PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANJUT USIA

 

PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANJUT USIA

 

Menurut Nugroho Wahyudi (2000), perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, yang meliputi sel, sistem pernapasan, sistem persyarafan, sistem pendengaran, penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem genito urinaria, system endokrin dan metabolik, sistem pencernaan, sistem muskuloskeletal, sistem kulit dan jaringan ikat, sistem reproduksi dan kegiatan seksual, dan sistem pengaturan tubuh, serta perubahan mental, dan perubahan psikososial.

Selanjutnya Kartari (1990), mengatakan beberapa kemunduran organ tubuh di antaranya kulit, rambut, otot, jantung, pembuluh darah, tulang, dan seks.

1. Perubahan pada Semua Sistem dan Implikasi Klinik

a. Sel

Jumlah sel pada lansia lebih sedikit, ukurannya lebih besar, jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang, proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun. Di samping itu, jumlah sel otak juga menurun, otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%, dan terganggunya mekanisme perbaikan sel.

b. Perubahan pada Sistem Sensoris

Sensoris memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain dan untuk memelihara atau membentuk hubungan baru, berespons terhadap bahaya, dan menginterpretasikan masukan sensoris dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Lansia yang mengalami penurunan persepsi sensori, akan merasa enggan bersosialisasi karena kemunduran fungsi-fungsi sensoris yang dimiliki.

Indera yang dimiliki, seperti penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan perabaan merupakan kesatuan integrasi dari persepsi sensori.

1) Penglihatan

Perubahan penglihatan dan fungsi mata yang dianggap normal dalam proses penuaan termasuk penurunan kemampuan dalam melakukan akomodasi, kontraksi pupil akibat penuaan, dan perubahan warna serta kekeruhan lensa mata, yaitu katarak. Dengan semakin bertambahnya usia, lemak akan berakumulasi di sekitar komea dan membentuk lingkaran berwarna putih atau kekuningan di antara iris dan sklera. Kejadian ini disebut arkus sinilis, biasanya ditemukan pada lansia.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada penglihatan akibat proses menua. Pertama, terjadinya awitan presbiopi dengan kehilangan kemampuan akomodasi. Kerusakan ini terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah dan kendur, dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan penglihatan jarak dekat. Implikasi dari hal ini, yaitu kesulitan dalam membaca huruf-huruf kecil dan kesukaran dalam melihat dengan jarak pandang dekat. Kedua, penurunan ukuran pupil atau miosis pupil terjadi karena sfingkter pupil mengalami sklerosis. Implikasi dari hal ini yaitu penyempitan lapang pandang dan memengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu. Ketiga, perubahan warna dan meningkatnya kekeruhan lensa kristal yang terakumulasi dapat menimbulkan katarak. Implikasi dari hal ini adalah penglihatan menjadi kabur

yang mengakibatkan kesukaran dalam membaca dan memfokuskan penglihatan, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, berkurangnya penglihatan pada malam hari, gangguan dalam persepsi kedalaman atau stereopsis (masalah dalam penilaian ketinggian), dan perubahan dalam persepsi warna. Keempat, penurunan produksi air mata. Implikasi dari hal ini adalah mata berpotensi terjadi sindrom mata kering.

2) Pendengaran

Penurunan pendengaran merupakan kondisi yang secara dramatis dapat memengaruhi kualitas hidup. Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada pendengaran akibat proses menua. Pertama, pada telinga bagian dalam terdapat penurunan fungsi sensorineural. Hal ini terjadi karena telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi perubahan konduksi. Implikasi dari hal ini adalah kehilangan pendengaran secara bertahap. Ketidakmampuan untuk mendeteksi volume suara dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suara dengan frekuensi tinggi seperti beberapa konsonan (misal f, s, sk, sh, I). Kedua, pada telinga bagian tengah terjadi pengecilan daya tangkap membran timpani, pengapuran dari tulang pendengaran, otot dan ligamen menjadi lemah dan kaku. Implikasi dari hal ini adalah gangguan konduksi suara. Ketiga, pada telinga bagian luar, rambut menjadi

panjang dan tebal, kulit menjadi lebih tipis dan kering, dan peningkatan keratin. Implikasi dari hal ini adalah potensial terbentuk serumen sehingga berdampak pada gangguan konduksi suara.

3) Perabaan

Perabaan merupakan sistem sensoris pertama yang menjadi fungsional apabila terdapat gangguan pada penglihatan dan pendengaran. Perubahan kebutuhan akan sentuhan dan sensasi taktil karena lansia telah kehilangan orang yang dicintai, penampilan lansia tidak semenarik sewaktu muda, dan tidak mengundang sentuhan dari orang lain, dan sikap dari masyarakat umum terhadap lansia tidak mendorong untuk melakukan kontak fisik dengan lansia.

4) Pengecapan

Hilangnya kemampuan menikmati makanan seperti pada saat saat seseorang bertambah tua mungkin dirasakan sebagai kehilangan salah satu kenikmatan dalam kehidupan. Perubahan yang terjadi pada pengecapan akibat proses menua yaitu penurunan jumlah dan kerusakan papila atau kuncup-kuncup perasa lidah. Implikasi dari hal ini adalah sensitivitas terhadap rasa (manis, asam, asin, dan pahit)

Berkurang

5) Penciuman

Sensasi penciuman bekerja akibat stimulasi reseptor olfaktorius oleh zat kimia yang mudah menguap. Perubahan yang terjadi pada penciuman akibat proses menua yaitu penurunan atau kehilangan sensasi penciuman kerena penuaan dan usia. Penyebab lain yang juga dianggap sebagai pendukung terjadinya kehilangan sensasi penciuman termasuk pilek, influenza, merokok, obstruksi hidung, dan factor lingkungan. Implikasi dari hal ini adalah penurunan sensitivitas terhadap bau.

 

6) Perubahan pada Sistem Integumen

Pada lasia, epidermis tipis dan rata, terutama yang paling jelas di atas tonjolan- tonjolan tulang, telapak tangan, kaki bawah, dan permukaan dorsalis tangan dan kaki. Penipisan ini menyebabkan vena-vena tampak lebih menonjol. Poliferasi abnormal pada terjadinya sisa melanosit, lentigo, senil, bintik pigmentasi pada area tubuh yang terpapar sinar matahari, biasanya permukaan dorsal dari tangan dan lengan bawah. Sedikitnya kolagen yang terbentuk pada proses penuaan dan adanya penurunan

jaringan elastik, mengakibatkan penampilan yang lebih keriput. Tekstur kulit lebih kering karena kelenjar eksokrin lebih sedikit dan penurunan aktivitas kelenjar eksokri dan kelenar sebasea. Degenerasi menyeluruh jaringan penyambung, disertai penurunan cairan tubuh total, menimbulkan penurunan turgor kulit. Massa lemak bebas berkurang 6,3% BB per dekade dengan penambahan massa lemak 2% per dekade. Massa air berkurang sebesar 2,5% per dekade.

1) Stratum Korneum

Stratum korneun merupakan lapisan terluar dari epidermis yang terdiri dari timbunan korneosit. Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada stratum korneum akibat proses menua. Kohesi sel dan waktu regenerasi sel menjadi lebih lama. Implikasi dari hal ini adalah apabila terjadi luka maka waktu yang diperlukan untuk sembuh lebih lama dan pelembapan pada stratum korneum berkurang.

Implikasi dari hal ini adalah penampilan kulit lebih kasar dan kering.

2) Epidermis

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada epidermis akibat proses menua. Pertama, jumlah sel basal menjadi lebih sedikit, perlambatan dalam proses perbaikan sel, dan penurunan jumlah kedalaman rete ridge. Implikasi dari hal ini adalah pengurangan kontak antara epidermis dan dermis sehingga mudah terjadi pemisahan antarlapisan kulit, menyebabkan kerusakan dan merupakan faktor

predisposisi terjadinya infeksi. Kedua, terjadi penurunan jumlah melanosit. Implikasi dari hal ini adalah perlindungan terhadap sinar ultraviolet berkurang dan terjadinya pigmentasi yang tidak merata pada kulit. Ketiga, penurunan jumlah sel Langerhans sehingga menyebabkan penurunan konpetensi imun. Implikasi dari hal ini adalah respons terhadap pemeriksaan kulit terhadap alergen berkurang. Keempat,

kerusakan struktur nukleus keratinosit. Implikasi dari hal ini adalah perubahan kecepatan poliferasi sel yang menyebabkan pertumbuhan yang abnormal seperti keratosis seboroik dan lesi kulit papilomatosa.

3) Dermis

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada dermis akibat proses menua. Pertama, volume dermal mengalami penurunan yang menyebabkan penipisan dermal dan jumlah sel berkurang. Implikasi dari hal ini adalah lansia rentan terhadap penurunan termoregulasi, penutupan dan penyembuhan luka lambat, penurunan respons inflamasi, dan penurunan absorbsi kulit terhadap zat-zat topikal. Kedua, penghancuran serabut elastis dan jaringan kolagen oleh enzim-enzim. implikasi dari hal ini adalah perubahan dalam penglihatan karena adanya kantung dan pengeriputan di sekitar mata, turgor kulit menghilang. Ketiga, vaskularisasi menurun dengan sedikit pembuluh darah kecil. Implikasi dari hal ini adalah kulit tampak lebih pucat dan kurang mampu malakukan termoregulasi.

 

4) Subkutis

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada subkutis akibat proses menua. Pertama, lapisan jaringan subkutan mengalami penipisan. Implikasi dari hal ini adalah penampilan kulit yang kendur/menggantung di atas tulang rangka. Kedua, distribusi kembali dan penurunan lemak tubuh. Implikasi dari hal ini adalah gangguan fungsi perlindungan dari kulit.

5) Bagian tambahan pada kulit

Bagian tambahan pada kulit meliputi rambut, kuku, korpus pacini, korpus meissner, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada rambut, kuku, korpus pacini, korpus meissner, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea akibat proses menua. Pertama, berkurangnya folikel rambut. Implikasi dari hal ini adalah rambut bertambah uban dengan penipisan rambut pada kepala. Pada wanita, mengalami peningkatan rambut pada wajah. Pada pria, rambut dalam hidung dan telinga semakin jelas, lebih banyak dan kaku. Kedua, pertumbuhan kuku melambat. Implikasi dari hal ini adalah kuku menjadi lunak, rapuh, kurang berkilau, dan cepat mengalami kerusakan. Ketiga, corpus pacini (sensasi tekan) dan korpus meissner (sensasi sentuhan) menurun. Implikasi dari hal ini adalah berisiko untuk terbakar, mudah mengalami nekrosis karena rasa terhadap tekanan berkurang. Keempat, kelenjar keringat sedikit. Implikasi dari hal ini adalah penurunan respons dalam keringat, perubahan termoregulasi, kulit kering. Kelima, penurunan kelenjar apokrin. Implikasi dari hal ini adalah bau badan lansia berkurang.

d. Perubahan pada Sistem Muskuloskeletal

Otot mengalami atrofi sebagai akibat dari berkurangnya aktivitas, gangguan metabolik, atau denervasi saraf. Dengan bertambahnya usia, perusakan dan pembentukan tulang melambat. Hal ini terjadi karena penurunan hormon esterogen pada wanita, vitamin D, dan beberapa hormon lain. Tulang-tulang trabekulae menjadi lebih berongga, mikro-arsitektur berubah dan sering patah, baik akibat benturan ringan maupun spontan

2) Sistem Skeletal

Ketika manusia mengalami penuaan, jumlah masa otot tubuh mengalami penurunan. Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem skeletal akibat proses menua. Pertama, penurunan tinggi badan secara progresif karena penyempitan didkus intervertebral dan penekanan pada kolumna vertebralis. Implikasi dari hal ini adalah postur tubuh menjadi lebih bungkuk dengan penampilan barrel-chest. Kedua, penurunan produksi tulang kortikal dan trabekular yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap beban gerakan rotasi dan lengkungan. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan terjadinya risiko fraktur.

2) Sistem Muskular

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem muskular akibat proses menua. Pertama, waktu untuk kontraksi dan relaksasi muskular memanjang. Implikasi dari hal ini adalah perlambatan waktu untuk bereaksi, pergerakan yang kurang aktif. Kedua, perubahan kolumna vertebralis, akilosis atau kekakuan ligament dan sendi, penyusustan dan sklerosis tendon dan otot, dan perubahan degenerative ekstrapiramidal. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan fleksi.

 

3) Sendi

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sendi akibat proses menau Pertama, pecahnya komponen kapsul sendi dan kolagen. Implikasi dari hal ini adalah nyeri, inflamasi, penurunan mobilitas sendi, dan deformitas Kedua, kakuan ligamen dan sendi implikasi dari hal ini adalah peningkatan risiko cedera.

4) Estrogen

Perubahan yang terjadi pada sistem skeletal akibat proses menua, yaitu penurunan hormon esterogen. Implikasi dari hal ini adalah kehilangan unsur-unsur tulang yang berdampak pada pengeroposan tulang.

e. Perubahan pada Sistem Neurologis

Berat otak menurun 10-20%. Berat otak s 350 gram pada saat kelahiran, kemudian meningkat menjadi 1,375 gram pada usia 20 tahun, berat otak mulai menurun pada usia 45-50 tahun penurunan ini kurang lebih 11% dari berat maksimal. Berat dan volume otak berkurang rata-rata 5-10% selama umur 20-90 tahun. Otak mengandung 100 miliar sel termasuk di antaranya sel neuron yang berfungsi menyalurkan impuls listrik dari susunan saraf pusat. Pada penuaan, otak kehilangan 100.000 neuron/tahun. Neuron dapat mengirimkan signal kepada sel lain dengan kecepatan 200 mil/jam. Terjadi penebalan atrofi cerebral (berat otak menurun 10%) antara usia 30-70 tahun. Secara berangsur-angsur tonjolan dendrit di neuron hilang disusul membengkaknya batang dendrit dan batang sel. Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat deposit lipofusin (pigment

wear and tear) yang terbentuk di sitoplasma, kemungkinan berasal dari lisosom atau mitokondria.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem neurologis akibat proses menua. Pertama, konduksi saraf perifer yang lebih lambat. Implikasi dari hal ini adalah refleks tendon dalam yang lebih lambat dan meningkatnya waktu reaksi.

Kedua, peningkatan lipofusin sepanjang neuron-neuron. Implikasi dari hal ini adalah vasokonstriksi dan vasodilatasi yang tidak sempurna. Ketiga, termoregulasi oleh hipotalamus kurang efektif. Implikasi dari hal ini adalah bahaya kehilangan panas tubuh.

f. Perubahan pada Sistem Kardiovaskular

Jantung dan pembuluh darah mengalami perubahan, baik struktural maupun fungsional. Penurunan yang terjadi berangsur-angsur sering terjadi ditandai dengan penurunan tingkat aktivitas, yang mengakibatkan penurunan kebutuhan darah yang teroksigenasi. Pada orang tua yang sehat, tidak ada perubahan jumlah detak jantung saat istirahat, namun detak jantung maksimum yang dicapai selama latihan berat berkurang. Pada dewasa muda, kecepatan jantung di bawah tekanan yaitu, 180-200 kali per menit. Kecepatan jantung pada usia 70-75 tahun menjadi 140-160 kali per menit. Pada fungsi fisiologis, faktor gaya hidup berpengaruh secara signifikan terhadap fungsi kardiovaskuler. Gaya hidup dan pengaruh lingkungan merupakan faktor penting dalam menjelaskan berbagai keragaman fungsi kardiovaskuler pada lansia, bahkan untuk perubahan tanpa penyakit terkait. Secara singkat, beberapa perubahan dapat diidentifikasi pada otot jantung, yang mungkin berkaitan dengan usia atau penyakit seperti penimbunan amiloid, degenerasi basofilik, akumilasi lipofusin, penebalan dan kekakuan pembuluh darah, dan peningkatan jaringan fibrosis. Pada lansia terjadi perubahan ukuran jantung, yaitu hipertrofi dan atrofi pada usia 30-70 tahun. Berikut ini merupakan perubahan struktur yang terjadi pada sistem kardiovaskular akibat proses menua. Pertama, penebalan dinding ventrikel kiri karena peningkatan densitas kolagen dan hilangnya fungsi serat-serat elastis. Implikasi dari hal ini adalah ketidakmampuan jantung untuk distensi dan penurunan kekuatan kontraktil. Kedua, jumlah sel-sel peace maker mengalami penurunan dan berkas his kehilangan serat konduksi yang membawa impuls ke ventrikel. Implikasi dari hal ini adalah terjadinya disritmia. Ketiga, sistem aorta dan arteri perifer menjadi kaku dan tidak lurus karena peningkatan serat kolagen dan hilangnya serat elastis dalam lapisan medial arteri. Implikasi dari hal ini adalah penumpulan respons baroreseptor dan penumpulan respons terhadap panas dan dingin. Keempat, vena meregang dan mengalami dilatasi. Implikasi dari hal ini adalah vena menjadi tidak kompeten atau gagal dalam menutup secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya edema pada ekstremitas bawah dan penumpukan darah.

g. Perubahan pada Sistem Pulmonal

Perubahan anatomis seperti penurunan komplians paru dan dinding dada turut berperan dalam peningkatan kerja pernapasan sekitar 20% pada usia 60 tahun. Penurunan laju ekspirasi paksa satu detik sebesar 0,2 liter/dekade.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem pulmonal akibat proses menua. Pertama, paru-paru kecil dan kendur, hilangnya rekoil elastis, dan pembesaran alveoli. Implikasi dari hal ini adalah penurunan daerah permukaan untuk difusi gas. Kedua, penurunan kapasitas vital penurunan PaO, residu. Implikasi dari hal ini adalah penurunan saturasi O, dan peningkatan volume. Ketiga, pengerasan bronkus dengan peningkatan resistensi. Implikasi dari hal ini adalah dispnea saat aktivitas. Keempat, klasifikasi kartilago kosta, kekakuan tulang iga pada kondisi pengembangan. Implikasi dari hal ini adalah Emfisema sinilis, pernapasan abnominal, hilangnya suara paru pada bagian dasar. Kelima, hilangnya tonus otot toraks, kelemahan kenaikan dasar paru. Implikasi dari hal ini adalah atelektasis. Keenam, kelenjar mukus kurang produktif. Implikasi dari hal ini adalah akumulasi cairan, sekresi kental, dan sulit dikeluarkan. Ketujuh, penurunan sensitivitas sfingter esofagus. Implikasi dari hal ini adalah hilangnya sensasi haus dan silia kurang aktif. Kedelapan, penurunan sensitivitas kemoreseptor. Implikasi dari hal ini adalah tidak ada perubahan dalam PaCO2 dan kurang aktifnya paru-paru pada gangguan asam basa.

h. Perubahan pada Sistem Endokrin

Sekitar 50% lansia menunjukkan intoleransi glukosa, dengan kadar gula puasa yang normal Penyebab dari terjadinya intoleransi glukosa ini adalah faktor diet, obesitas, kurangnya olahraga, dan penuaan. Frekuensi hipertiroid pada lansia yaitu sebanyak 25%. Sekitar 75% dari jumlah tersebut mempunyai gejala, dan sebagian menunjukkan "apotheic thyrotoxicosis"

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem endokrin akibat proses menua. Pertama, kadar glukosa darah meningkat. Implikasi dari hal ini adalah glukosa darah puasa 140 mg/dL dianggap normal. Kedua, ambang batas ginjal untuk glukosa meningkat. Implikasi dari hal ini adalah kadar glukosa darah 2 jam PP 140- 200 mg/dL dianggap normal. Ketiga, residu urin di dalam kandung kemih meningkat. Implikasi dari hal ini adalah pemantauan glukosa urin tidak dapat diandalkan. Keempat,

kelenjar tiroad menjadi lebih kecil, produksi T3 dan T4 sedikit menurun, dan waktu paruh T3 dan T4 meningkat. Implikasi dari hal ini adalah serum T3 dan T4 tetap stabil.

i. Perubahan pada Sistem Renal dan Urinaria

Seiring bertambahnya usia, akan terdapat perubahan pada ginjal, bladder,uretra, dan sistem nervus yang berdampak pada proses fisiologi terkait eliminasi urine. Hal ini dapat mengganggu kemampuan dalam mengontrol berkemih, sehingga dapat mengakibatkan inkontinensia dan akan memiliki konsekuensi yang lebih jauh.

1) Perubahan pada Sistem Renal

Pada usia dewasa lanjut, jumlah nefron telah berkurang menjadi 1 juta nefron dan memiliki banyak ketidaknormalan. Penurunan nefron terjadi sebesar 5-7% setiap dekade, mulai usia 25 tahun. Bersihan kreatinin berkurang 0,75 ml/m/tahun. Nefron bertugas sebagai penyaring darah, sehingga perubahan aliran vaskuler akan dan matabolik sistem renal. memengaruhi kerja nefron dan akhirnya memengaruhi fungsi pengaturan, ekskresi, dan metabolic system renal.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem renal akibat proses menua. Pertama, membrana basalis glomerulus mengalami penebalan, sclerosis pada area fokal, dan total permukaan glomerulus mengalami penurunan, panjang dan volume tubulus proksimal berkurang, dan penurunan aliran darah renal. Implikasi dari hal ini adalah filtrasi menjadi kurang efisien, sehingga secara fisiologis

glomerulus yang mampu menyaring 20% darah dengan kecepatan 125 ml/menit (pada lansia menurun hingga 97 mL/menit atau kurang) dan menyaring protein dan eritrosit menjadi terganggu, nokturia. Kedua, penurunan massa otot yang tidak berlemak, peningkatan total lemak tubuh, penurunan cairan intra sel, penurunan sensasi haus, penurunan kemampuan untuk memekatkan urine. Implikasi dari hal ini adalah penurunan total cairan tubuh dan risiko dehidrasi. Ketiga, penurunan hormone yang penting untuk absorbsi kalsium dari saluran gastrointestinal. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan risiko osteoporosis.

2) Perubahan pada Sistem Urinaria

Perubahan yang terjadi pada sistem urinaria akibat proses menua, yaitu penurunan kapasitas kandung kemih (N: 350-400 mL), peningkatan volume residu (N: 50 mL), peningkatan kontraksi kandung kemih yang tidak disadari, dan atopi pada otot kandung kemih secara umum. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan risiko inkotinensia.

j. Perubahan pada Sistem Gastrointestinal

Banyak masalah gastrointestinal yang dihadapi oleh lansia berkaitan dengan gaya hidup. Terjadi perubahan morfologik degeneratif mulai dari gigi sampai anus, antara lain perubahan atrofi pada rahang, mukosa, kelenjar, dan otot-otot pencernaan.

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem gastrointestinal akibat proses menua :

1) Rongga Mulut

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada rongga mulut akibat proses menua. Pertama, hilangnya tulang periosteum dan periduntal, penyusutan dan fibrosis pada akar halus, pengurangan dentin, dan retraksi dari struktur gusi. Implikasi dari hal ini adalah tanggalnya gigi, kesulitan dalam mempertahankan pelekatan gigi palsu yang lepas. Kedua, hilangnya kuncup rasa. Implikasi dari hal ini adalah perubahan sensasi rasa dan peningkatan penggunaan garam atau gula

untuk mendapatkan rasa yang sama kualitasnya. Ketiga, atrofi pada mulut. Implikasi dari hal ini adalah mukosa mulut tampak lebih merah dan berkilat. Bibir dan gusi tampak tipis kerena penyusutan epitelium dan mengandung keratin. Keempat, liur/ saliva disekresikan sebagai respons terhadap makanan yang telah dikunyah. Saliva memfasilitasi pencernaan melalui mekanisme sebagai berikut: penyediaan enzim pencernaan, pelumasan dari jaringan lunak, remineralisasi pada gigi, pengontrol

flora pada mulut, dan penyiapan makanan untuk dikunyah. Produksi saliva pada lansia telah mengalami penurunan.

2) Esofagus, Lambung, dan Usus

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada esofagus, lambung, dan usus akibat proses menua. Pertama, dilatasi esofagus, hilangnya tonus sfingter jantung, dan penurunan refleks muntah. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan terjadinya risiko aspirasi. Kedua, atrofi penurunan sekresi asam hidroklorik mukosa lambung sebesar 11% sampai 40% dari populasi. Implikasi dari hal ini adalah perlambatan dalam mencerna makanan dan memengaruhi penyerapan vitamin B12. Bakteri usus halus akan bertumbuh secara berlebihan dan menyebabkan kurangnya penyerapan lemak. Ketiga, penurunan motilitas lambung. Implikasi dari konstipasi sering terjadi. hal ini adalah penurunan absorbsi obat-obatan, zat besi, kalsium, vitamin B12, dan konstipasi sering terjadi.

3) Saluran Empedu, Hati, Kandung Empedu, dan Pankreas

Pada hepar dan hati mengalami penurunan aliran darah sampai 35% pada usia lebih dari 80 tahun. Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada saluran empedu, hati, kandung empedu, dan pankreas akibat proses menua. Pertama, pengecilan ukuran hari dan penkreas. Implikasi dari hal ini adalah terjadi penurunan kapasitas dalam menyimpan dan mensintesis protein dan enzim-enzim pencernaan. Sekresi insulin normal dengan kadar gula darah yang tinggi (250-300 mg/dL). Kedua,

perubahan proporsi lemak empedu tanpa diikuti perubahan metabolisme asam empedu yang signifikan. Implikasi dari hal ini adalah peningkatan sekresi kolesterol.

k. Perubahan Sistem Reproduksi dan Kegiatan Seksual

Perubahan sistem reproduksi pada lansia, antara lain: selaput lendir vagina menurun/kering, menciutnya ovarium dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur, dan dorongan seks menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik. Seksualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan seksual, di sini kita bisa membedakan dalam tiga sisi. Pertama, fisik. Secara jasmani sikap seksual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi. Kedua, rohani. Secara rohani kegiatan seksual tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan seksualitas melalui pola-pola yang baku seperti binatang. Ketiga, sosial. Secara sosial

kegiatan seksual karena kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang paling diharapkan dalam menjalani seksualitas. Seksualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk lansia tersebut. Juga sebagai pihak yang lebih tua tanpa harus berhubungan badan, masih banyak cara lain untuk dapat bermesraan dengan pasangan. Pernyataan- pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan seksualitas dalam pengalaman seks.

1) Perubahan pada Sistem Reproduksi Pria

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi pria akibat proses menua. Pertama, testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. Kedua, atrofi asini prostat otot dengan area fokus hiperplasia. Hiperplasia noduler benigna terdapat pada 75% pria di atas 90 tahun.

2) Perubahan pada Sistem Reproduksi Wanita

Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi wanita akibat proses menua. Pertama, penurunan estrogen yang bersikulasi. Implikasi dari hal ini adalah atrofi jaringan payudara dan genital. Kedua, peningkatan androgen yang bersirkulasi. Implikasi dari hal ini adalah penurunan massa tulang dengan risiko osteoporosis dan fraktur, peningkatan kecepatan aterosklerosis.

2. Perubahan Mental

Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan, tingkat pengetahuan, dan pendidikan serta situasi lingkungan. Intelegensi diduga secara umum makin mundur terutama faktor penolakan abstrak, mulai lupa terhadap kejadian baru, masih terekam baik kejadian masa lalu.

Dari segi mental perubahan yang terjadi antara lain sering muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas, ada kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit, takut ditelantarkan karena merasa tidak berguna lagi, serta munculnya perasaan kurang mampu untuk mandiri, serta cenderung entrover.

a.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kondisi Mental

Banyak faktor yang memengaruhi perubahan kondisi mental, seperti perubahan fisik, khususnya organ perasa, kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas), dan lingkungan. Perubahan kepribadian yang drastis biasanya jarang terjadi, namun lebih sering berupa ungkapan tulus dari perasaan seseorang. Kekakuan mungkin oleh karena faktor lain, seperti penyakit. Kemudian terjadi perubahan pada kenangan/memori, seperti perubahan kenangan jangka panjang, yang diingat berjam-jam sampai berhari- hari yang lalu mencakup beberapa perubahan. Kenangan jangka pendek/seketika O'-10', biasanya berupa kenangan buruk.

Selanjutnya perubahan IQ (Intelegensi Quantion). IQ tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. Namun terjadi perubahan pada berkurangnya penampilan, persepsi, dan keterampilan psikomotor, terjadi perubahan pada daya membayangkan oleh karena tekanan-tekanan dari faktor waktu.

3. Perubahan Psikososial

Masalah-masalah serta reaksi individu terhadapnya akan sangat beragam, tergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Saat ini orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja mendadak diharapkan menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Bila cukup beruntung dan bijaksana, orang telah mempersiapkan diri untuk pensiun, dengan menciptakan bagi dirinya berbagai bidang minat untuk memanfaatkan sisa hidupnya.

a. Pensiun

Bagi banyak pekerja, pensiun berarti putus dari lingkungan dan teman-teman yang akrab dan disingkirkan untuk duduk-duduk di rumah/bermain domino di klub lansia. Nilai seseorang sering dilihat dari produktivitas dan identitas sesuai peranan. pekerjaan. Bila seseorang pension, dia akan mengalami kehilangan-kehilangan, misalnya kehilangan finansial (income berkurang), status (dulu punya jabatan/posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya), teman/kenalan/relasi, dan pekerjaan/kegiatan.

b. Perubahan Psikososial Lain

Perubahan psikososial lain yang terjadi pada lansia, antara lain merasa/sadar akan kematian (sense of awareness of mortality), perubahan dalam cara hidup (memasuki ranah perawatan gerak lebih sempit), ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economy deprivation), meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan, penyakit kronis dan ketidakmampuan, gangguan syaraf dan pancaindra (timbul kebutaan dan ketulian), gangguan gizi, rangkaian dari kehilangan (kehilangan dengan teman atau keluarga), hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik, serta perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri.

Perubahan mendadak dalam kehidupan rutin tentu membuat mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna. Pertama, minat. Umumnya terjadi perubahan kuantitas dan kualitas minat pada lansia. Lazimnya minat dalam aktivitas fisik cenderung menurun karena pengaruh menurunnya kemapuan fisik, juga oleh faktor sosial. Kedua, isolasi dana kesepian. Banyak faktor bergabung, sehingga membuat lansia terisolasi. Secara fisik mereka kurang mampu mengikuti aktivitas yang melibatkan usaha. Kualitas organ indra makin menurun, seperti terjadinya ketulian, penglihatan makin kabur, dan sebagainya. Mereka juga merasa terputus dengan orang lain. Faktor lain yang membuat isolasi makin menjadi parah adalah perubahan sosial (mengendornya ikatan keluarga).

Ketiga, peranan iman. Lansia tidak begitu khawatir dalam memandang akhir kehidupan. Hampir tidak disangkal lagi bahwa iman yang teguh adalah senjata ampuh untuk melawan rasa takut terhadap kematian. Oleh sebab itu, kesadaran religius lansia perlu dibangkitkan dan diperkuat. Keyakinan iman juga harus diperteguh, bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan permulaan yang baru dan memungkinkan individu menyongsong akhir kehidupan dengan tenang dan tenteram.

4. Perubahan Spiritual

Ada beberapa pendapat tentang perubahan spiritual pada lansia. Menurut Maslow (dalam Wahit Iqbal Mubarak dkk., 2006), bahwa agama dan kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya. Selanjutnya menurut Muray & Zentner (dalam Wahit Iqbal Mubarak dkk., 2006), bahwa kehidupan keagamaan lansia makin matang. Hal ini terlihat dalam cara berpikir dan bertindak sehari-hari. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun, antara lain perkembangan yang dicapai pada tingkat ini sehingga lansia bisa berpikir dan bertindak dengan memberi contoh cara mencintai dan member keadilan.Pada lansia terjadi juga perubahan-perubahan yang menuntut dirinya menyesuaikan diri secara terus-menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil, timbullah berbagai masalah.

Diperlukan penyesuaian dalam menghadapi perubahan. Ciri penyesuaian diri lansia yang baik antara lain minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, serta menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimal terhadap diri dan orang lain. Sedangkan ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik, adalah minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya, penarikan diri ke dalam dunia fantasi, selalu mengingat kembali ke masa lalu, selalu khawatir karena pengangguran, kurang ada motivasi, rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan tempat tinggal yang tidak diinginkan

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PROSES MENUA

Proses penuaan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Proses penuaan primer merupakan proses yang berlangsung secara wajar tanpa pengaruh dari luar, sedangkan jalannya proses penuaan yang berlangsung akibat stres psikis dan sosial serta kondisi lingkungan (proses penuaan sekunder). Penuaan ini sesuai dengan kronologis usia yang dipengaruhi oleh faktor endogen. Perubahan ini dimulai dari sel jaringan organ sistem pada tubuh. Penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologi. Bila seseorang mengalami penuaan fisiologis (fisiological aging), diharapkan mereka

dapat tua dalam keadaan sehat. Perubahan ini dimulai dari sel jaringan organ system pada tubuh.

Sedangkan faktor lain yang juga berpengaruh pada proses penuaan adalah factor eksogen, seperti, pertama, faktor organik, genetik, dan imunitas. Faktor organik adalah penurunan hormon pertumbuhan, penurunan hormon testosteron, peningkatan prolaktin, penurunan melatonin, perubahan folicel stimulating hormon dan luteinizing hormon. Kedua, faktor lingkungan dan gaya hidup. Termasuk faktor lingkungan antara lain pencemaran lingkungan akibat kendaraan bermotor, pabrik, bahan kimia, bising, kondisi lingkungan yang tidak bersih, kebiasaan menggunakan obat dan jamu tanpa

kontrol, radiasi sinar matahari, makanan berbahan kimia, infeksi virus, bakteri, dan mikroorganisme lain. Kemudian faktor nutrisi/makanan, pengalaman hidup, dan stres. Ketiga, faktor status kesehatan. Menurut Wahyudi Nugroho (2008), factor yang memengaruhi penuaan adalah hereditas (keturunan), nutrisi/makanan, status kesehatann, pengalaman hidup, lingkungan, dan stres.

D. PERMASALAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA

Menurut Hardiwinoto dan Setiabudi (2005), berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia, antara lain:

1. Permasalahan umum

a. Makin besar jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan.

b. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai, dan dihormati

c. Lahirnya kelompok masyarakat industri.

d. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.

e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.

 

2. Permasalahan khusus

a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental, maupun sosial.

b. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.

c. Rendahnya produktivitas kerja lansia.

d. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar, dan cacat.

e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik.

f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia.

E. LANSIA YANG SUKSES DAN BAHAGIA

Bahagia merupakan idaman bagi semua orang, tidak terkecuali bagi lanjut usia. Menurut Dadang Hawari (2007), ada empat dimensi hidup sehat bagi lansia. Pertama, dimensi fisik (biologik). Kedua, dimensi kejiwaan (psikologik). Ketiga, dimensi sosial. Keempat, dimensi spiritual (agama).

Sedangkan menurut Siti Bandiyah (2009), ada enam dimensi hidup sehat bagi lansia. Pertama, dimensi fisik, yaitu kebutuhan gaya hidup sehat yang dapat dicapai dengan kegiatan olahraga, mengatur pola makan sehat, serta pemeriksaan kesehatan yang teratur. Kedua, dimensi sosial, yaitu kebutuhan untuk memiliki hubungan yang sehat dalam komunikasi positif, rekreasi bersama, serta kompetisi. Ketiga, dimensi emosional, yaitu kebutuhan untuk dapat meningkatkan kemampuan mengelola, menyalurkan, dan mengendalikan emosi. Keempat, dimensi intelektual, yaitu kebutuhan untuk mengasah serta meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keahlian dengan membaca buku. Kelima, dimensi vokasional, yaitu kebutuhan aktualisasi diri yang terwujud melalui kegiatan bersifat hobi. Keenam, dimensi spiritual, yaitu kebutuhan untuk mengisi kebutuhan rohani dalam upaya mendalami makna hidup sesungguhnya.

Makna BAHAGIA untuk Lansia, yaitu:

B= Berat badan berlebihan supaya dihindari

A = Aturlah makanan hingga sesuai/kurangi lemak dan/atau kolesterol

H = Hindari faktor-faktor risiko penyakit jantung

A = Agar terus merasa berguna lakukan kegiatan/hobi yang bermanfaat

G = Gairah hidup akan tetap semarak jika kegiatan yang dipilih dilakukan bersama

I= Ikuti nasihat dokter dan hindari situasi tegang

A = Awasi kesehatan dengan memeriksakan badan secara periodic

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bandiyah, Siti. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Jogyakarta: Penerbit Mulia

Medika.

Hawari, Dadang. 2007. Sejahtera di Usia Lanjut. Dimensi Psikoreligi pada Lanjut Usia

(Lansia). Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kartari, D.S. 1990. Manusia Usia Lanjut, disampaikan dalam Diskusi ilmiah. Depkes RI,

Jakarta: Badan Litbangkes.

Mubarak, W. Iqbal, dkk. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2, Teori dan Aplikasi dalam

Praktik dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik, dan

Keluarga. Jakarta: CV. Sagung Seto.

Nugroho, Wahyudi. 2000. Keperawatan Gerontik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC.

Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Edisi 3. Jakarta: Penerbit

Buku Kedokteran EGC.

Stanley, M. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2, Jakarta: Penerbit Buku

Kedokteran EGC.

Toni Setiabudhi & Hardiwinoto. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai

Aspek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tamher dan Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan

Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LKPD PKK 1 ( Pemenuhan Kebutuhan Dasar Bayi 0-6 Hari)

LKPD PKK 1 (Konsep Dasar Home Care)

Imunisasi Dasar Balita