BHD dan Manajemen tersendak
BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)
A.
Pengertian Bantuan Hidup Dasar (BHD)
Bantuan hidup dasar atau Basic Life Support merupakan
sekumpulan intervensi yang bertujuan untuk mengembalikan
dan mempertahankan fungsi vital organ pada korban henti jantung dan henti nafas.
Intervensi ini terdiri
dari pemberian kompresi dada
dan bantuan nafas (Hardisman, 2014).Menurut Krisanty (2009) bantuan hidup dasar adalah memberikan bantuan eksternal
terhadap sirkulasi dan ventilasi pada pasien henti jantung atau henti nafas
melalui RJP.
B. Indikasi Bantuan Hkidup
Dasar (BHD)
Henti nafas dapat disebabkan karena
tenggelam, stroke, obstruksi jalan nafas oleh benda asing, inhalasi asap,
kelebihan dosis obat, terkena aliran listrik, trauma, suffocation, Miocard Cardiac Infark (MCI),
koma.
2. Henti jantung/ cardiac arrest
Henti jantung dapat diakibatkan:
fibrilasi ventrikel, takhikardi ventrikel, asistol.(Krisanty,2009).
C.
Tujuan Bantuan Hidup Dasar (BHD)
Tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS)
memiliki berbagai macam tujuan (Krisanty, 2009), yaitu:
1.
Mempertahankan dan mengembalikan
fungsi oksigenasi organ-organ vital (otak, jantung
dan paru).
2.
Mencegah berhentinya sirkulasi
atau berhentinya respirasi.
3.
Memberikan bantuan eksternal
terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung
atau henti napas.
D. Rantai keselamatan Basic Life Support
(BCLS)
Chain Of
SurvivalBasic Life Support menurut AHA (2015) OHCA
antara lain:

Gambar 1 Rantai
keselamatan pada korban dewasSumber : AHA, 2015. Basic Life Support
Langkah-langkah Basic Life Support pada korban dewasa
1.
Identifikasi korban henti jantung
dan Aktivasi SPGDT segera
Melakukan 3A (Aman)
Sebelum melakukan pertolongan harus
diingat bahwa tidak jarang anda memasuki keadaan
yang berbahaya.Selain resiko
infeksi anda juga dapat menjadi korban jika tidak memperhatikan kondisi sekitar
pada saat melakukan pertolongan. Maka ada beberapa hal yang harus dilakukan
penolong pada korban yaitu :
2.
Memastikan keamanaan anda
Keamanaan sendiri merupakan prioritas
utama ?karena bagaimana kita dapat melakukan pertolongan jika kondisi kita sendiri
berada dalam bahaya.
Akan merupakan hal yang
ironiis seandainya kita bermaksud menolong tetapi karena tidak memperhatikan
situasi kita sendiri yang terjerumus dalam bahaya.
3.
Memastikan keamanan lingkungan
Ingat rumus do no futher harm karena ini meliputi juga
lingkungan sekitar penderita yang belum terkena sedera. Sebagai contoh
ketika terjadi kecelakaan lalu lintas.Ingatlah
para penonton untuk cepat-cepat menyingkir karena ada bahaya seperti
ledakan/api.
4. Memastikan keamanan penderita
Betatapun ironisnya, tetapi prioritas
terakhir adalah penderita sendiri, karena penderita ini sudah mengalami cedera
dari awal.
5. Memastikan kesadaran korban dan Mengcek pernapasan
Penolong harus memastikan korban tidak
merespon dengan cara memanggil korban dengan lantang, lalu menepuk-nepuk korban
atau menggoyang-goyangkan baru korban.
Penolong harus memastikan pernapasan korban. Jika
korban tidak sadar dan bernafas secara abnormal penolong harus memastikan korban mengalami henti jantung.
6. Meminta pertolongan
Minta
bantuan ke orang sekitar tempat kejadian. Hal ini sangat penting karena
akan sangat sulit
menolong pasien seorang diri,
apabila ada lebih dari satu penolong maka akan
lebih efektif menangani korban, seperti pengaktivan EMS dan mengamankan
lokasi.
7. Penilaian awal
Penilaian awal dengan menggunakan C-A-B
a. Circulation
Periksa
nafas dan nadi karotis (nadi leber) korban
secara bersamaan maksimal 10 detik. lakukan
pengecekan nafas
dengan melihat naik- turunnya dada korban, dengarkan dan rasakan dengan pipi udara yang di hembuskan oleh korban
lakukan pengecekan nadi dengan meraba
arteri karotis yang ada
di leher dengan
meletakkan 2 jadi di bawah sudut rahang yang ada di sisi penolong.

Gambar 2
Pemeriksaan nafas dan nadi. Sumber :Audrey
Christina Gosal, 2017. Basic Life Support
Dari penilaian awal ini, dapat diperoleh informasi tentang korban apakah si korban hanya mengalami
pingsan, henti napas atau bahkan henti jantung. Jika korban tidak bernapas,
nadi tidak ada dan tidak ada respon, maka pasien dapat dikatakan
mengalami henti jantung. Pada keadaan ini, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah mengaktifkan
sistem tanggapan darurat dan menghubungi pusat layanan kesehatan darurat
terdekat.
Kemudian segera melakukan RJP yang benar
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Letakkan korban pada permukaan
datar dan keras untuk memastikan
bahwa korban mendapat penekanan yang adekuat.
2.
Pastikan bagian dada korban
terbuka untuk meyakinkan penempatan
tangan yang benar dan untuk melihat rekoil dada.
3.
Letakkan tangan di tengah
dada korban, tumpukan
salah satu pangkal tangan pada daerah separuh bawah tulang dada dan tangan yang lain di atas tangan yang bertumpu
tersebut.
4.
Lengan harus lurus 90 derajat
terhadap dada korban, dengan bahu penolong
sebagai tumpuan atas.
5.
Tekan dada dengan kecepatan
100-120 kali per menit, dengan kedalaman minimal
5 cm tetapi tidak boleh lebih
dari 6 cm.
6. Cara menghitung 1,2,3,4,5 ,6,7,8,9,10,1, 2,3,4,5,6,7,
8,9,20, 1,2,3,4,5, 6,7,8,9,30 atau menghitung 1-30
7.
Selama melakukan penekanan,
pastikan bahwa dinding dada diberikan kesempatan untuk mengembang kembali ke bentuknya semula (rekoil
penuh).
8.
Penolong harus meminimalkan
intrupsi, untuk memaksimalkan kompresi dada.

Gambar 3 Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) Sumber
:Audrey Christina Gosal,
2017. Basic Life Support
b. Airway
Pemeriksaan pada pernapasan jika terdapat benda asing dijalan
nafas.
1.
Head-tilt/chin-lift
technique (Teknik tekan dahi/angkat dagu) dengan
menekan dahi sambil
menarik dagu hingga melewati posisi netral tetapi
jangan sampai menyebabkan hiperekstensi leher.
2.
Jaw-thrust
maneuver (maneuver dorongan rahang) yang dilakukan
bila dicurigai terjadi cedera pada kepala, leher
atau tulang belakang pada korban.
Lalu membuka mulut korban.
3.
Periksa jalan nafas dan lakukan
finger swab, jika terdapat benda di jalan nafas

Gambar 4 (Head-tilt, chin-lift, jaw-thrust) Sumber
:Audrey Christina Gosal, 2017. Basic Life Support
c. Breathing
1.
Berikan 2 kali napas bantuan
setiap selesai melakukan 30 kali penekanan dada, dengan durasi selama 1 detik untuk tiap pemberian
napas. Pastikan dada mengembang
untuk tiap pemberian bantuan napas.
2.
Beri kesempatan paru-paru untuk
mengempis setelah tiupan nafas
3.
Lakukan 30 kompresi dada diikuti
dengan 2 bantuan nafas
d. Evaluasi dan posisi pemulihan (recorvery position)
Setelah
pemberian 5 siklus RJP (2 menit) penolong kemudian
melakukan evaluasi dengan
ketentuan;
1.
jika tidak teraba nadi karotis,
penolong kembali melanjutkan RJP. Jika ada nadi dan napas belum ada, korban/ pasien
diberikan bantuan napas sebanyak 10-12 x/ menit.
2.
Jika nadi teraba, kaji pernapasan korban dengan melihat gerakan dinding dada
3.
Jika pernapasan tidak ada, berikan
rescue breathing dengan menghitung : satu ribu, dua ribu, tiga ribu, empat
ribu, lima ribu. Setelah tiup-tiupan rescue breathingdalam 1 menit.
4.
Berikan 10-12 kali rescue breathingdalam 1 menit
5.
Lakukan pemeriksaan ulang nadi korban tiap 2 menit.
6.
Berikan korban posisi recovery
jika nadi ada, pernapasan ada, korban
tidak sadar dan tidak ada trauma
Langkah-langkah pemberian posisi
pemuliahan, sebagai berikut :
1.
Lengan yang dekat penolong diluruskan kearah kepala
2.
Lengan yang satunya menyilang
dada, kemudian tekankan tangan
tersebut ke pipi korban.
3.
Tangan penolong yang lain raih tungkai
di atas lutut dan angkat.
4.
Tarik tungkai hingga tubuh pasien
terguling kearah penolong. Baringkan miring dengan tungkai atas membentuk
sudut dan menahan tubuh dengan stabil agar tidak
menelungkup.
5.
Periksa pernafasan terus-menerus.

Gambar 5 Posisi Pemulihan (Recorvery Position) Sumber
:Audrey Christina Gosal,
2017. Basic Life Support
PENANGANAN CHOKING
(TERSEDAK)
PADA DEWASA & ANAK (>1 TAHUN)
A. TERSEDAK
Tersedak (choking) merupakan suatu keadaan masuknya benda asing (makanan,
mainan, dll) ke dalam jalan napas
atas sehingga menimbulkan sumbatan jalan nafas dan gawat
napas. Jika hal ini tidak ditangani segera maka korban
akan meninggal. Pada
dasarnya kita mengenal
2 jenis tersedak, (1) Tersedak sebagian
(partial/mild) artinya benda asing yang masuk hanya menyumbat sebagian dari jalan
napas, masih ada sedikit
celah untuk
masuknya udara. (2) Tersedak total (total blockage/severe) dimana benda asing yang masuk sudah menutup
semua bagian jalan napas korban,
sehingga korban menjadi
jatuh tidak sadarkan diri.
Pengenalan dini akan tanda-tanda
tersedak merupakan langkah awal untuk suksesnya
penanganan tersedak. Berikut cara membedakan antara tersedak yang “mild”
(ringan/ sebagian) dan “severe” (berat/
total):

Gambar 2.2 Sumbatan jalan nafas Tersedak yang ringan:
1. Masih ada pertukaran udara
2.
Korban masih sadar, dapat batuk
sekeras-kerasnya, dan masih bisa bicara
Tersedak yang berat:
1.
Buruknya pertukaran udara terhadap
si korban
2.
Masih bisa batuk, tapi lemah atau tidak dapat batuk sama sekali
3.
Napas bertambah cepat
4.
Tidak dapat berbicara
5.
Memegang leher (tanda universal
dari tersedak)
6.
Tidak dapat memasukkan udara/
menarik napas dengan
baik
B. PENANGANAN TERSEDAK
Penan ganan pada korban choking/tersedak itu tergantung kondisi
korban, bila korban dalam kondisi sadar maka lakukan Abdominal Trust atau Heimlich Manuever dan Back Blow, bila korban dalam kondisi hamil,
orang dewasa yang terlalu gemuk, atau tidak sadar maka lakukan Chest Thrust
Tabel 1. Abdominal Trust atau Heimlich
Manuever dan Back Blow
|
Step |
Tindakan |
|
1 |
Tanyakan kepada korban
“Apakah Anda
tersedak?” |

|
|
(sekilas langkah
ini terlihat agak rancu dan tidak mungkin
dilakukan. Tetapi hal ini dilakukan untuk membedakan antara
tersedak dan penyakit lain yang menyebabkan gawat napas) |
|
|
2 |
Jika korban masih bisa batuk. anjurkan korban untuk batuk terus menerus sekeras-kerasnya. Yang
TIDAK
BOLEH dilakukan: a. Memberi minum
pada korban (jalan
napas hanya boleh
dilalui oleh udara) b.
Memasukkan jari ke dalam mulut
sebagai usaha untuk
mengeluarkan benda asing |
|
|
3 |
Bila benda asing yang menyumbat belum bisa keluar,
maka lakukan Abdominal Trust
atau Heimlich Manuever |
|
|
4 |
Berdiri atau berlutut di belakang korban. (posisikan tubuh penolong
sesuai dengan tinggi
tubuh korban, pada
pasien anak kemungkinan penolong harus berlutut) |
|
|
Posisi saat Heimlich Manuever |
Posisi kaki
penolong |
|
|
5 |
Korban berdiri sedikit condong ke depan, penolong berdiri
dibelakang korban, kaki kanan penolong masuk kedepan diantara kedua
kaki korban |
|
|
6 |
Kepalkan salah satu
telapak tangan, dan
letakkan kepalan tangan dengan arah
ibu jari menempel ke dinding perut
korban, posisikan |
|
|
|
kepalan tangan
2 jari di atas pusat
(pusat selalu sejajar dengan tulang pinggul
atas), tidak memposisikan kepalan
tangan di ulu hati korban. |
|
|
Bentuk kepalan tangan |
Bentuk kepalan tangan |
|
|
7 |
Kencangkan kepalan tangan
dengan tangan satunya sehingga kedua lengan
penolong melingkar di perut korban. |
|
|
8 |
Lakukan penekanan ke arah belakang dan atas sebanyak 5 kali |
|
|
|
|
|
|
9 |
Setelah melakukan Abdominal Trust
atau Heimlich Manuever, maka dilanjutkan dengan Back Blow. |
|
|
10 |
Perintahkan klien membungkuk ke depan, penolong berdiri di belakang samping kiri klien |
|
|
|
Back
blow pada anak |
Back
blow pada dewasa |
|
11 |
Tangan kiri penolong menahan dada klien,
tangan kanan penolong posisi memukul
dengan dorongan ke arah punggung klien. Beri pukulan dorongan dengan tumit tangan kanan tepat di punggung diantara kedua scapula klien secara cepat.
Lakukan pukulan sampai 5 kali. |
|
|
12 |
Ulangi kedua manuever diatas sampai dengan
benda asing keluar /bantuan datang |
|
|
13 |
Jika benda yang menyumbat sudah keluar dan
korban masih sadar serta nafasnya
adekuat, maka cukup istirahatkan korban, bila korban sadar dan tampak
sesak, berikan oksigen 2L/menit sampai nafas korban adekuat. |
|
|
14 |
Bila korban tidak
sadar, maka cek pernafasannya. Bila nafasnya adekuat (12 – 20 kali/menit), maka posisikan korban
dengan Recovery
Pasition. Bila nafas korban tidak adekuat
(<12 kali/menit) maka lakukan
Rescue Breathing (pertolongan pernafasan) dengan 10 – 12 kali/menit. |
|
|
|
Bantuan nafas Mout to mask |
Bantuan nafas
ambubag |
|
Cara Me-recovery pasition |
Recovery pasition |
Tabel 2. Chest Thrust pada kondisi hamil, orang dewasa yang terlalu
gemuk, atau tidak sadar
|
1 |
Jika korban korban dalam kondisi hamil, orang dewasa yang terl gemuk,
atau tidak sadar
maka lakukan Chest Thrust. Jika korban tersedak adalah wanita hamil atau
orang dewasa yang terl gemuk
(obesitas) dan masih sadar, kita bisa melakukan pilihan lain deng melakukan “chest thrust” yaitu dengan
meletakkan kepalan tang penolong di tengah-tengah tulang dada |
|||
|
Posisi Chest
Thrust |
Letak tangan saat melakukan Chest Thrust |
|||
|
2 |
Jika korban tersedak jatuh tidak sadar
dan benda yang
menyumbat belum keluar,
maka mintalah tolong
orang lain untuk
memanggil bantuan medis
segera. |
|||
|
3 |
Korban diposisikan telentang ditempat yang keras |
|||
|
4 |
Buka jalan napas
korban (AIRWAY), jika Anda
dapat melihat benda
asing lakukan Finger Swab atau sapuan
jari untuk mengeluarkan benda asing |
|||
|
|
Finger swab
pada dewasa |
Finger swab
pada anak-anak |
||
|
4 |
Letakkan tangan non-dominan di dada tepat
di tengah sternum bagian dominan menopang diatas tangan non-dominan |
|||
|
5 |
Kaitkan jari tangan
yang di atas
ke sela jari
tangan yang di bawah. Luruskan kedua siku &
posisikan bahu tepat
tegak lurus di atas dada korban |
|||
|
Bentuk kaitan
jari tangan |
Posisi melakukan kompresi dada |
|||
|
6 |
Luruskan kedua siku & posisikan bahu tepat tegak lurus di atas dada korban. Lakukan
kompresi sebanyak 5x atau sampai
benda asing keluar |
|||

|
|
Posisi penolong saat kompresi dada |
Posisi penolong saat kompresi dada |
|
7 |
Bila benda asing tampak
keluar, maka lakukan Finger Swab atau sapuan jari
untuk mengeluarkan benda
asing. |
|
|
8 |
Bila korban tidak
sadar, maka cek pernafasannya. Bila nafasnya adekuat
(12 – 20 kali/menit), maka posisikan korban
dengan Recovery
Pasition. Bila nafas korban tidak adekuat
(<12 kali/menit) maka lakukan
Rescue Breathing (pertolongan pernafasan) dengan 10 – 12 kali/menit. |
|
|
9 |
Bila dengan Rescue Breathing tidak dapat
memperbaiki kondisi korban, maka
segera rujuk ke rumah sakit
terdekat. |
|


















Komentar
Posting Komentar