·
Pneumonia Berat
Pada pneumonia
berat, jika pernafasan, demam dan nafsu makan tidak ada perubahan maka ganti ke antibiotik lini
kedua dan anjurkan ibu untuk kembali 2 hari lagi. Jika ada tanda-tanda pneumonia
berat maka anak harus rawat di rumah
sakit dan tangani
sesuai pedoman dibawah ini.
·
Diagnosis
Pada diagnosis
pneumonia berat apabila
ditemukan batuk dan atau kesulitan bernafas ditambah minimal salah
satu manifestasi klinis di bawah ini:
·
Kepala terangguk-angguk.
·
Pernafasan cuping
hidung.
·
Tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam.
·
Foto dada menunjukkan gambaran
pneumonia (infiltrate luas, kosolidasi, dan lain-lain).
Selain itu didapatkan pula tanda-tanda berikut
ini:
·
Nafas cepat:
·
Anak umur <
2 bulan : ≥ 60 kali/menit
·
Anak umur 2
-11 bulan : ≥ 50 kali/menit
·
Anak umur 1
- 5 tahun : ≥ 40 kali/menit
·
Suara merintih
(grunting) pada bayi muda.
·
Pada auskultasi
terdengar: crackles (ronki), suara pernafasan menurun, suara pernafasan
bronchial.
Dalam keadaan yang sangat berat dapat ditemukan:
·
Tidak dapat
menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya.
·
Kejang, letargi
atau tidak sadar.
·
Sianosis dan distress pernafasan berat.
Pada kondisi anak di atas ini maka tatalaksana pengobatan
dapat berbeda (misal pada pemberian oksigen dan jenis
obat antibiotik).
·
Tata Laksana
Pada pneumonia berat maka anak harus dirawat
dirumah sakit
·
Terapi Antibiotik
·
Beri
ampisilin/amoksilin (25-50 ml/kgBB IV atau IM setiap 8 jam), dan harus dipantau dalam 24 jam selama 72
jam pertama. Bila anak memberi
respons yang baik maka diberikan
5 hari. Selanjutnya terapi dilanjutkan di rumah atau di rumah sakit dengan amoksilin oral (15 mg.kgBB/kali tiga kali sehari).
·
Bila kondisi klinis
anak memburuk sebelum 48 jam atau terdapat kondisi
yang berat (tidak dapat menyusu atau minum/makan atau memuntahkan semuanya, kejang, letargi atau tidak sadar,
sianosis, distress pernafasan berat), maka ditambah
kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam)
·
Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat, segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi
ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin.
·
Sebagai alternatif,
beri septriakson (80-100 mg/kgBB IM atau IV sekali sehari).
·
Bila anak tidak
membaik dalam 48 jam, maka bila memungkinkan
buat foto dada.
·
Apabila diduga pneumonia stafilokokal, maka ganti antibiotic dengan gentamisin (7.5 mg/kgBB IM satu kali sehari) dan kloksasilin (50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam).
Bila keadaan anak membaik lanjutkan kloksasilin secara oral 4 kali/hari
sampai secara keseluruhan mancapai 3
minggu atau klindamisin secara oral
selama 2 minggu.
·
Terapi Oksigen
·
Berikan oksigen
pada semua anak dengan pneumonia berat.
·
Bila tersedia pulse
oxymetri, gunakan panduan sebagai panduan
untuk terapi oksigen (berikan pada anak dengan saturasi oksigen < 90%, bila tersedia
oksigen yang cukup).
Lakukan ujicoba tanpa
oksigen
setiap harinya pada anak yang stabil. Hentikan pemberian oksigen bila saturasi tetap stabil > 90%. Pemberian oksigen
setelah saat ini tidak berguna.
·
Gunakan nasal
prongs, kateter nasal, atau kateter nasofaringeal. Penggunaan nasal prongs adalah metode untuk menghantarkan oksigen pada bayi muda. Masker wajah atau
masker kepala tidak direkomendasikan.
Oksigen harus tersedia secara terus-menerus setiap waktu.
·
Konsep dasar penyakit DIARE
·
Pengertian
Diare adalah peningkatan
pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling
sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10
g/kg/24 jam, sedangkan rata- rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie,
2010). Diare merupakan
penyakit yang terjadi
ketika terdapat perubahan
pola konsistensi feces
selain dari frekuensi buang
air besar. Seorang anak dikatakan diare bila konsistensi feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air
besar lebih dari tiga kali atau lebih, atau buang air besar lebih berair tapi tidak berdarah
dalam waktu 24 jam (Depkes, 2009).
·
Penyebab
Penyebab terjadinya diare
pada anak terdiri
dari:
·
Infeksi enteral
yaitu adanya infeksi
yang terjadi di saluran pencernaan dimana merupakan
penyebab diare pada anak, kuman meliputi infeksi bakteri, virus, parasite, protozoa, serta jamur dan bakteri yang paling sering menimbulkan diare adalah vibrio,
·
coli, salmonella, shigella, campylobacter, aeromonas, sedangkan infeksi virus disebabkan oleh enterovirus, adenovirus, rotavirus, astrovirus dan infeksi parasite
disebabkan oleh cacing ascaris, trichiuris, oxyuris, strongiloide, dan protozoa disebabkan oleh etnamoeba hystolitika, giardia lambia, trichomonas hominis serta jamur yaitu candida albicans.
·
Infeksi parenteral
yaitu infeksi di bagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti pada otitis media, tonsilitis, bronchopneumonia serta encephalitis dan biasanya banyak terjadi pada anak di bawah
usia 2 tahun.
·
Faktor malabsorpsi,
dimana malabsorpsi ini biasa terjadi terhadap karbohidrat seperti disakarida (intoleransi laktosa, maltose
dan sukrosa), monosakarida intoleransi glukosa, fruktosa
dan galaktosa), malabsorpsi protein dan lemak.
·
Faktor Risiko
Menurut Kemenkes RI (2011), faktor risiko
terjadinya diare adalah:
·
Faktor perilaku
yang meliputi:
·
Tidak memberikan air susu ibu/ASI
(ASI eksklusif), memberikan makanan pendamping/MP, ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap
kuman.
·
Menggunakan botol
susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu.
·
Tidak menerapkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum memberi
ASI/makan, setelah buang air besar
(BAB), dan setelah membersihkan BAB anak.
·
Penyimpanan makanan
yang tidak higienis.
·
Faktor lingkungan antara lain:
·
Ketersediaan air
bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan mandi cuci kakus (MCK).
·
Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk.
Di samping
faktor risiko tersebut di atas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare
antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama
anak gizi buruk,
penyakit imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak.
·
Cara Penularan
Cara penularan diare melalui
cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung
tangan penderita atau tidak langsung melalui
lalat (melalui 5F = faeces, flies, food, fluid, finger).
·
Patofisiologi
Berbagai faktor yang
menyebabkan terjadinya diare di antaranya karena faktor infeksi dimana proses ini diawali dengan masuknya
mikroorganisme ke dalam saluran
pencernaan kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan usus. Berikutnya terjadi perubahan dalam
kapasitas usus sehingga menyebabkan gangguan
fungsi usus dalam mengabsorpsi (penyerapan) cairan dan elektrolit. Dengan adanya toksis bakteri maka akan menyebabkan gangguan
sistem transpor aktif dalam usus
akibatnya sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian
sekresi cairan dan elektrolit meningkat.
Faktor malaborpsi merupakan kegagalan
dalam melakukan absorpsi
yang mengakibatkan tekanan osmotic
meningkat sehingga terjadi pergeseran cairan dan elektrolit ke dalam usus yang dapat meningkatkan
rongga usus sehingga terjadi diare. Pada faktor makanan dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak diserap
dengan baik sehingga terjadi peningkatan dan penurunan peristaltic yang mengakibatkan penurunan
penyerapan makanan yang
kemudian terjadi diare.
·
Klasifikasi tingkat
dehidrasi
Menurut WHO (2008) tingkatan diare pada terdiri
dari:
|
Klasifikasi |
Tanda atau gejala |
Pengobatan |
|
Dehidrasi berat |
Terdapat 2 atau
lebih tanda di bawah ini
: Letargi/tidak sadar Mata
cekung Tidak bias minum atau malas minum Cubitan kulit perut kembali
sangat lambat (≥ 2 detik) |
Beri cairan untuk diare berat.
(lihat rencana terapi
C untuk diare, di rumah sakit lampiran) |
|
Dehidrasi ringan/sedang |
Terdapat 2 atau lebih tanda-tanda dibawah ini : Rewel, gelisah Mata
cekung Minum dengan lahap, haus Cubitan kulit kembali
lambat |
Beri anak cairan
dan makanan untuk
dehidrasi ringan. Stelah rehidrasi, nasehati
ibu untuk penanganan di rumah dan kapan
kembali segera. Kunjungan ulang 5 hari jika
tidak membaik. |
|
Tanpa dehidrasi |
Tidak terdapat cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai
dehidrasi ringan atau
berat |
Beri cairan dan makanan untuk menangani disre
di rumah. Nasehati ibu kapan
kembali segera Kunjungan ulang waktu
5 hari jika tidak membaik. |
Pada dehidrasi ringan/sedang dan tanpa dehidrasi
maka penatalaksanaan bisa di rumah dengan menggunakan standar atau pedoman
manajemen terpadu balita sakit (MTBS).
·
Diare dengan
Dehidrasi Berat
Pada diare dengan dehidrasi
berat memerlukan rehidrasi
intravena secara cepat dengan
pengawasan yang ketat dan dilanjutkan dengan rehidrasi oral segera setelah anak membaik. Pada daerah yang sedang mengalami
KLB kolera maka berikan antibiotik yang efektif
untuk kolera.
Tatalaksana
Anak-anak dengan dehidrasi
berat harus diberi rehidrasi intravena
secara cepat yang diikuti dengan rehidrasi oral.
·
Mulai berikan
cairan intravena segera. Pada saat infud
disiapkan, beri larutan oralit jika anak bisa minum. Larutan intravena
terbaik adalah larutan
ringer laktat. Jika tidak tersedia berikan larutan garam normal
(NaCL 0.9%).
·
Beri 100 ml/kgBB larutan
yang dipilih dan dibagi
sesuai Tabel 4.1. berikut
ini.
Tabel 4.1
Pemberian Cairan Intravena Untuk Anak Dengan
Dehidrasi Berat.
|
Usia |
Pertama, berikan 30 ml/kg dalam |
Selanjutnya, berikan 70 ml/kg dalam |
|
< 12 bulan |
1 jam |
5 jam |
|
≥ 12 bulan |
30 menit |
2,5 jam |
Bagan Rencana terapi C Penangan
Dehidrasi Berat Dengan Cepat.
Ikuti tanda panah: jika jawaban
“Ya” lanjutkan ke kanan, jika jawaban “tidak”,
lanjutkan ke bawah!

·
Konsep dasar penyakit MENINGITIS
·
Pengertian
Meningitis adalah inflamasi
pada lapisan meningen yang disebabkan oleh bakteri atau viral. Meningitis infeksi
cairan otak disertai radang yang mengenai piameter (lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta
dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis
yang superfisial.
Berdasarkan perubahan yang
terjadi pada cairan otak, meningitis tediri
dari meningitis serosa dan meningitis purulenta. Meningitis purulenta atau meningitis bakteri
adalah meningitis yang
bersifat akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan disebabkan oleh bakteri spesifik
maupun virus. Meningitis meningococcus merupakan meningitis purulenta yang paling
sering terjadi.
·
Penyebab
Organisme penyebab tergantung
usia anak, meningitis pada neonatus adalah Kuman Escherichia coli, Haemophilus influenza, streptococcus tipe B,
neisseria meningiditis, dan streptococcus
pneumonia. Pada bayi dan anak mudah terserang oleh kuman haemophilus influenza, neisseria meningiditis, dan streptococcus pneumonia. Sedangkan adolesen berisiko
terpapar kuman neisseria
meningiditis, streptococcus pneumonia, herpes, adenovirus,
dan arbovirus. Penyebab lain bisa diikuti oleh penetrasi karena trauma atau pembedahan tetapi bisa juga karena infeksi lain seperti otitis media, sinusitis, paringitis celulitid, pneumonia, dan carries
gigi.
·
Patofisiologis
Bakteri masuk dalam pembuluh
darah dan disebarkan ke tubuh termasuk ke meningen kemudian ke cairan serebrospinal dan menyebar ke area subaraknoid. Reaksi inflamasi diikuti dengan akumulasi sel darah putih
di atas permukaan otak disertai dengan eksudat
purulent dan kental.
Kuman neisseria meningiditis cenderung menutupi lobus parietal, oksipital dan area cerebellum otak ketika
streptococcus pneumonia menyear di permukaan
lobus sehingga otak menjadi
hiperemi dan edema sehingga terjadi
peningkatan tekanan intra kranial.
Hidrosepalus dapat terjadi jika ventrikel terifeksi dan obstruksi atau cairan serebrosponal dalam subaraknoid tertahan.

Gambar 4.1.
Susunan Otak Manusia
·
Manifestasi klinis
Manistasi klinis
tergantung usia dan kuman penyebab
yang meliputi:
Pada bayi kurang dari 3 bulan:
letargi, rewel, peka terhadap rangsang, demam
tidak ada kemungkinan hipotermia, vomiting
atau diare tanpa penurunan berat badan. Bayi ditemukan
fontanel anterior cembung jika ada dehidrasi, gangguan tingkat
kesadaran. Pada bayi > 3 bulan
dan toddler sama dengan bayi biasanya disertai demam atau peka terhadap rangsang.
Anak diatas 2 tahun akan disertai dengan gangguan di gastrointestinal, demam
dan menggigil. Jika bagian kortikal
maka anak peka terhadap
rangsang, agitasi bingung, delirium atau letargi dan somnolen serta
nausea dan muntah proyektil. Bagian saraf kranilais akan ditemukan potopobia (sensitive terhadap cahaya) dan
diplopia (penglihatan ganda) dan tinnitus. Jika saraf cervical
iritasi akan ditemukan
nuchal rigidity positif
dan posisi epitostonus.
·
Pemeriksaan Rangsangan Meninggal
·
Pemeriksaan Kaku Kuduk
Anak berbaring terlentang dan
gerakan pasif berupa fleksi dan rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan pada
pergerakan fleksi kepala disertai
rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan
pada hiperekstensi dan rotasi
kepala.
·
Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien
berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi
lutut sejauh mungkin tanpa rasa nyeri. Tanda
kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135° (kaki
tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya
diikuti rasa nyeri.
Sumber: https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19077.htm
Gambar 4.2
Pemeriksaan Kernig Sign
·
Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan
pemeriksa meletakkan tangan kirinya di bawah kepala dan tangan kanan
di atas dada pasien kemudian
dilakukan fleksi kepala dengan cepat
ke
arah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi
fleksi involunter pada leher.

Sumber: https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19077.htm
Gambar 4.3
Pemeriksaan Brunzinky Sign
·
Pemeriksaan Penunjang Meningitis
·
Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya
dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan
intrakranial. Pada meningitis serosa terdapat tekanan yang bervariasi,
cairan jernih, sel darah putih meningkat, glukosa
dan protein normal,
kultur (-). Pada meningitis purulenta
terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur
(+) beberapa jenis
bakteri.
·
Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya peningkatan sel darah putih.
·
Pemeriksaan elektrolit
menunjukan penurunan kalium dan peningkatan natrium yang mengindikasikan adanya dehidrasi.
·
CT Scan menunjukan adanya
effusi subdural.
·
Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi
adalah sepsis, kejang, efusi subdural, abses otak atau hidrosepalus (Potts dan Mandleco, 2007).
·
Penatalaksanaan Medis
Pemberian antibiotik diberikan segera setelah
pemeriksaan diagnostik, tergantung jenis kuman, diberikan selama 7 sampai 10 hari dan pemberian
biasanya melalui intravena. Obat
kortikosteroid seperti dexamentasone
diberikan 4 hari pertama untuk mengurangi respons
inflamasi. Jika ada kejang berikan obat antikejang sesuai prosedur. Untuk
demam, sakit kepala nyeri sendi maka diberikan golongan antipiretik
seperti acetaminopen (Potts dan Mandleco, 2006).
·
Penatalaksanaan Keperawatan
Perawatan diberikan awalnya
di emergensi sampai kondisi anak stabil kemudian
di ruangan, perawatan yang diberikan meliputi:
·
Observasi satus pernafasan anak.
·
Observasi status
neurologis.
·
Tempatkan anak dengan posisi miring atau terlentang.
·
Pertahankan hidrasi
dengan memberikan cairan peroral.
·
Lindungi untuk mengatasi terjadinya komplikasi
·
Tempatkan anak di ruang
isolasi dan gunakan
standar precaustion.
·
Batasi pengunjung dan kurangi stimulus
(cahaya dan bising).
·
Konsep dasar penyakit KEJANG DEMAM
·
Pengertian
Kejang demam adalah kejang yang muncul akibat
demam pada bayi atau anak kecil (National Institute of
Neurological Disorders and Stroke/ NINDS, 2013).
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C)
yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium.
·
Etiologi/Penyebab
Penyebab pasti belum diketahui dan sering disebabkan karena infeksi seperti
ISPA, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.
·
Klasifikasi Kejang
Demam
Kejang diklasifikasikan menjadi
dua yaitu:
·
Kejang Parsial
Beberapa hal berbeda dapat
menyebabkan kejang parsial, misalnya cedera kepala, infeksi otak, stroke, tumor, atau perubahan dalam cara daerah
otak dibentuk sebelum lahir (disebut
dysplasia kortikal). Penyebab kejang parsial masih belum jelas tetapi faktor genetik mungkin berperan
(Schachter, 2013).
Kejang demam yang berlangsung
singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik,
tanpa gerakan fokal. Kejang tidak
berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam. Kejang
parsial diklasifikasikan lagi menjadi tiga yaitu kejang parsial sederhana, kejang sensori khusus, dan kejang
parsial kompleks (Wong, 2006).
·
Kejang parsial
sederhana ditandai dengan kondisi yang tetap sadar dan waspada, gejala motorik terlokalisasi pada salah satu sisi tubuh. Manifestasi lain yang tampak yaitu kedua mata saling
menjauh dari sisi fokus, gerakan tonik-klonik
yang melibatkan wajah, salivasi, bicara berhenti, gerakan klonik terjadi
secara berurutan dari mulai kaki, tangan, atau wajah.
·
Kejang sensori
khusus dicirikan dengan berbagai sensasi. Kebas, kesemutan, rasa tertusuk,
atau nyeri yang berasal dari satu lokasi (misalnya wajah atau
ekstremitas) dan menyebar ke bagian tubuh lainnya merupakan
beberapa manifestasi kejang ini. Penglihatan dapat membentuk gambaran
yang tidak nyata.
Kejang ini tidak umum pada anak-anak di bawah usia 8 tahun.
·
Kejang parsial
kompleks lebih sering terjadi pada anak-anak dari usia 3 tahun sampai remaja. Kejang ini dicirikan dengan
timbulnya perasaan kuat pada dasar lambung
yang naik ke tenggorokan, adanya halusinasi rasa, pendengaran, atau penglihatan. Individu juga sering mengalami perasaan
deja-vu. Penurunan kesadaran terjadi dengan tanda-tanda
individu tampak linglung dan bingung, dan tidak mampu merespons atau mengikuti instruksi. Aktivitas berulang tanpa tujuan dilakukan
dalam keadaan bermimpi,
seperti mengulang kata-kata, menarik-narik pakaian, mengecap-ngecapkan bibir, mengunyah, atau
bertindak agresif (kurang umum pada
anak-anak). Anak dapat merasa disorientasi, konfusi, dan tidak mengingat fase kejang pada saat pasca kejang
·
Kejang Umum
Kejang demam dengan salah satu
tanda yaitu kejang lama lebih dari 15
menit, kejang fokal atau parsial satu
sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial, berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang
lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari
15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan
kejang anak tidak sadar. Kejang lama
terjadi pada 8% kejang demam. Kejang umum terbagi menjadi kejang
tonik-klonik, kejang atonik,
kejang akinetik, dan kejang mioklonik (Wong, 2004).

Sumber : https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19077.htm
Gambar 4.4
Posisi Tonik dan Klonik
·
Patofisiologi
·
Kejang tonik-klonik
merupakan kejang yang paling umum dan
paling dramatis dari semua
manifestasi kejang dan terjadi dengan tiba-tiba. Fase tonik dicirikan dengan mata tampak ke atas, kesadaran
hilang dengan segera,
dan bila berdiri
langsung terjatuh. Kekakuan
terjadi pada kontraksi tonik simetrik pada seluruh otot tubuh yaitu lengan biasanya
fleksi, kaki, kepala, dan leher ekstensi. Tangisan melengking terdengar
dan tampak adanya
hipersalivasi. Fase klonik ditunjukkan dengan gerakan menyentak kasar pada saat tubuh dan ekstremitas berada pada kontraksi
dan relaksasi yang berirama. Hipersalivasi menyebabkan mulut tampak berbusa. Anak juga dapat mengalami inkontinensia urin dan feses. Gerakan berkurang
saat kejang berakhir,
terjadi pada interval
yang lebih panjang,
lalu berhenti secara keseluruhan (Wong,
2004).
·
Kejang atonik
disebut juga serangan drop dan biasa terjadi antara usia 2 dan 5 tahun. Kejang ini terjadi tiba-tiba dan ditandai
dengan kehilangan tonus otot sementara dan kontrol
postur. Anak dapat jatuh ke lantai dengan keras dan tidak dapat mencegah jatuh dengan menyangga
tangan, sering terjadi
kulai kepala, sehingga
dapat menimbulkan cedera
serius pada wajah, kepala, atau bahu. Anak tidak atau dapat mengalami kehilangan kesadaran sementara
(Wong, 2004). Kejang akinetik ditandai dengan
adanya gerakan lemah tanpa kehilangan tonus otot. Anak tampak kaku pada posisi tertentu dan tidak jatuh. Anak
biasanya mengalami gangguan atau kehilangan kesadaran (Wong, 2004).
·
Kejang mioklonik dapat
terjadi dalam hubungannya dengan bentuk kejang lain. Kejang ini dicirikan dengan kontraktur tonik singkat dan tiba-tiba dari suatu otot atau sekelompok otot. Kejang terjadi
sekali atau berulang
tanpa kehilangan kesadaran
dengan jenis simetrik atau
asimetrik (Wong, 2006).
·
Manifestasi Klinis
Kejang Demam
Kejang yang dialami anak diawali dan disertai dengan suhu tubuh yang tinggi.
Mayoritas anak-anak dengan kejang demam memiliki suhu rektal lebih dari
38,9oC (NINDS, 2013).
Kejang demam pada anak umumnya terjadi selama hari pertama demam. Anak-anak yang rentan terhadap
kejang demam tidak dianggap memiliki
epilepsi, karena epilepsi
ditandai dengan kejang berulang yang tidak dipicu oleh demam. Seorang
anak dikatakan mengalami demam saat suhu tubuh mencapai
atau di atas salah
satu dari level:
·
100.4° F (38° C) diukur dalam bagian bawah (dubur).
·
99,5° F (37,5°
C) diukur dalam mulut (per oral).
·
99° F (37,2 ° C) diukur
di bawah lengan
(aksila).
Sekitar satu dari 25 anak akan
mengalami minimal satu kali kejang demam, dan lebih dari sepertiga anak-anak tersebut akan mengalami kejang demam
berikutnya apabila belum mendapatkan
penanganan (NINDS, 2013). Kejang demam biasanya terjadi pada anak-anak antara usia 6 bulan dan 5 tahun (60 bulan)
dan sangat umum pada balita. Anak-anak jarang
menampakkan kejang demam pertama mereka sebelum usia 6 bulan atau
setelah 3 tahun. Semakin bertambah
usia anak saat kejang demam pertama terjadi,
semakin kecil kemungkinan anak mengalami kejang demam
berulang. Perbedaan manifestasi klinis pada kejang demam sederhana dan kompleks dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2
Manifestasi Klinis
Kejang Demam
|
Kejang Demam Sederhana |
Kejang Demam Kompleks |
|
·
Kejang terjadi
selama < 15 menit. ·
Gejala motorik
terlokalisasi pada salah
satu sisi tubuh. ·
Tidak berulang dalam periode 24 jam. |
·
Kejang terjadi
selama lebih dari 15 menit. ·
Gejala motorik
dapat terlokalisasi atau terjadi pada seluruh tubuh, atau kejang umum didahului
kejang parsial. ·
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam periode 24 jam. |
Sumber: Mick & Cummings (2006)
Pada pemeriksaan fisik akan tampak ketika anak mengalami kejang demam yaitu anak teraba panas dengan suhu 39,8oC
(Mick & Cummings, 2006). Anak tidak
sadar dan tampak kaku atau bergetar
pada tangan dan kaki pada salah satu sisi atau seluruh tubuhnya. Mata anak tampak berputar atau melihat ke arah
atas selama kejang berlangsung (Appleton &
Marson, 2009).
·
Pemeriksaan Laboratorium.
·
Kadar leukosit yang
tinggi (>17500 sel/L) menunjukkan bahwa tubuh anak terkena infeksi.
·
Penurunan kadar Hb
dan eritrosit perlu menjadi perhatian perawat. Kadar Hb di bawah rentang
normal (11-16 g/dl) menunjukkan adanya masalah dalam pemenuhan kebutuhan O2 pada anak yang dapat memperburuk kejang anak. Pemeriksaan diagnostik seperti pungsi lumbal, CT Scan, atau MRI, diperlukan
untuk memastikan tidak ada infeksi yang berasal dari sistem saraf pusat.
·
Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Penanganan selama terjadi
serangan kejang meliputi:
·
Jangan dilakukan
restrain atau menghentikan kejang.
·
Tempatkan pada area yang aman, bersih dan jauhkan
dari benda yang membahayakan.
·
Alasi dengan selimut jika lantai keras.
·
Anak dipindahkan hanya bila anak ada dilokasi
yang membahayakan.
·
Longgarkan baju bagian leher
jika memungkinkan buka baju.
·
Jika anak muntah, saliva
dan secret maka posisikan mulut salah satu sisi.
Fokus perhatian untuk menurunkan demam:
·
Berikan acetaminophen lewat anus (jika ada).
·
Jangan dimasukkan sesuatu pada mulut.
·
Berikan kompres
dingin. Jangan gunakan
air hangat karena
dapat menyebabkan demam semakin memburuk.
·
Setelah kejang
dan sadar maka berikan ibuprofen
dengan dosis normal.
·
Konsep Dasar Penyakit HIV dan
AIDS
·
Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS yang termasuk kelompok retrovirus.
Seseorang yang terinfeksi HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup. Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap
asimtomatik (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit) untuk jangka waktu lama. Meski demikian, sebetulnya mereka telah dapat
menulari orang lain (Permenkes, 2013).
AIDS adalah singkatan dari Acquired
Immune Deficiency Syndrome. “Acquired” artinya tidak diturunkan, tetapi didapat; “Immune” adalah sistem daya tangkal atau kekebalan tubuh terhadap penyakit; “Deficiency” artinya
tidak cukup atau kurang; dan “Syndrome” adalah
kumpulan tanda dan gejala penyakit. AIDS adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV,
yang merupakan kumpulan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan
tubuh, sehingga penderita tidak dapat menahan
serangan infeksi jamur, bakteri
atau virus (Permenkes, 2013).
·
Cara Penularan HIV
Human immunodeficiency virus
(HIV) dapat masuk ke tubuh melalui tiga cara, yaitu melalui (1) hubungan seksual, (2) penggunaan jarum yang tidak
steril atau terkontaminasi HIV, dan
(3) penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin dalam kandungannya,
yang dikenal sebagai Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).
·
Hubungan seksual.
Penularan melalui hubungan
seksual adalah cara yang paling dominan dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi
selama sanggama laki- laki dengan
perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Sanggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal, atau oral
antara dua individu. Risiko tertinggi adalah
penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak
seksual oral langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina) termasuk dalam kategori risiko rendah tertular HIV.
Tingkatan risiko tergantung pada jumlah virus yang ke luar dan masuk ke dalam tubuh seseorang, seperti pada luka
sayat/gores dalam mulut, perdarahan gusi, dan atau penyakit gigi mulut atau pada alat genital.
·
Pajanan oleh darah, produk
darah, atau organ dan jaringan
yang terinfeksi.
Penularan dari darah dapat
terjadi jika darah donor tidak ditapis (uji saring) untuk pemeriksaan HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit suntikan, atau
penggunaan alat medik lainnya yang
dapat menembus kulit. Kejadian di atas dapat terjadi pada semua pelayanan kesehatan, seperti rumah
sakit, poliklinik, pengobatan tradisional melalui
alat penusuk/jarum, juga pada pengguna napza suntik (penasun). Pajanan HIV pada organ dapat juga
terjadi pada proses transplantasi jaringan/organ di fasilitas pelayanan kesehatan.
·
Penularan dari ibu ke anak.
Lebih dari 90% anak yang
terinfeksi HIV didapat dari ibunya. Virus dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya
selama hamil, saat persalinan dan menyusui. Tanpa
pengobatan yang tepat dan dini, setengah dari anak yang terinfeksi tersebut akan meninggal sebelum ulang tahun kedua.
·
Patofisiologi Infeksi
HIV
Sesudah HIV memasuki tubuh
seseorang, maka tubuh akan terinfeksi dan virus mulai mereplikasi diri dalam sel orang tersebut (terutama sel limfosit
T CD4 dan makrofag). Virus HIV akan
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan antibodi untuk HIV. Masa antara masuknya
infeksi dan terbentuknya antibodi yang dapat dideteksi melalui
pemeriksaan laboratorium adalah selama 2-12 minggu dan disebut masa
jendela (window period). Selama
masa jendela, pasien
sangat infeksius, mudah menularkan kepada
orang lain, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya masih negatif.
Hampir 30-50% orang mengalami masa infeksi akut pada masa infeksius ini, di mana gejala dan tanda yang biasanya
timbul adalah: demam, pembesaran kelenjar getah bening, keringat malam, ruam kulit,
sakit kepala dan batuk.
Orang yang terinfeksi HIV dapat
tetap tanpa gejala dan tanda (asimtomatik) untuk jangka waktu cukup panjang bahkan sampai 10 tahun atau lebih.
Namun orang tersebut dapat menularkan
infeksinya kepada orang lain. Kita hanya dapat mengetahui bahwa orang tersebut terinfeksi HIV dari pemeriksaan
laboratorium antibodi HIV serum. Sesudah jangka waktu tertentu, yang bervariasi dari orang ke orang, virus
memperbanyak diri secara cepat dan diikuti dengan perusakan sel limfosit
T CD4 dan sel kekebalan lainnya sehingga terjadilah gejala berkurangnya daya tahan tubuh yang progresif. Progresivitas tergantung pada beberapa
faktor seperti: usia kurang dari 5 tahun atau di atas 40 tahun, infeksi
lainnya, dan faktor genetik.
“HIV tidak ditularkan melalui
bersalaman, berpelukan, bersentuhan atau berciuman; penggunaan toilet umum, kolam renang, alat makan atau minum
secara bersama; ataupun gigitan
serangga, seperti nyamuk”.
·
Faktor yang berperan dalam
penularan HIV dari ibu ke anak
Ada tiga faktor utama yang
berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.
·
Faktor Ibu
·
Jumlah virus (viral load)
Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang
atau saat persalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya
sangat mempengaruhi penularan
HIV dari ibu ke anak. Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml)
dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml.
·
Jumlah sel CD4
Ibu dengan jumlah sel CD4
rendah lebih berisiko menularkan HIV ke bayinya. Semakin rendah jumlah sel
CD4 risiko penularan HIV semakin besar.
·
Status gizi selama hamil
Berat badan rendah serta
kekurangan vitamin dan mineral selama hamil meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit
infeksi yang dapat meningkatkan jumlah virus
dan risiko penularan HIV ke bayi.
·
Penyakit infeksi
selama hamil
Penyakit infeksi seperti sifilis,
Infeksi Menular Seksual,
infeksi saluran reproduksi lainnya, malaria, dan tuberkulosis, berisiko
meningkatkan jumlah virus dan risiko
penularan HIV ke bayi.
·
Gangguan pada payudara
Gangguan pada payudara ibu dan
penyakit lain, seperti mastitis, abses, dan
luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko penularan HIV melalui ASI.
·
Faktor Bayi
·
Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir
Bayi lahir prematur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) lebih rentan tertular
HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan
tubuhnya belum berkembang dengan baik.
·
Periode pemberian
ASI
Semakin lama ibu menyusui, risiko
penularan HIV ke bayi
akan semakin besar.
·
Adanya luka di mulut
bayi
Bayi dengan luka di mulutnya
lebih berisiko tertular
HIV ketika diberikan
ASI.
·
Faktor obstetrik
Pada saat persalinan, bayi
terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Faktor obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan
HIV dari ibu ke anak selama persalinan adalah :
·
Jenis persalinan
Risiko penularan persalinan per
vaginam lebih besar daripada persalinan melalui bedah sesar (sectio caesaria).
·
Lama persalinan
Semakin lama proses persalinan
berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke
anak semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya kontak antara bayi
dengan darah dan lendir ibu.
·
Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat
dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4
jam.
·
Tindakan
episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan risiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi. (Permenkes,
2013).
·
Tes dan Diagnosis infeksi
HIV pada anak
Menurut Depkes (2008) diagnosis
infeksi HIV pada bayi yang terpajan pada masa perinatal dan pada anak kecil sangat sulit karena antibody maternal terhadap
HIV yang didapat secara pasif mungkin
masih ada pada darah anak sampai umur 12 bulan. Sebagian besar anak akan kehilangan
antibodi HIV pada umur 9-18 bulan.
Tes yang dilakukan adalah:
1) Tes Antibodi (Ab) HIV (ELISA atau rapid test)
Test cepat makin tersedia
dan aman, efektif,
sensitif dan dapat dipercaya untuk mendiagnosa
infeksi HIV pada anak mulai umur 18 bulan. Untuk anak berumur < 18 bulan, tes cepat antibodi merupakan
cara yang sensitif,
dapat dipercaya untuk mendeteksi
bayi yang terpajan HIV dan untuk menyingkirkan infeksi HIV pada anak yang tidak mendapat ASI. Metode PCR (Polymerase
Chain Reaction). Digunakan untuk tes HIV pada bayi, menetapkan status infeksi individu
yang seronrgative pada
kelompok resiko tinggi.
1) Tes
Virologi
Tes virology untuk RNA atau DNA
yang spesifik HIV merupakan metode yang paling
dipercaya intuk mendiagnosa infeksi HIV pada anak umur < 18 bulan.
Jika anak pernah mendapatkan
pencegahan dengan zidovudine (ZDV) selama atau sesudah persalinan maka tes virology
tidak dianjurkan sampai 4-8 minggu setelah lahir karena akan mempengaruhi
tingkat kepercayaan tes. Jika bayi muda masih mendapat ASI dan tes virology RNA negatif, maka perlu diulang 6
minggu setelah anak benar-benar disapih untuk memastikan bahwa anak tidak terinfeksi HIV
Tabel 4.3
Skenario Pemeriksaan HIV
|
Kategori |
Tes Yang Diperlukan |
Tujuan |
Aksi |
|
Bayi sehat, ibu terinfeksi HIV |
Uji Virologi Umur
6 minggu |
Mendiagnosis HIV |
Mulai ARV bila
terinfeksi HIV |
|
Bayi-pajanan HIV tidak Diketahui |
Serologi ibu atau bayi |
Untuk Identifikasi atau memastikan pajanan HIV |
Memerlukan tes virologi bila terpajan HIV |
|
Bayi sehat terpajan HIV, umur 9
bulan |
Serologi pada imunisasi 9 bulan |
Untuk mengidentifikasi bayi
yang masih memiliki antibodi ibu
atau seroreversi |
Hasil positif harus diikuti dengan
uji virologi dan pemantauan lanjut.
Hasil negatif harus dianggap tidak
terinfeksi, ulangi tes bila masih mendapat ASI. |
|
Bayi atau anak dg gejala dan tanda sugestif infeksi HIV |
Serologi |
Memastikan infeksi |
Lakukan uji virologi bila umur
< 18 bulan |
|
Bayi umur >9-<18 bulan
dengan uji serologi positif |
Uji virologi |
Mendiagnosis HIV |
Bila positif terinfeksi segera
masuk ke tatalaksana HIV dan terapi ARV |
|
Bayi yang sudah berhenti
ASI |
Ulangi uji (serologi atau
virologi) setelah berhenti minum
ASI 6 minggu. |
Untuk mengeksklusi infeksi
HIV setelah pajanan dihentikan |
Anak < 5 tahun terinfeksi HIV
harus segera mendapat tatalaksana HIV termasuk ARV |
·
Pengobatan Antiretroviral
Pegobatan ARV tidak untuk
menyembuhkan HIV tetapi dapat menurunkan kesakitan dan kematian secara dramatis serta memperbaiki kualitas
hidup pada orang dewasa maupun anak-anak. Pengobatan secara dini
(walaupun dalam kondisi terbatas) pada masa infeksi
primer pada bayi mungkin bisa memperbaiki
perjalanan penyakit. Pengobatan obat ARV
untuk anak di fasilitas dengan
sumber daya terbatas, berikut di bawah ini:
·
Nucleosida analogue
reverse trancriptase inhibitor (NRT)
·
Zidovudin ZDT (ZT)
·
Lamivudin 3TC
·
Stavudine d4T
·
Didanosine ddl
·
Abacavir ABC
·
Non-nucleotida reverse
trancriptase Inhibitor (NNRT)
·
Nevirapine NVP
·
Efavirenz EFV
·
Orotease inhibitor
(PI)
·
Nelfinavir NFV
·
Lapinavir LPV/r
·
Saquinavir SQV
·
Pemulangan dari rumah sakit
Anak dengan infeksi HIV mungkin memberikan respons lambat atau tidak lengkap terhadap pengobatan yang biasa. Anak
mungkin menderita demam yang persisten, diare
persisten atau batu kronik. Apabila keadaan umumnya baik maka tidak
perlu perawatan di rumah sakit,
tetapi dapat diperiksa secara teratur
sebagai pasien rawat jalan.
·
Perawatan paliatif
dan fase terminal
Pada anak dengan infeksi
HIV sering merasa tidak nyaman sehingga perawatan
menjadi sangat penting.
Buatlah semua keputusan
bersama ibunya dan komunikasikan secara jelas kepada petugas yang lain.
Pertimbangkan perawatn paliatif di rumah, beberapa pengobatan untuk mengatasi rasa nyeri dan menghilangkan
kondisi sulit
Ringkasan
Angka mortalitas bayi (angka kematian bayi) adalah jumlah kematian per 1.000 kelahiran
hidup selama tahun pertama kehidupan
dan kemudian dibagi lagi menjadi
mortalitas neonatal untuk usia lebih dari 28 hari dan mortalitas pasca natal untuk usia 28 hari sampai 11 bulan. Angka mortalitas
anak (angka kematian anak) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai
umur 5 tahun per 1000 kelahiran hidup.
Morbiditas (kesakitan) sulit
didefinisikan dan hanya menunjukkan penyakit akut, penyakit kronis dan ketidakmampuan. Morbiditas dapat merujuk
pada pernyataan terkena
penyakit, derajat kerasnya
penyakit, meratanya penyakit:
jumlah kasus pada populasi, insiden penyakit:
jumlah kasus baru pada populasi
serta cacat terlepas dari akibat seperti cacat disebabkan oleh kecelakaan. Penyakit
infeksi meliputi DBD, pneumonia, diare, meningitis, kejang demam
dan HIV/AIDS. Penyebab biasanya oleh berbagai kuman seperti: bakteri virus,
kuman streptokokus, stapilokokus e.
coli, dan lain-lain. Keluhan yang sering muncul bermacam- macam. Keluhan yang muncul tergantung pada
jenis penyakit tetapi yang paling menonjol adalah demam dan nyeri,
pengobatan dan penatalaksanaan tergantung jenis penyakit.
Tes 1
Pilihlah satu jawaban
yang paling tepat!
·
Jumlah anak yang meninggal
sebelum mencapai umur 5 tahun per 1.000 kelahiran hidup adalah ....
·
angka mortalitas
·
statistik vital
·
mortalitas bayi
·
mortalitas neonatus
·
Morbiditas sangat
sulit didefinisikan tetapi
hanya menunjuk pada ....
·
penyakit akut
·
penyakit kronis
·
ketidakberdayaan
·
kematian balita
·
Penyebab terbanyak kematian Balita adalah
....
·
diare
·
pneumonia
·
DBD
·
bronchopneumonia
·
Salah satu masalah penyakit
pernafasan yang sering
diderita anak-anak adalah
....
·
tuberculosis
·
pneumonia
·
ISPA
·
bronchitis
·
Nyamuk aedes
aegypti biasa menggigit
pada waktu .…
·
Pagi jam 7 - 8 dan
sore 14 - 15
·
Pagi jam 9 - 10 dan
sore jam 16 -17
·
Pagi jam 8 - 9 dan
sore/siang jam 13 - 14.
·
Pagi jam 8 - 9 dan
sore/siang 14 - 15
·
Pada anak dengan diare berat akan ditemukan tanda dan gejala berikut
ini ....
·
rewel, gelisah
dan mata cekung
·
letargi, mata cekung, cubitan
kulit perut kembali
sangat lambat (≥ 2 detik)
·
mata cekung,
minum dengan lahap,
haus dan cubitan
kulit kembali lambat
·
tidak bisa minum atau malas minum,
minum dengan lahap,
haus, cubitan kulit
kembali lambat
·
Komplikasi yang sering terjadi
pada anak dengan meningitis adalah ….
·
effusi pleura
·
diare
·
pneumonia
·
abses otak
·
Penatalaksanaan keperawatan pada anak dengan
kejang demam saat terjadi kejang,
kecuali ....
·
jangan dilakukan restrain atau menghentikan kejang.
·
tempatkan pada area yang aman, bersih dan jauhkan
dari benda yang membahayakan.
·
jika anak muntah, saliva
dan secret maka posisikan mulut salah satu sisi.
·
selimuti anak dan posisikan kepala lebih tinggi
dan terlentang.
·
Faktor yang mempengaruhi/berperan dalam penularan HIV dari ibu ke anak adalah,
kecuali ....
·
jumlah virus.
·
status gizi ibu
hamil.
·
gangguan payudara.
·
penyakit yang diseritan ibu selama hamil.
·
Tujuan perawatan
paliatif pada anak dengan HIV pada stadium
terminal adalah ....
·
menyembuhkan penyakit
anak.
·
membimbing anak menjelang kematian.
·
mengatasi keluhan
nyeri.
·
meningkatkan kesehatan anak.
Komentar
Posting Komentar