menopouse pada lansia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Menopause
a.
Pengertian
Menopause adalah masa terhentinya siklus haid pada seorang
perempuan, biasanya ditandai atau diawali dengan masa pra- menopause, yaitu
sebuah masa dimana kemampuan tubuh untuk menghasilkan hormon estrogen and
progesterone menjadi semakin berkurang mengiringi berkurangnya kemungkinan
untuk dapat hamil (Nugroho dan Utama, 2014).
Menopause adalah proses biologis alami dan bukan penyakit
medis. Meskipun secara fisik dan emosional gejala menopause dapat mengganggu
tidur, menguras energi dan memicu perasaan sedih dan kehilangan. Menopause
lebih disebabkan oleh perubahan hormone (Manuaba, 2012)
Menopause merupakan berhentinya secara fisiologis siklus
menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan 55-60 tahun.
Seorang wanita yang mengalami menopause alamiah sama sekali tidak dapat
mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar- benar merupakan menstruasinya
yang terakhir sampai satu tahun berlalu. Menopause kadang-kadang disebut perubahan
kehidupan (Nugroho dan Utama, 2014).
Ketika menopause sudah mendekat, bukan hal yang aneh jika
menstruasi tidak datang selama beberapa bulan. Pada usia empat puluh, beberapa
perubahan hormon yang dikaitkan dengan pra-
7
menopause
mulai terjadi. Penelitian membuktikan, misalnya, bahwa pada usia empat puluh
banyak wanita telah mengalami perubahan- perubahan dalam kepadatan tulang dan
pada usia empat puluh empat banyak yang menstruasinya menjadi lebih sedikit
atau lebih sebentar waktunya dibanding biasanya, atau malah lebih banyak dan
atau lebih lama. Sekitar 80% wanita mulai melompat-lompat menstruasinya. Hanya
sekitar 10% wanita berhenti menstruasi sama sekali tanpa disertai
ketidakteraturan siklus yang berkepanjangan sebelumnya (Kumalasari dan
Andhyantoro, 2015)
Dalam suatu kajian yang melibatkan lebih dari 2.70 0wanita,
kebanyakan di antara mereka mengalami transisi pra-menopause yang berlangsung
antara dua hingga delapan tahun. Kecuali jika seseorang mengalami menopause
secara tiba-tiba akibat operasi atau perawatan medis, pra-menopause dapat
dianggap sebagai akhir dari suatu proses yang awalnya dimulai ketika seorang
wanita pertama kali mengalami menstruasi. Periode menstruasi pertama itu
biasanya diikuti dengan lima atau tujuh
tahun siklus yang relatif panjang,
tidak teratur dan sering
tidak disertai pembentukan sel telur. Akhirnya pada akhir usia belasan atau
awal dua puluhan, lamanya siklus menjadi lebih pendek dan lebih teratur ketika
wanita mencapai usia subur puncak, yang berlangsung selama kira-kira dua puluh
tahun (Kumalasari dan Andhyantoro, 2015).
Pada usia empat puluhan, siklus mulai memanjang lagi.
Meskipun kebanyakan orang cenderung dan, siklus mulai memanjang lagi. Meskipun
kebanyakan orang cenderung percaya bahwa dua puluh delapan hari merupakan
panjang siklus yang normal, penelitian telah membuktikan bahwa hanya 12,4%
wanita benar-benar mempunyai
siklus
dua puluh delapan hari dan 20% dari semua wanita mengalami siklus tidak teratur
(Kumalasari dan Andhyantoro, 2015).
Menopause membutuhkan waktu perubahan yang berlangsung
selama 15-20 tahun. Proses dimulai dengan gejala-gejala menopause ringan yang
merupakan periode transisi hingga terjadi masa
menopause pada fase ini fungsi ovarium dan produksi hormon berhenti,
dan tubuh akan menyesuaikan diri terhadap perubahan ini (Kumalasari dan
Andhyantoro, 2015).
Sebanyak 70% wanita perimenopause dan pasca menopause mengalami
gejala klimaterium. Gejala klimakterium pada wanita usia antara 45-54 tahun
yaitu gejolak panas (hot flushes)
70%, jantung berdebar-debar 40%, gangguan tidur 50%, depresi 70%, cepat lelah,
sulit berkonsentrasi, mudah lupa 65%, berkunang-kunang 20%, kesemutan 25%,
gangguan libido 30%, obstasi 40%, berat badan bertambah 60% serta nyeri tulang
dan otot 50%. Berat ringannya keluhan berbeda-beda pada setiap wanita, keluhan
ini sifatnya individual yang dipengaruhi oleh faktor social budaya, pendidikan,
lingkungan dan ekonomi (Nugroho dan Utama, 2014).
b.
Perubahan Menopause
Nugroho dan Utama (2014), menjelaskan bahwa banyak terdapat
perubahan pada seorang wanita yang terjadi saat menopause, antara lain:
1) Perubahan Hormon
Dua hingga delapan tahun sebelum menopause, kebanyakan wanita mulai melompat-lompat
ovulasinya. Selama tahun-tahun tersebut, folikel indung telur (kantung indung
telur), yang mematangkan telur setiap bulan,
akan mengalami tingkat
kerusakan
yang semakin cepat hingga pasokan folikel itu akhirnya habis. Penelitian
menunjukkan bahwa percepatan rusaknya folikel ini dimulai sekitar usia tiga
puluh tujuh atau tiga puluh delapan. Inhibin, zat yang dihasilkan dalam indung
telur, juga semakin berkurang sehingga mengakibatkan meningkatnya kadar FSH (Follicle Stimulating Hormon-hormon
perangsang folikel yang dihasilkan hipofise).
Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen
perempuan sering relatif
stabil atau bahkan
meningkat di masa pra-
menopause. Kadar itu tidak bekurang selama kurang dari satu tahun sebelum
periode menstruasi terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan
tubuh seorang wanita adalah estradiol. Namun selama pra-menopause, tubuh wanita
mulai menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang
dinamakan estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak
tubuh.
Kadar testoteron biasanya tidak turun secara nyata selama
pra-menopause. Kenyataannya, indung telur pasca-menopause dari kebanyakan
wanita (tetapi tidak semua wanita) mengeluarkan testoteron lebih banyak
daripada indung telur pra-menopause. Sebaliknya, kadar progesteron benar-benar
mulai menurun selama pra-menopause, bahkan jauh sebelum terjadinya perubahan-
perubahan pada estrogen atau testoteron dan ini merupakan hal yang paling
penting bagi kebanyakan wanita.
Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon-
hormon reproduksi tetap memegang peran yang penting, yaitu peran-peran yang dapat meningkatkan kesehatan dan tidak ada
kaitannya
dengan melahirkan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa reseptor
hormon steroid terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan. Estrogen dan
androgen (seperti halnya testoteron) adalah penting, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat dan sehat
serta jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik estrogen maupun
progesteron sama-sama penting untuk mempertahankan lapisan kolagen yang sehat
pada kulit.
2) Perubahan Fisik
a) Uterus (kandungan) mengecil.
b)
Tuba Falopi: lipatan tuba menjadi
memendek, menipis dan mengerut.
c) Ovarium (indung telur) ovarium menciut, terjadi penurunan fungsi
ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesterone, berhenti
menghasilkan sel telur. Akibatnya timbul
keluhan akibat berkurangnya kadar hormon.
d) Cervix (leher rahim) mengerut.
e)
Vagina terjadi penipisan dinding
vagina, selain itu secret/lendir vagina mulai mengering, menyulitkan hubungan
suami-istri.
f) Vulva (bibir rahim) jaringan vulva menipis karena berkurangnya jaringan lemak, kulit
menipis, pebuluh darah berkurang. Akibat sering timbul rasa gatal. Vulva yang
mengering bersamaan dengan penyempitan lubang masuk vagina menyebabkan
kesulitan untuk melakukan hubungan suami istri, timbul rasa nyeri pada waktu
hubungan, menyebabkan wanita berusaha untuk menolak melayani suaminya.
g) Rambut kemaluan pada wanita
mulai menipis, sebagian rontok dan
mulai memutih/uban.
h)
Payudara jarigan lemak berkurang, putting susu mengecil.
Akibatnya payudara
mulai lembek, mengendor dan keriput.
i) Hipertensi
j) Turunnya hormon estrogen
dan progesteron menyebabkan:
(1) HDL Cholesterol (Cholesterol baik) menurun.
(2) LDL Cholesterol (Cholesterol jahat) meningkat.
Wanita
yang semasa haid masih relatif kebal terhadap penyakit aterosklerosis
(perkapuran dinding pembuluh darah), setelah menapause mulai bisa diserang
penyakit ini, yang berakibat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan
penyempitan pembuluh darah jantung (penyakit jantung coroner).
k) Osteoporosi (pengeroposan tulang)
Dengan
turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron, maka mulai terjadi proses
pengeroposan tulang (walaupun seorang wanita cukup mendapat tambahan calcium
seperti dari susu). Rendahnya kadar
hormon estrogen dan progesteron menyebabkan zat calcium/kapur tidak dapat
disimpan dalam tulang, sebaliknya calcium dalam tulang pelan-pelan menyusut. Tandanya adalah mulai terasa nyeri pada
tulang yang dianggap sebagai rematik yang bila berobat acap kali hanya mendapat
obat penghilang rasa nyeri. Bila proses pengeroposan sudah sangat lanjut bisa
terjadi patah tulang belakang dan tulang panggul secara spontan.
c.
Permasalahan Kesehatan
Permasalahan kesehatan
yanga da pada wanita menopause menurut Nugroho dan Utama
(2014), antara lain:
1) Fisik
Ketika
seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa
kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya
pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat
diikuti dengan rasa panas atau
dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar.
Beberapa
keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a)
Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda
paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat
waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya.
Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak,
tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini sering
mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang
dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun
pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.
b) Gejolak Rasa Panas
Arus
panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung
sampai haid benar-benar berhenti. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik
disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul
secara
menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher
atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung
selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak.
Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal
ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.
c) Kekeringan Vagina
Kekeringan
vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.
Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi
lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut,
Liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing.
Keadaan ini membuat hubungan
seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada
wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan
kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme.
d) Perubahan Kulit
Estrogen
berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit
akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah,
leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti
kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas.
e) Keringat di Malam
Hari
Berkeringat
malam hari, bangun bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam
hari. Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman
atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah
tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.
f) Sulit Tidur
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada
kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan
perubahan yang lain.
g) Perubahan Pada Mulut
Pada
saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara
yang lain mengalami gangguan gusi dan
gigi menjadi lebih mudah tanggal.
h)
Kerapuhan Tulang
Rendahnya
kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang).
Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur, paling
banyak menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita kehilangan 1%
tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan nyeri
persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya.
Sekitar 25% wanita kehilangan tulang
lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti
dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan.
Kekurangan
kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat
dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.
i)
Badan Menjadi Gemuk
Banyak
wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa letih yang biasanya dialami
pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak
wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan
ditambah lagi karena kurang berolahraga.
j) Penyakit
Ada
beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut
pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting yang terjadi pada waktu
menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh
darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis).
Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke
atau serangan jantung. Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi
pada orang yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan maka semakin besar
kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan
kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah
melampaui masa menopause. Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks,
kanker ini terutama berjangkit pada wanita berusia
diatas 30
tahun.
Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan,
pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara haid. Sementara kanker
indometrium (kanker tubuh rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 55 tahun, yang paling menanggung resiko
adalah yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi
antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya
adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih
lama atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir
dalam menopause.
2) Masalah Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita
menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam
menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan
atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut.
Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik,
sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis,
sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause
adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar,
tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri
karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan
oleh suami dan anak- anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi
reproduksi yang hilang. Beberapa keluhan psikologis yang merupakan
tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a)
Ingatan Menurun
Gelaja
ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun
sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana,
padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
b) Kecemasan
Banyak
ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi
pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran
dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya
kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa
cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari
ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya
bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali,
setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga
yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi
dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak
mengalami perubahan yang berarti
dalam kehidupannya.
Menopause
rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja
sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang
cemas,
ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan
gejolak.
Adapun
simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek,
menurut Nugroho dan Utama (2014) adalah sebagai berikut:
(1) Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis,
seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
(2) Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir,
sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar- besarkan ancaman, memandang
diri sebagai sangat sensitif,
merasa tidak berdaya.
(3) Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti menghindari
situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.
(4) Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti
gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif
dan agitasi.
(5) Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti berkeringat,
gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
Gangguan
kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih
secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan
berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan
mempertahankan
diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi
cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah
sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding
dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah
klinis.
c) Mudah Tersinggug
Gejala
ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang
sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang
sedang berlangsung dalam dirinya.
Perasaannya menjadi sangat
sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama
jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses
penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya.
d)
Stress
Tidak
ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk
para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam
lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan
menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita
energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap
penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun
demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga
memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif,
tergantung pada bagaimana individu
memandang dan mengendalikannya.
Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan
seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya.
Respon
orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba
jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya
konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam
dua kategori psikologis dan fisiologis. Di tingkat psikologis, respon orang
terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana
hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi
marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di
tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada
beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam
menanggapi stress tersebut.
e) Depresi
Dari
penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan
9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang
gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3%
wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian
secara kasar dapat dikatakan
bahwa
wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita
yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk
bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih
karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh
perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya. Depresi dapat
menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon
terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan
tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang
dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan
mungkin sulit dihindarkan.
(1) Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa
aspek, menurut Nugroho dan Utama (2014) yaitu suasana hati, ditandai dengan
kesedihan, kecemasan, mudah marah.
(2) Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau
dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu- ragu, harga diri rendah.
(3) Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi,
menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan
tinggi pada orang lain.
(4) Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering
mondar-mandir, menangis, mengeluh.
(5) Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan
bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah.
d. Upaya Mengatasi Menapause
Hanya sekitar
25% wanita mengeluh
karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai
substitusi.
Pemberian
substitusihormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan
dapat mengambil langkah:
1)
Melakukan KIEM sehingga wanita
denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas
2)
Bidan berkonsultasi dengan dokter
puskesmas atau dokter ahli
3) Setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan
4) Bidan dapat merujuk
penderita ke Rumah Sakit
5)
Pemeriksaan alat kelamin wanita
bagian luar, liang rahim, dan leher
rahim untuk melihat kelainan yang mungkin ada seperti lecet, keputihan,
benjolan atau tanda radang.
6) Pap Smear yang dilakukan setahun sekali untuk melihat adanya tanda
radang dan deteksi awal bagi kemungkinan adanya kanker pada saluran reproduksi.
7)
Periksa payudara sendiri (SADARI)
untuk melihat pembesaran atau tumor payudara akibat penurunan kadar
estrogen/karena adanya hormon pengganti.
8)
Penggunaan bahan makanan yang
mengandung unsure fito- estrogen yang cukup seperti kedelai dan papaya.
9) Penggunaan bahan makanan sumber kalsium seperti susu, keju, ikan teri.
10) Menghindari makanan yang mengandung banyak lemak, kopi dan alcohol.
Komentar
Posting Komentar