Jenis Penyakit Non Infeksi Pada Anak

 

Bab

Jenis Penyakit Non Infeksi  Pada Anak

 

·         TUJUAN PEMBELAJARAN

 

·         Umum :

Setelah mempelajari materi ini, peserta diharapkan mampu memahami tentang berbagai penyakit non infeksi pada anak.

 

·         Khusus

Setelah selesai mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu: menjelaskan konsep dasar jenis-jenis penyakit non infeksi.

 

·         POKOK-POKOK MATERI

 

Berdasarkan tujuan yang telah dipaparkan di atas, maka pokok-pokok materi yang akan dibahas dalam Topik 2 ini adalah: Konsep dasar jenis-jenis penyakit non infeksi.

 

·         URAIAN MATERI

 

·         Konsep dasar penyakit LEUKEMIA

·         Pengertian

Leukemia merupakan penyakit akibat proliferasi (bertambah banyak atau multiplikasi) patologi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal. (Nursalam, susilaningrum dan Utami, 2005). Leukemia merupakan keganasan pada anak. Leukemia merupakan kanker yang berasal dari sumsum tulang dengan karakteristik meningkatnya jumlah sel darah putih.

 

·         Jenis Leukemia

Berdasarkan perjalanan penyakitnya , leukemia dapat dibgi menjadi :

·         Leukemia Lymphoblastik Akut (LLA)

·         Leukemia Myeloblastik Akut (LMA)

·         Leukemia Lymphoblastik Kronik (LLK)

·         Leukemia Myeloblastik Kronik (LMK).

 

Di antara jenis-jenis leukemia tersebut maka jenis LLA adalah yang paling banyak terjadi pada anak-anak.

 

·         Penyebab

Penyebab leukemia sampai sekarang belum diketahui secara jelas, diduga bahwa factor infeksi, virus, zat kimia, radiasi dan obat-obatan dapat mempengaruhi leukemia.

 

Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi sebagai pemicu terjadinya leukemia. Faktor keturunan diduga mempengaruhi timbulnya kanker. Terpapar sinar X pada ibu dengan kehamilan muda dapat beresiko terjadinya kanker pada janin yang dikandungnya. (Nursalam, Susilaningrum dan utami, 2005).

 

·         Patofisiologi

Akut limpositik leukemia terjadi ketika salah satu sel limpoid yang berkembang menjadi malignan/keganasan dan berfroliferasi yang tidak terkontrol. Pada sumsum tulang anak dengan ALL menginvasi limpobast malignan atau menyebabkan ketidakmatangan sel darah potih menyebabkan kepadatan berlebihan dari sel darah merah, platelet dan sel darah putih sehingga mengakibatkan pansitopenenia. (berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih dan menekan system immune). Dan pada ALL akan menyebabkan neutropenia, trombositopenia, anemia dan penekanan system imun. (Potts dan Mandleco, 2005)

 

·         Manifestasi klinis

Menurut Nursalam, susilaningrum dan utami, 2005) gejala klinis yang khas pada leukemia adalah :

·         Anemia atau pucat (dapat terjadi mendadak), mudah lelah, kadang sesak nafas, anemia terjadi karena sum-sum tulang gagal memproduksi sel darah merah.

·         Suhu tubuh tinggi dan mudah terinfeksi.

Adanya penurunan leukosit secara otomatis akan menurunkan daya tahan tubuh karena leukosit yang berfungsi untuk mempertahankan daya tahan tubuh tidak bekerja secara optimal. Konsekuensinya tubuh akan mudah terkena infeksi yang bersifat lokal maupun sistemik, dan kejadiannya sering berulang. Suhu tubuh meningkat disebabkan karena adanya infeksi kuman secara sistemik (sepsis). Tanda-tanda infeksi tersebut harus diwaspadai karena pada anak yang menderita leukemia, tidak ditemukan tanda- tanda yang spesifik pada tahap awalnya.

·         Perdarahan.

Tanda-tanda perdarahan dapat dikaji dengan adanya perdarahan mukosa seperti gusi, hidung (epistaksis), atau perdarahan di bawah kulit (petekia). Perdarahan dapat terjadi secara spontan atau karena trauma, tergantung pada kadar trombosit dalam darah. Apabila kadar trombosit sangat rendah maka perdarahan dapat terjadi secara spontan.

·         Nyeri pada tulang atau persendian.

Adanya infiltrasi sel-sel abnormal ke system musculoskeletal mambuat anak merasa nyeri pada persendian terutama apabila digerakan.

·         Pembesaran kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening merupakan tempat pembentukan limposit dan limposit merupakan komponen leukosit. Adanya pertumbuhan sel-sel darah abnormal pada sumsum tulang mengakibatkan kelenjar getah bening mengalami pembesaran karena infiltrasi sel-sel abnormal dari sumsum tulang.

 

·         Hepatosplenomegali

Limpa merupakan salah satu organ yang berfungsi untuk pembentukan sel darah merah saat bayi berada dalam kandungan. Bila sumsum tulang mengalami kerusakan maka lien dan hepar akan mengambil alih fungsinya sebagai pertahanan diri kibatnya lien dan hepar mengalami pembesaran.

·         Penurunan kesadaran.

Adanya infiltrasi sel-sel darah yang abnormal ke otak dapat menyebabkan berbagai gangguan di otak seperti kejang sampai koma.

·         Kehilangan nafsu makan.

 

·         Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegaka diagnose leukemia, meliputi: 1). Hemoglobin dan eritrosit menurun

·         Leukosit normal, menurun atau meningkat.

·         Trombosit menurun (Thrombositopenia), dan kadang jumlahnya hanya sedikit.

·         Hapusan darah hormokrom, normasiter dan hamper selalu dijumpai blastosit yang abnormal.

·         Pemeriksaan sumsum tulang. Untuk anak yang diduga menderita leukemia maka pemeriksaan sumsum tulang mutlak harus dilakukan. Hasil pemeriksaan hamper selalu penuh dengan blastosit abnormal dan system hemopoetik normal yang terdesak. (Nursalam, susilaningrum dan utami, 2005).

 

·         Penatalaksanaan Medis

Menurut Pengobatan pada anak dengan leukemia meliputi:

·         Tranfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, apabila terjadi perdarahan hebat dan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mm³, maka diperlukan tranfusi trombosit.

·         Pemberian Antibiotik profilaksis untuk pencegahan infeksi. 3). Kemoterapi.

Kemoterapi adalah pemberian agen kimia atau obat antineoplastic yang bertujuan untuk mengobati penyakit melalui penekanan pertumbuhan organ penyebab dan tidak membahayakan bagi anak. (Nursalam, Susilaningrum dan Utami, 2005).

 

·         Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan yang diperlukan secara umum, untuk membantu mengurangi masalah pada anak meliputi :

1).     Menghindari trauma dan resiko perdarahan 2).         Meningkatkan daya tahan tubuh.

·         Memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein dengan adekuat dan bervariasi karena biasanya anak sulit makan.

·         Menganjurkan pada orngtua agar anak cukup istirahat. Orangtua perlu menciptakan ligkungan yang menyenangkan, tenang dan cukup ventilasi.

 

·         Menjauhkan anak dari lingkungan yang terinfeksi. Seperti daerah wabah tertentu atau anggota keluarga yang sedang sakit.

·         Mengobservasi tanda vital dan efek samping pemberian sitostatika (obat kemoterapi) 7).         Apabila anak mengalami tanda infekasi seperti ISPA maka harus segera disembuhkan.

(Nursalam, susilaningrum dan utami, 2005).

 

·         Konsep dasar penyakit TALASEMIA

·         Pengertian

Thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipopkromik herediter dengan berbagai derajat keparahan. Defek genetic yang mendasari meliputi delesi total atau parsial gen rantai globin dan substitusi, delesi atau insersi nukloetida (Behrman, 2012).

Thalassemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan dan ditandai oleh defisiensi produk rantai globin pada hemoglobin (Suriadi, 2006)

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipopkromik yang diturunkan dan ditandai oleh defisiensi produk rantai globin pada hemoglobin.

 

·         Klasifikasi

Klasifikasi dari penyakit thalassemia menurut Suriadi (2006) yaitu :

·         Thalassemia alfa

Thalassemia alfa merupakan jenis thalassemia yang mengalami penurunan sintesis dalam rantai alfa. Thalasemia ini memiliki gejala yang lebih ringan bila dibandingkan dengan thalassemia beta, beberapa kasus ditemukan thalassemia alfa ini sering terjadi tanpa gejala. Keadaan sel darah merah yang mikrositik. Umumnya jenis thalassemia alfa ini banyak dijumpai di beberapa tempat di Asia Tenggara.

·         Thalassemia beta

Thalassemia beta merupakan jenis thalassemia yang mengalami penurunan pada rantai beta. Jenis thalassemia beta mempunyai tanda dan gejala yang sudah mulai terlihat bila   dibandingkan dengan jenis thalassemia rantai alfa dan memiliki gejala yang bervariasi. Dalam jenis thalassemia ini gangguan yang terjadi adalah sintesis rantai alfa-beta yang tidak berpasangan.

Pada jenis thalassemia beta, jenis ini dibagi kembali menjadi tiga bagian yaitu:

·         Thalassemia minor/thalassemia trait ditandai oleh anemia mikrositik, bentuk heterozigot, biasanya tidak memberikan gejala klinis.

·         Thalassemia intermedia ditandai oleh splenomegali, anemia berat, bentuk homozigot.

·         Thalasemia mayor anemia berat, betuk homozigot, tidak dapat hidup tanpa transfusi, biasanya memberikan gejala klinis jelas (Suriadi, 2006).

 

·         Etiologi

Sebagian besar penderita thalassemia terjadi karena factor turunan genetic pada sintesis hemoglobin yang diturunkan oleh orang tua (Suriadi, 2006). Sementara menurut

 

Ngastiyah (2006) Penyebab kerusakan tersebut karena hemoglobin yang tidak normal (hemoglobinopatia) dan kelainan hemoglobin ini karena adanya gangguan pembentukan yang disebabkan oleh gangguan structural pembentukan hemoglobin (hemoglobin abnormal) misalnya pada HbS, HbF, HbD dan sebagainya, selain itu gangguan jumlah (salah satu/beberapa) rantai globin seperti pada thalassemia.

 

·         Patofisiologi

Menurut Suriadi (2006) patofisisologi dari thalassemia yaitu normal hemoglobin terdiri dari Hb A dengan dua polipeptida rantai α dan dua rantai β. Pada beta thalassemia yaitu tidak adanya atau kurangnya rantai beta dalam molekul hemoglobin yang mana ada gangguan kemampuan eritrosit membawa oksigen. Ada suatu kompensator yang meningkat dalam rantai alpa, tetapi rantai beta memproduksi secara terus menerus sehingga menghasilkan hemoglobin defective. Ketidakseimbangan polipeptida ini memudahkan ketidakstabilan dan disintegrasi. Hal ini menyebabkan sel darah merah menjadi hemolisis dan menimbulkan anemia dan atau hemosiderosis.

Kelebihan pada rantai alpa ditemukan pada thalassemia beta dan kelebihan rantai beta dan gamma ditemukan pada thalassemia alpa. Kelebihan rantai polipeptida ini mengalami presipitasi dalam sel eritrosit. Globin intraeritrositik yang mengalami presipitasi, yang terjadi sebagai rantai polipeptida alpa dan beta, atau terdiri dari hemoglobin tak stabil badan Heinz, merusak sampul eritrosit dan menyebabkan hemolisis.

Reduksi dalam hemoglobin menstimulasi bone marrow memproduksi RBC yang lebih. Dalam stimulasi yang konstan pada bone marrow, produksi RBC di luar menjadi eritropoitik aktif. Kompensator produksi RBC secara terus menerus pada suatu dasar kronik, dan dengan cepatnya destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya sirkulasi hemoglobin. Kelebihan produksi dan destruksi RBC menyebabkan bone marrow menjadi tipis dan mudah pecah atau rapuh.

 

·         Manifestasi Klinis

Pada penyakit thalassemia gejala klinis telah terlihat sejak anak baru berumur kurang dari 1 tahun. Gejala yang tampak ialah anak lemah, pucat, perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur, berat badan kurang. Pada anak yang besar sering dijumpai adanya gizi buruk, perut membuncit, karena adanya pembesaran limpa dan hati yang mudah diraba. Adanya pembesaran limpa dan hati tersebut mempengaruhi gerak si pasien karena kemampuannya terbatas. Limpa yang membesar ini akan mudah pecah/robek hanya karena trauma ringan saja (Ngastiyah, 2005).

Gejala lain yang khas ialah bentuk muka yang mongoloid, hidung pesek tanpa pangkal hidung, jarak antara kedua mata lebar dan tulang dahi juga lebar. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan tulang muka dan tengkorak, keadaan kulit pucat kekuning- kuningan. Jika pasien telah sering mnedapat transfuse darah kulit menjadi kelabu secara serupa dengan besi akibat penimbunan besi dalam jaringan kulit. Penimbunan besi dalam jarimggan tubuh seperti pada hepar, limpa, jantung akan mengakibatkan gangguan fatal alat-alat tersebut (Ngastiyah, 2005).

 

·         Pemeriksaan Diagnostik

Studi hematologi terdapat perubahan pada sel darah merah, yaitu mikrositosis, hipokromia, anisositosis, poikilositosis, sel target, eritrosit yang immature, penurunan hemoglobin dan hematokrit. Elektroforesis hemoglobin yaitu peningkatan hemoglobin F dan A2 (Suriadi, 2006).

Hasil hapusan darah tepi didapatkan gambaran anisositosis, hipokromi, poikilositosis. Kadar zat besi dalam serum meninggi dan daya ikat serum terhadap zat besi menjadi rendah dapat mencapai nol. Hemoglobin pasien mengandung HbF yang tinggi biasanya lebih dari 30%. Kadang-kadang ditemukan juga hemoglobin patologik. (Ngastiyah, 2005).

 

·         Penatalaksanaan Terapeutik

Terapi diberikan secara teratur untuk  mempertahankan kadar Hb di atas 10 g/dl.

Regimen “hipertransfusi” ini mempunyai keuntungan klinis yang nyata.

Transfusi dengan dosis 15-20 ml/kg sel darah merah terpampat (PRC) biasanya diperlukan setiap 4-5 minggu. Uji silang harus dikerjakan untuk mencegah alloimunisasi dan mencegah reaksi transfusi. Lebih baik digunakan PRC yang relative segar (kurang dari 1 minggu dalam antikoagulan CPD). Walaupun dengan kehati-hatian yang tinggi, reaksi demam akibat transfusi lazim ada. Hal ini dapat diminimalkan dengan penggunaan eritrosit yang direkonstitusi dari darah beku atau penggunaan filter leukosit, dan dengan pemberian antipiretik sebelum transfuse (Behrman, 2012).

Menurut Behrman (2012) terapi hipertransfusi mencegah splenomegali massif yang disebabkan oleh eritropoesis ekstramedular. Namun, splenektomi akhirnya diperlukan karena ukuran organ tersebut. Splenektomi meningkatkan resiko sepsis yang parah sekali, dan oleh karena itu operasi harus dilakukan hanya untuk indikasi yang jelas. Indikasi terpenting untuk splenektomi adalah meningkatnya kebutuhan transfusi yang menunjukkan unsure hipersplenisme. Kebutuhan transfuse melebihi 240 ml/kg biasanya merupakan bukti hipersplenisme dan merupakan indikasi untuk memepertimbangkan splenektomi. Imunisasi pada penderita ini dengan hepatitis B, vaksin influenza, dan vaksin polisakarida pneumokokus, terapi penisilin juga disarankan.

Cangkok sumsum tulang adalah kuratif pada penderita ini dan telah terbukti keberhasilan yang meningkat, meskipun pada penderita yang telah menerima transfusi sangat banyak. Namun prosedur ini membawa cukup resiko morbiditas dan mortalitas dan biasanya hanya dapat digunakan untuk penderita yang mempunya saudara kandung yang sehat (Behrman, 2012).

Biasa transfusi darah menyebabkan akumulasi besi di organ-organ dan mungkin mengganggu organ fungsi atau kerusakan organ. Besi overload menyebabkan sebagian besar mortalitas dan morbiditas yang terkait dengan talasemia. Transfusi jangka panjang harus disertai terapi dengan besi chelating agen (Wahyuni, 2011).

 

·         Penatalaksanaan Keperawatan

Pada dasarnya perawatan thalasemia sama dengan pasien anemia lainnya, yaitu memerlukan perawatan tersendiri dan perhatian lebih. Masalah pasien yang perlu

 

diperhatikan adalah kebutuhan nutrisi (pasien menderita anorexia), risiko terjadi komplikasi akibat tranfusi yang berulang-ulang, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit dan cemas orang tua terhadap kondisi anak (Ngastiyah, 2005).

Menurut Suriadi (2006) tindakan keperawatan yang dapat dilakukan terhadap pasien dengan thalassemia di antaranya membuat perfusi jaringan pasien menjadi adekuat kembali, mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitasnya, memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat dan membuat keluarga dapat mengatasi masalah atau stress yang terjadi pada keluarga.

Selain tindakan keperawatan yang di atas tadi, perawat juga perlu menyiapkan klien untuk perencanaan pulang seperti memberikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak, jelaskan terapi yang diberikan mengenai dosis dan efek samping, jelaskan perawatan yang diperlukan di rumah, tekankan untuk melakukan control ulang sesuai waktu yang di tentukan (Suriadi, 2006).

 

·         Komplikasi

Menurut Suriadi (2006) beberapa komplikasi yang biasanya terjadi pada penderita thalassemia yaitu Fraktur Patologi, Hepatosplenomegali, Gangguan tumbuh kembang dan Gangguang Disfungsi Organ.

Komplikasi jantung termasuk aritmia membandel termasuk gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium, sering merupakan kejadian terminal. Dengan regimen modern dalam penanganan komprehensif untuk penderita ini, banyak dari komplikasi ini dapat dicegah dan yang lainnya diperbaiki dan ditunda awitannya. (Behrman, 2012).

Akibat anemia yang berat dan lama, sering terjadi gagal jantung. Transfuse darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis menyebabkan kadar zat besi dalam darah sangat tinggi, sehingga ditimbun di dalam berbagai jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, jantung dan lain-lain. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat tersebut (hemokromatosis). Limpa yang besar mudah rupture akibat trauma yang ringan saja. Kadang-kadang thalassemia disertai tanda hipersplenisme seperti leucopenia dan trombositopenia. Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung (Ngastiyah, 2005).

 

·         Konsep Dasar Penyakit ASMA BRONCHIALE

·         Pengertian

Asma bronchiale adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronchial berespons secara hiperaktif terhadap stimulus tertentu.

Asma bronchiale adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi klinis adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah baik secara spontan maupun dari pengobatan (The American Thorasic Sociaety).

 

 

 

 

·         Penyebab

Asma biasanya terjadi akibat trakea dan bronkus yang hiperesponsif terhadap iritan. Alergi mempengaruhi keberadaan maupun tingkat keparahan asam, dan atopi atau predisposisi genetic untuk perkembangan respo Ig-E terhadap allergen udara yang umum merupakan factor predisposisi terkuat untuk berkembangnya asma.

·         Pajanan allergen (orang yang sensitive) dan allergen yang umum: debu, Jamur, dan bulu binatang.

·         Infeksi virus.

·         Iritan : Polusi udara, asap, parfum,sabun deterjen.

·         Jenis makanan tertentu (terutama zat yang ditambahkan dalam makanan) 5).         Perubahan cepat suhu ruangan.

6).     Olahraga terutama yang berlebihan. 7).         Stres psikologis. (Muscari, 2005).

 

·         Patofisiologi

Stimulus atau terpapar allergen menyebabkan reaksi inflamasi. Stimulasi allergen dapat meningkatkan sirkulasi Ig E, mast sel dan makrofag sehingga menyebabkan pengeluaran histamine, basophil, eosinophil, neutropil, platelet, limposit T dan prostaglandin. Akibat inflamasi maka bronchus mengalami kontriksi, edema mukosa dan meningkatnya produksi secret sehingga terjadi obstruksi dan sumbatan jalan nafas, yang mana menyebabkan perubahan Ventilasi-perfusi, meningkat pernafasan, hipercapnea, dan hipoksemia jika tidak segera diatasi akan menyebabkan gagal nafas. (Potts dan Mandleco, 2005).

 

·         Manifestasi Klinis

Manifestasi klasik pada anak dengan asma bronchiale adalah terdengar Wheezing saat ekspirasi, batuk kronis, dyspnea. Keluhan lain adalah tachypnea, nyeri dada, kelelahan, peka terhadap rangsang, penggunaan otot pernafasan, cuping hidung dan ortopnea, pada anak yang besar saat duduk tampak bahu diangkat ke atas dengan tangan menahan pada paha dan posisi agak membungkuk.

Pada anak yang sering mengalami kekambuhan maka bentuk dada Barrel Chest dan penggunaan otot pernafasan saat berbafas. Sedangkan pada anak yang mengalami distress nafas berat akan mengalami diaphoresis, cyanosis, dan pucat. (Potts dan Mandleco, 2005).

 

·         Pemeriksaan Penunjang / Diagnostik

Diagnosa asma dibuat berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan diagnostic yang terdiri dari :

·         Pemeriksaan fungsi parru untuk menentukan luasnya/beratnya asma.

·         Pemeriksaan Peak exspiratory flow rate (PEF) dilakukan diakhir ekspirasi untuk mengukur aliran udara perliter dalam satu menit, PEF rendah/lambat selama episode akut sebab perubahan ekspirasi dan tertahanya secret sehingga terjadi obstruksi jalan nafas.

 

·         Pemeriksaan rongsen (X-Ray) untuk mengetahui penyakit lain.

·         Pemeriksaan test kulit untuk mencari faktor reaksi allergen yang dapat menyebabkan reaksi asma.

·         Pemeriksaan analisa gas darah umumnya normal dan untuk memeriksa adanya hipoksemia, hiperkapnea atau asidosis.

·         Kadar leukosit naik jika terdapat infeksi. (Potts dan Mandleco, 2005).

 

·         Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada anak dengan asama brochiale adalah: 1). Status asmatikus

·         Pneumotorak

·         Atelektasis

·         Empisema

 

·         Penatalaksanaan

Menurut Depkes (2008) penatalaksanaan secara umum meliputi:

·         Anak dengan episode pertama wheezing tanpa distress pernafasan bias dirawat dirumah denag terapi penujang. Tidak perlu diberi bronchodilator.

·         Anak dengan distress pernafasan atau mengalami wheezing berulang beri salbutamol dengan nebulasi atau MDI (metered dose inhaler), jika tidak tersedia salbutamol maka beri beri suntikan epineprin/adrenalis subcutan. Kaji kembali anak setelah 20 menit untuk menentukan terapi selanjutnya :

·         Jika distress pernafasan membaik dan tidak ada nafas cepat maka dirawat dirumah dan berikan salbutamol hirup atau sirup atau peroral.

·         Jika distress pernafasan menetap maka anak dirawat di rumah sakit dan berikan terapi oksigen, bronchodilator kerja cepat.

·         Jika anak mengalami sianosis sentral atau tidak bias minum maka dirawat, berikan terapi oksigen dan bronchodilator dan obat lain (jenis obat)

·         Jika dirawat maka berikan oksigen, bronchodilator kerja cepat dan berikan steroid dosis pertama dengan segera. Respons positif (distress pernafasan berkurang, udara masuk trdengar elbih baik saat auskultasi) harus terlihat dalam 20 menit. Bila tidak terjadi beri bronchodilator kerja cepat dengan interval 20 menit.

·         Jika tidak ada respons setelah 3 dosis nronchodilator keja cepat maka beri aminopilin intra vena.

 

·         Jenis obat-obatan yang digunakan

Menurut Depkes (2008), Obat-obatan Bronchodilator kerja cepat, meliputi: 1).         Salbutamol Nebulasi

·         Salbutamol MDI

·         Epineprin (adrenalin) sub cutan

·         Bronchodilator oral : Steroid, aminopilin dan antibiotik.

 

 

 

i.       Penatalaksanaan keperawatan

Pemberian obat digunakan untuk membantu memperbaiki obstruksi jalan nafas dan meningkatkan fungsi pernafasan. Intervensi keperawatan difokuskan untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas, memenuhi kebutuhan cairan, meningkatkan istirahat dan menghilangkan stress pada anak dan orangtua. Dukungan pada keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak serta memberikan informasi cara mengatasi serangan akut:

1)     Mempertahankan kepatenan jalan nafas

Jika anak mengalami kesulitan bernafas maka berikan suplemen oksigen dengan menggunakan kanule atau masker, posisi anak dengan semifowler atau duduk tegak dengan penyangga, observasi menggunakan oksimetri dan status pernafasan serta jelaskan pada keluarga semua prosedur yang diberikan pada anak. Monitor efek samping pemberian obat aerosol dan observasi tanda vital.

·         Memenuhi kebutuhan cairan.

Pemberian cairan sering diperlukan untuk memperbaiki dan mempertahankan keseimbangan cairan dan mengatasi sumbatan oleh secret dan penyempitan jalan nafas. Hindari pemberian berlebihan karena dapat menyebabkan edema paru. Cairan peroral diberikan secara perlahan, obervasi intake dan output dan observasi status hidrasi.

·         Meningkatkan istitahat dan menghilangkan stress.

Anak yang mengalami serangan asama akut sering mengalami kelelahan dan kehabisan tenaga sehingga anak ditempatkan diruangan khusus bila memungkinkan dan tenang.

·         Dukungan keluarga untuk berpartisipasi.

Berikan penjelasan pada keluarga dan orangtua tentang perkembangan kondisi anak minimal 2x/hari dan libatkan keluarga dalam perawatan anak.

 

·         Konsep Dasar Penyakit ANEMIA

·         Pengertian

Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit (sel darah merah) dan kadar Hb (Hemoglobin) dalam setip millimeter kubik darah. Hampir semua gangguan pada system peredaran darah disertai dengan anemia yang ditandai warna kepucatan pada tubuh terutama ekstremitas. (Nursalam, susilaningrum dan utami, 2005).

 

·         Etiologi

Penyebab anemia pada anak dikelompokan sebagai berikut : 1).       Gangguan produksi eritrosit yang dapat terjadi karena :

·         Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemi defisiensi Fe, Talasemia dan anemi infeksi kronik.

·         Perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrient yang dapat menimbulkan anemi pernisiosa dan anemi asam folat.

·         Fungsi sel induk (stem sel) terganggu, sehingga dapat menimbulkan anemi aplastic dan leukemia

 

·         Infiltrasi sumsum tulang, misalnya karena karsinoma.

·         Kehilangan darah

(a).  Akut karena perdarahan atau trauma/kecelakaan yang terjadi secara mendadak. (b).       Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorrhagia.

·         Meningatnya pemecahan eritrosit (Hemolisis) yang dapat terjadi karena :

·         Faktor bawaan misalnya kekurangan enzim G6PD (untuk mencegah eritrosit).

·         Faktor yang didapat yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit, misalnya ureum pada darah karena gangguan gunjal atau penggunaan obat acetosal.

·         Bahan baku untuk pembentukan eritrosit tidak ada yaitu protein,asam folt, vitamin B12, dan mineral Fe.

 

·         Anemi Defisiensi Zat Besi (Fe)

Merupakan anemi yang terjadi karena kekurangan zat besi yang merupakan bahan baku pembuat sel darah dan hemoglobin. Kekurangan zat besi (Fe) dapat disebabkan berbagai hal yaitu:

·         Asupan yang kurang mengandung zat besi terutama pada fase pertumbuhan cepat.

·         Penurunan reabsorpsi karena kelainan pada usus.

·         Kebutuhan yang meningkat misalnya pada anak balita yang pertumbuhannya cepat sehingga memerlukan nutrisi yang lebih banyak.

Secara normal, tubuh hanya memerlukan Fe dalam jumlah sedikit maka ekskresi besi juga sedikit. Pemberian Fe yang berlebihan dalam makanan dapat mengakibatkan hemosiderosis (Pigmen Fe yang berlebihan akibat penguraian Hb) dan hemokromatosis (timbunan Fe yang berlebih dalam jaringan). Pada masa bayi dan pubertas kebutuhan Fe meningkat karena pertumbuhan dan dalam keadaan infeksi.

Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb sehingga pembuatan eritrosit mengalami penurunan, dimana setiap eritrosit akan mengandung Hb dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan bentuk sel menjadi hipokromik mikrositik (bentuk sel darah kecil), karena tiap eritrosit mengandung Hb dalam jumlah sedikit.

 

·         Anemi Megaloblastik.

Merupakan anemi yang disebabkan karena kekurangan asam folat yang disebut juga dengan anemi defisiensi asam folat. Dimana asam folat merupakan bahan esensial untuk sintesa DNA dan RNA yang penting untuk metabolism inti sel. Beberapa penyebab penurunan asam folat adalah :

·         Masukan yang kurang.

·         Gangguan absorpsi (penyerapan), adanya penyakit/gangguan pada gastrointestinal dapat menghambat aksorpsi bahan makanan yang diperlukan tubuh.

 

·         Pemberian obat yang antagonis terhadap asam folat seperti derivate barbiturate karena dapat menghambat kerja sam folat dalam tubuh dimana mempunyai sifat yang bertentangan.

 

 

 

·         Anemi Pernisiosa

Merupakan anemi yang terjadi karena kekuangan vitamin B12 dan termasuk anemi megaloblastik karena bentuk sel drah yang hamper sama dengan anemi defisiensi asam folat. Vitamin B12 berfungsi untuk pematangan normoblas, metabolismejaringan saraf dan purin. Penyebabnya selain asupan yang kurang juga karena adanya kerusakan lambung sehingga lambung tidak dpat mengeluarkan secret yang berfungsi untuk absorpsi B12.

 

·         Anemi Aplastik.

Merupakan anemi yang ditandai dengan pansitopenia (penurunan jumlah semua sel darah) darah tepi dan menurunnya selularitas sumsum tulang sehingga sumsum tulang tidak mamou memproduksi sel darah. Beberapa penyebab terjadinya anaemia aplastic diantarany adalah:

·         Menurunya jumlah sel induk yang merupakan bahan dasar sel darah. Dapat terjadi karena bawaan (idiopatik) dan karena bawaan seperti pemakain obat- obatan seperti bisulfan, kloramfenikol dan klorpromazima, diman obat-obat tersebut mengakibatkan penekanan pada sumsum tulang.

·         Lingkungan mikro seperti radiasi dan kemoterapi yang lama dapat mengakibatkan infiltrasi sel.

·         Penurunan poeitin sehingga yang berfungsi merangsang tumbuhnya sel-sel darah dalam sumsum tulang tidak ada.

·         Adanya sel inhibitor (T. Limphosit) sehingga menekan/ menghambat maturasi sel-sel induk pada sumsum tulang.

 

·         Anemi Hemolitik

Merupakan anemi yang terjadi karena umur eritrosit yang lebih pendek/premature. Normalnya erotrosit berumur antara 100-120 hari. Adanya penghancuran eritrosit yang berlebihan akan mempengaruhi fungsi hepar sehingga kemungkinan terjadinya peningkatan bilirubin, Sumsum tulang juga dapat membentuk 6-8 kali lebih banyak system eritopeotik dari biasanya sehingga banyak dijumpai eritrosit dan retikulosit pada darah tepi. Kekurangan bahan pembentuk sel darah seperti vitamin, protein atau adanya infeksi dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara penghancuran dan pembentukan system erritropoetik. Diduga penyebab anemi hemolitik adalah:

·         Kongental seperti kelianan rantai Hb dan defisiensi enzim G6PD

·         Didapat seperti infeksi, sepsis, obat-obatan dan keganasan sel.

 

·         Tanda dan Gejala

Umunya tanda dan gejala anemia adalah:

·         Pucat yang tampak pada telapak tangan, dasar kuku, konjungtiva dan mukosa bibir

·         Mudah lelah dan lemah

·         Kepala pusing

·         Pernafasan cepat dan pendek

·         Nadi cepat

·         Eliminasi urine dan kadang terjadi penurunan produksi urine.

·         Gangguan sistem saraf seperti kesemutan, ekstremita lemah, spastisitas, dan gangguan dalam pergerakan/melangkah.

·         Gangguan saluran cerna seperti nyeri perut, mual, muntah dan anoreksia.

·         Iritable (cengeng, rewel, atau mudah tersiggung). Apabila anak sebelumnya rewel kemudin setelah diberi makan/minum anak menjadi diam maka hal ini tidak termasuk cengeng (irritable).

·         Suhu tubuh meningkat.

 

·         Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan sel darah tei untuk mengetahui kadar Hb, hematocrit dan eritrosit. Pada anemi defisiensi besi kadar Hb kurang dri 10 gr/dl dan eritrosit menurun.

 

Tabel 4.4.

Nilai normal sel darah berdasarkan usia anak

 

 

Jenis sel darah

Usia anak

Bayi baru

lahir

1 tahun

5 tahun

8 12 tahun

Eritrosit (juta/mikro lt)

5,9 (4,1-7,5)

4,6 (4,1-5,1)

4,7 (4,2-5,2)

5 (4,5-5,4)

Hb ( gr / dl )

19 (14-24)

12 (11-15)

13.5 (12,5-15)

14 (13-15,5)

Leukosit (per mikro lt)

17.000 (8-38)

10.000 (5-15)

8000 (5-13)

8000 (5-112)

Trombosit (per mikro lt)

200.000

260.000

260.000

260.000

Hematokrit (%)

54

36

38

40

Sumber : Essential of pediatric nursing (2005).

 

·         Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan untuk tergantung dari jenis anemia terutama untuk pemberian zat besi, scara umum penatalaksanaannya meliputi:

·         Pada anak dengan defisensi zat besi maka diberikan tablet Ferosulfat setiap hari selama 4 minggu dengan dosis 5 mg/kgBB. Jika anak tidak membaik lakukan kolaborasi untuk pemberian tranfusi.

·         Aktivitas sesuai kemampuan anak

·         Kolaborasi dengan bagian gizi untuk perbaikan pola makan. 4). Hindari kecemasan anak terhadap prosedur.

 

 

 

 

Latihan

 

Pada latihan mandiri Anda disarankan untuk mencari sumber dan mempelajari tentang penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan di atas, serta mempelajari jenis-jenis non infeksi lainnya serta menerapkannya pada asuhan keperawatan.

 

Ringkasan

 

Jenis penyakit non infeksi pada anak banyak jenisnya tetapi yang tinggi angka kejadian dan sedang menjadi perhatian di antaranya Leukemia, Talasemia, dan Asma brocnhiale. Penyebab umumnya bayak karena faktor genetik, Gejala yang muncul pada anak dengan gangguan sistem hematologi (leukemia, talasemia dan anemia) adalah pucat, pusing atau nyeri kepala, kelemahan sedangkan pada asama adalah sesak nafas disertai terdengar suara wheezing (mengi). Pada penatalaksanaan tergantung dari jenis penyakit seperti pada leukima salah satunya kemoterapi, talasemia dengan transfuse dan anemia dengan obat Fe dan makanan.

 

Tes 2

 

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

 

·         Hasil pemeriksaan penunjang yang mendukung anak menderita leukemia adalah ....

·         terdapat splenomgali dan eritrosit menurun.

·         leukositosis dan trombositopenia.

·         Hb dan eritrosit menurun serta trombositopenia.

·         Hb dan leukosit menurun.

 

·         Tanda dan gejala leukemia, kecuali ….

·         anemia terjadi mendadak.

·         perdarahan digusi, hidung dan petekie.

·         nyeri tulang dan sendi.

·         anak sering pingsan.

 

·         Sebagian besar talasemia disebabkan karena ….

·         kurang makanan yang mengandung zat besi.

·         adanya penyakit keganasan.

·         faktor genetik.

·         ibu terkena radiasi saat hamil.

 

·         Komplikasi pada jantung yang sering terjadi pada anak dengan talasemia ….

·         akut miokar infak.

·         jantung reumatik.

·         kardiomegalai (pembesaran otot jantung).

·         gagal jantung kongestif.

 

·         Penyabab terjadinya asma karena faktor iritan adalah, kecuali ....

·         polusi udara.

·         asap.

·         sabun deterjen.

·         gizi kurang.

 

·         Komplikasi yang sering terjadi akibat asma bronchiale adalah ....

·         difteri

·         keganasan pada paru.

·         empisema

·         gagal jantung

 

·         Penyebab terjadinya anemia secara umun akibat gangguan eritrosit ....

·         perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrient

·         perdarahan akut

·         kekurangan enzim G6PD

·         perdarahan kronis

 

·         Penatalaksanaan secara umum pada anemia, kecuali ....

·         anjurkan anak untuk banyak istirahat

·         aktivitas sesuai kemampuan anak

·         kolaborasi dengan bagian gizi untuk perbaikan pola makan

·         hindari kecemasan anak terhadap prosedur

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD PKK 1 ( Pemenuhan Kebutuhan Dasar Bayi 0-6 Hari)

LKPD PKK 1 (Konsep Dasar Home Care)

Imunisasi Dasar Balita