melaporkan kekerasan dan penganiayaan pada lansia selama pendampingan
Peningatan
Kompetensi Dalam Melaporkan
Kekerasan dan
Penganiayaan selama Pendampingan
Struktur materi
• Memberikan
informasi tentang penganiayaan dan kekerasan selama pendampingan kepada
caregiver dan lansia

Daftar Hadir


Tata Tertib

Keamanan & Kenyaman

Tujuan
Pembelajaran
Setelah
mengikuti pembelajaran ini peserta
kompeten dalam Melaporkan
Kekerasan
dan Penganiayaan selama Pendampingan
Ice Breaking

Pokok Bahasan
1. Identifikasi
jenis penganiayaan diidentifikasi selama pendampingan
2. Tanda dan
gejala penganiayaan
3.
Prosedur
pencegahan kekerasan selama pendampingan sesuai SOP
4. Identifikasi
informasi yang terkait dengan kekerasan sesuai kondisi Lansia.
5. Prosedur
melaporkan hasil identifikasi penganiayaan dan kekerasan selama pendampingan
6. Teknik
komunikasi yang baik dalam melakukan identifikasi
Pendahuluan
•
Semua Warga bisa menjadi mangsa kekerasan,
pengabaian, atau exploitasi
•
Pelaku kejahatan ini bisa saja: anggota
keluarga, Staff, orang tidak dikenal, teman, sesama Warga, dsb.
•
Kejadian ini bisa
terjadi karena adanya kesalah pahaman, ketidak pengertian, atau kefrustrasian
dalam melayani Warga usia lanjut, karena tidak menyadari dampak dari kelanjutan
usia
•
Setiap Warga RUKUN memilki hak untuk bebas dari
kekerasan lisan, mental, fisik atau seksual, penelantaran atau eksploitasi
keuangan. Hal ini mencakup kegiatan yang termasuk keluarga dan tamu Warga.
Pendahuluan
•
Selain itu, pengabaian, kekerasan, penelantaran,
dan ekploitasi jenis apapun adalah melanggar kebijakan perusahaan dan dilarang
tegas. Semua karyawan diwajibkan untuk mematuhi kebijakan ini setiap saat.
Pelanggaran kebijakan ini akan menghasilkan hukuman dan termasuk pemecatan.
•
Adalah kewajiban
dan tanggung jawab semua Staff untuk melindungi Warga dari pengabaian,
kekerasan, penelantaran atau eksploitasi.
•
Semua staff diwajibkan segera (setelah
memastikan keamaanan Warga) melaporkan semua ”kemungkinan dan kenyataan”
kejadian pengabaian, kekerasan, penelantaran atau eksploitasi Warga (seperti
yang tercantum di atas) pada Manager departemen atau atasannya.
(1)
1.1.1.
Kekerasan (abuse)
Kekerasan terjadi apabila seseorang ditangani dengan cara
yang tidak benar secara fisik, mental, atau keuangan.
a. Perlakuan kekerasan secara fisik termasuk:
•
Memukul
•
Mencubit
•
Memburu-buru
(misalnya pada waktu berjalan atau sedang makan)
• Membantu
secara kasar • Mengancam
b. Perlakuan kekerasan secara mental termasuk:
•
Mencaci maki/memarahi
•
Menakut-nakuti atau intimidasi
•
Mengancam/menghukum
•
Memperlakukan seperti anak kecil
(2)
1.1.2.
Pengabaian (neglect)
Pengabaian adalah tidak adanya
perhatian terhadap kebutuhan pribadi atau lingkungan Lansia :
a. Pengabaian secara fisik termasuk:
•
Tidak memberikan makan atau minum
•
Mengambil tongkat,
walker, atau kursi roda sehingga
tidak bisa berjalan/bergerak
•
Warga diterlantarkan tanpa perhatian/bantuan
b.
Pengabaian
secara mental termasuk: Mengabaikan atau tidak menggubris
keperluan/permintaan
c.
Pengabaian
secara keuangan termasuk: Tidak menggunakan dana atau sarana untuk mempertahankan
atau memperbaiki kesehatan dan keamanan Lansia
(3)
1.1.3.
Exploitasi (Exploitation)
Exploitasi adalah penyalah gunaan seorang Lansia:
•Menjual hak milik Lansia dan menyimpan hasilnya untuk diri
sendiri
•
Meminjam
barang milik
Lansia dan tidakStaff menerima
mengembalikannya tip (imbalan) dari
Lansia
2. Tanda Dan Gejala
2.1.
Kekerasan fisik-seksual
Trauma yang tidak dapat
dijelaskan (luka
goresan, tusukan, bilur memar, patah, terbakar dan
tanda penggunaan pengekangan), penyakit menular seksual
2.2.
Kekerasan psikologis atau emosional
•
Malas bicara
seputar pelaku
•
Menunjukan ketakutan pada pelaku
• Ketidakpedulian
pelaku untuk meninggalkan korban sendiri
2.3. Isolasi sosial
•
Lansia sering melamun
•
Tidak mau berkumpul dengan lingkungan
•
Menyendiri
• Pernyataan
lansia merasa kesepian dan dibatasi pergaulannya
2.
Tanda Dan Gejala
2.4.
Eksploitasi
•
Tiba-tiba korban tidak mampu membayar tagihan
•
Pernyataan lansia
tentang kehilangan sesuatu yang bernilai
2.5.
Pelayanan kesehatan yang tidak akurat
•
Kelebihan atau kekurangan dosis pengobatan
•
Tidak respon terhadap pengobatan
•
Sakit tidak ditangani dengan baik
•
Ketergantungan terhadap pelayanan kesehatan
Pokok Bahasan 3. Prosedur Pencegahan
Kekerasan
Selama Pendampingan
3.1. Instruksi kerja (reff : IK Penanganan
Kekerasan Dan Kecelakaan
1.
Caregiver berapa pada kondisi yang berpotensi menimbulkan potensi terjadinya
pengabaian, kekerasan, penelantaran atau eksploitasi pada warga
2.
Lakukan komunikasi dengan atasan
3.
Ambil waktu
untuk melakukan tindakan/kegiatan pencegahan yang sesuai dengan kondisi
4.
Bila tindakan/kegiatan pencegahan berhasil maka
caregiver bisa melanjutkan pekerjaan
5.
Bila tindakan/kegiatan pencegahan tidak berhasil maka
caregiver harus berkomunikasi dengan atasan kembali untuk pernggantian tugas
6.
Bila kondisi ini bertambah buruk maka diperlukan
bantuan pihak ke tiga.
3.2.
Tindakan Pencegahan
3.2.1. RELAKSASI SEDERHANA (1)
Pengertian :
Relaksasi
sederhana adalah relaksasi yang bersumber dari diri sendiri berupa kata-kata
atau kalimat pendek ataupun pikiran yang bisa membuat pikiran tenteram.
Tujuan :
a.
Memberikan perasaan nyaman
b.
Mengurangi stres khususnya stres ringan
c.
Memberikan ketenangan
d.
Mengurangi ketegangan
3.2.
Tindakan Pencegahan
3.2.1. RELAKSASI SEDERHANA (2)
b.
Persiapan alat
Tidak ada alat
khusus yang dibutuhkan. Bila diinginkan dapat dilakukan sambil mendengarkan
musik ringan.
c.
Lingkungan
Atur lingkungan senyaman dan
setenang mungkin agar pasien\klien mudah berkonsentrasi.
3.2.
Tindakan Pencegahan
3.2.1. RELAKSASI SEDERHANA (3)
c. Pelaksanaan :
1.
Atur posisi senyaman mungkin.
2.
Pilih kata atau kalimat yang menyemangati
3.
Tutup mata secara perlahan-lahan.
4.
Lemaskan seluruh
anggota tubuh 5. Tarik nafas secara
perlahan.
6.
Fokuskan pikiran pada kata-kata “mantra”
tersebut.
7.
Lakukan secara berulang selama 10 menit,
8.
Bila dirasakan sudah nyaman\rileks, tetap duduk
tenang dengan mata masih tetap tertutup
untuk beberapa saat.
9.
Langkah terakhir, buka mata perlahan-lahan
sambil rasakan kondisi rileks.
.
3.2.2. PENGELOLAAN STRES (1)
Pengertian :
Catatan pengalaman stres adalah langkah pertama pada manajemen
stres.
Tujuan :
Mengidentifikasi
stres yang dialami selama merawat lansia.
Memilih tindakan dalam menangani stres sesuai
pengalaman pribadi.
Persiapan alat :
1. Format
catatan pengalaman stres.
2. Alat
tulis.
3.2.2. PENGELOLAAN STRES (2)
Langkah-langkah :
1 Mencacat pengalaman stres saat
merawat lansia :
• Setiap
saat catat pengalaman stres selama merawat lansia.
• Apa
penyebab dari stres tersebut.
•
Catat bagaimana
perasaan saat mengalami stres buat skala 0 sampai 10.
• Catat
bagaimana tanda dan gejala yang dialami saat mengalami stres
• dalam
merawat lansia (menangis, marah, sakit kepala, berdebar-debar dan lainlain).
• Bagaimana
cara yang dilakukan untuk mengatasi keadaan pengalaman stres.
3.2.2. PENGELOLAAN STRES (3)
Langkah-langkah :
2 Memilih cara dalam menangani
stres selama merawat lansia :
•
Lihat perbedaan stres yang dialami pada catatan
stres.
•
Pilih pengalaman stres yang sangat mengganggu
•
Lihat stres yang
berada pada daftar yang paling atas adalah stres yang paling penting untuk
ditangani.
•
Lihat penyebab dari stres dan lihat cara
penanganan :
•
Jika
berhasil maka cara tersebut bisa digunakan.
•
Jika
kurang maka perlu berlatih kembali
•
Jika cara penanganan yang digunakan tidak
berhasil berarti saudara perlu untuk konseling.
3.2.3. MARAH KONSTRUKTIF (1)
Pengertian :
Mengekspresikan
marahnya secara konstruktif\tepat dengan cara yang baik pada orang lain yang
ada disekitarnya.
Tujuan :
Melatih kemampuan seseorang dalam mengenali dan
mengekspresikan marahnya secara tepat
3.2.3. MARAH KONSTRUKTIF (2)
Langkah-langkah :
2 Memilih cara dalam menangani
stres selama merawat lansia :
•
Lihat perbedaan stres yang dialami pada catatan
stres.
•
Pilih pengalaman stres yang sangat mengganggu
•
Lihat stres yang
berada pada daftar yang paling atas adalah stres yang paling penting untuk
ditangani.
•
Lihat penyebab dari stres dan lihat cara
penanganan yang telah dilakukan.
•
Jika
berhasil maka cara tersebut bisa digunakan.
•
Jika
kurang maka perlu berlatih kembali
•
Jika cara penanganan yang digunakan tidak
berhasil berarti saudara perlu untuk konseling.
3.2.3. MARAH KONSTRUKTIF (3)
Pelaksanaan :
1.
Mengekspresikan marah secara asertif.
2.
Mengalihkan marah dengan kontrol diri
Bila
rasa marah muncul diharapkan setiap individu mampu mengontrol perilaku dengan
menahan rasa marah, berhenti memikirkannya dan mencoba memfokuskan diri pada
sesuatu yang positif\tidak membahayakan, dengan
•
Memukul bantal atau benda lain yang tidak
membahayakan diri sendiri
•
atau orang lain ketika sedang marah.
•
Berdzikir
atau berhitung 1 – 30 kali
•
Mendengarkan musik
•
Menghindari berada dekat dengan anak atau sumber
stressor
•
Tidur
3.2.3. MARAH KONSTRUKTIF (4)
3. Melakukan tehnik relaksasi
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan
tehnik relaksasi progresif cepat, dengan cara :
•
Tarik nafas dalam perlahan-lahan, tahan selama
5-10 detik, bayangkan
•
hal-hal yang menyenangkan, dan hembuskan
perlahan-lahan melalui
•
mulut.
•
Kepalkan kedua tangan kencangkan kearah bawah,
kerutkan dahi lalu
•
tekan kepala sejauh mungkin kebelakang, putar
searah jarum jam dan
•
sebaliknya. Lakukan sebanyak 8-10 kali putaran
•
Kaki sejajar, tarik kaki dan ibu jari
kebelakang, tahan dan rileks.
•
Minum dan basuh wajah dengan air.
3.2.3. MARAH KONSTRUKTIF (5)
5.
Mengevaluasi kemampuan yang telah
4.
Latihan fisik dicapai oleh
individu\keluarga • Mencuci dalam
mengekspresikan marahnya secara k • Mengepel onstruktif pada anggota keluargayang lain.
•
Membersihkan kamar mandi
•
6. Memberikan dukungan pada keluarga untuk
meningkatkan kemampuannya
dalam
mengekspresikan marahnya secara konstruktif
Pokok Bahasan 4. Identifikasi informasi yang terkait dengan kekerasan
sesuai kondisi Lansia
Informasi yang dibutuhkan bila
terjadi kekerasan :
•
Data Lansia : Nama, jenis kelamin, usia
•
Kronologis kejadian, tempat kejadian, waktu
Kejadian (hari, tanggal, jam)
•
Tanda dan jenis kekerasan
•
Dampak
dari kekerasan
•
Penanggulan yang telah dilakukan
Pihak
yang berhak menerima informasi/pelaporan :
Perusahaan
Lansia/Penanggung
Jawab lansia
Caregiver
Dokter
(bila diperlukan)
Kepolisian
(bila diperlukan
3.1. Instruksi kerja (reff : IK Penanganan
Kekerasan Dan Kecelakaan)
Langkah penanganan:
1.
Caregiver menerima informasi atau menemukan
warga dengan indikasi dugaan pengabaian, kekerasan, penelantaran atau
eksploitasi
2.
Lakukan
identifikasi jenis dan dampak dari indikasi dugaan pengabaian, kekerasan,
penelantaran atau eksploitasi
3.
Lakukan komunikasi yang tepat sesuai kondisi
warga
4.
Lakukan penanganan yang tepat sesuai dengan
dampak dari dengan indikasi dugaan pengabaian, kekerasan, penelantaran atau
eksploitasi
5.
Dokumentasikan tindakan dan hasil (reff : Form
Dokumentasi Kekhawatiran,
Kejadian, dan Keluhan)
RM-5
5.2. Form Dokumentasi Kekhawatiran, Kejadian,
dan Keluhan (1)

RM-5
5.2. Form Dokumentasi Kekhawatiran, Kejadian,
dan Keluhan (2)

6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
Kata-kata mempunyai
efektifitas 7%
Nada suara mempunyai
efektifitas 38%
Gerak-gerik
non-verbal mempunyai efektifitas 55%
Gerak-gerik
non-verbal termasuk:
•
Sikap badan (misalnya: lengan dilipat, berdiri, duduk,
tegang, santai)
•
Emosi sambil bicara
(misalnya: berteriak, bersuara keras, bersemangat)
•
Hubungan lain antara orang yang berkomunikasi
(misalnya: teman, musuh, memiliki kesamaan/perbedaan, umur)
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.1.
Unsur-unsur dalam berbicara:
• Sikap badan
• Kondisi
suara
• Cara:
langsung, tulus
• Pakaian
(model, warna, kesesuaian dengan situasi)
• Barang
pendamping presentasi
•
Kontak mata
• Muatan emosi, energi, kekuatan
•
Kepercayaan diri
•
Keyakinan orang lain
• Mendengarkan
pihak kedua
•
Kepekaan (sensitivitas)
•
Sikap dan keyakinan
• Tujuan
berkomunikasi – tahu apa yang ingin disampaikan
• Kesederhanaan
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.2.
Unsur-unsur dalam mendengar:
• Perhatian
pada pembicara
•
Kontak mata
• Mendengarkan
diri sendiri
•
Masukan
kembali/umpan balik
•
Sikap badan
•
Jangan tergesa-gesa
• Biarkan
pembicara berbicara sesuai kecepatannya sendiri; jangan mencoba berbicara untuknya
• Bila tidak
jelas, minta pembicara untuk mengulang kembali
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.3.
Komunikasi dengan Lansia secara umum
•
Hadapi dari depan.
•
Upayakan koneksi mata.
•
Posisikan wajah pada level yang sama.
•
Gunakan
postur tubuh yang terbuka.
•
Upayakan area yang bebas bising saat berbicara.
•
Bila perlu, kenalkan nama anda (lagi).
•
Panggil warga dengan nama yang menghormatinya, atau
panggilan yang memang beliau inginkan.
•
Jangan melakukan gerakan yang mendadak atau cepat.
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.4.
Komunikasi dengan Lansia yang Kurang
Pendengarannya
•
Hadapi dari depan.
•
Upayakan koneksi mata.
•
Posisikan wajah pada level yang sama.
•
Gunakan
postur tubuh yang terbuka.
•
Upayakan area yang bebas bising saat berbicara.
•
Bila perlu, kenalkan nama anda (lagi).
•
Panggil warga dengan nama yang menghormatinya, atau
panggilan yang memang beliau inginkan.
•
Jangan melakukan gerakan yang mendadak atau cepat.
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.5. Komunikasi dengan Lansia yang Kesukaran
Berbicara
•
Biasakan untuk mendengarkan baik-baik.
•
Anjurkan beliau untuk memakai tangannya untuk
memperjelas
maksudnya.
•
Bisa dicoba minta untuk menuliskan keinginannya.
•
Ulangi apa
yang anda tangkap untuk memastikan bahwa anda benar-benar mengerti maksudnya.
•
Usahakan mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab
dengan “ya” atau “tidak”.
•
Bertindaklah dengan tenang dan ingat bahwa keadaan ini
lebih menyusahkan untuk beliau daripada untuk anda.
•
Jangan pura-pura mengerti meskipun sebetulnya tidak
jelas. Bila anda tidak mengerti, carilah bantuan dari pihak lain.
Teknik
Komunikasi
6.1. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Verbal
6.1.6. Komunikasi dengan lansia
yang Kurang Daya Lihatnya • Jika ada, usahakan mereka memakai kacamatanya.
•
Duduklah berhadapan dengan
beliau agar wajah anda bisa dilihat dengan jelas.
•
Usahakan tempatnya cukup terang.
•
Biarkan beliau menyentuh anda atau barang yang sedang dibicarakan.
•
Lukiskan dengan kata-kata yang jelas apa yang sedang dibicarakan.
•
Bila ada, pakailah kaca pembesar.
Pokok Bahasan 6. Teknik Komunikasi Yang Baik Dalam
Melakukan Identifikasi
6.2. Ketrampilan Berkomunikasi Secara Tertulis
Semua kejadian terhadap Warga atau Tamu harus dilaporkan
secara tertulis dengan formulir Dokumentasi Kekhawatiran,
Kejadian,
dan Keluhan (RM-5).

Kesimpulan
Setelah
mengikuti pelatihan ini peserta kompeten
sebagai seorang Caregiver
Pelaksana dan Caregiver Penyelia dalam melaporkan kekerasan dan penganiayaan selama pendampingan

Post Test
Feedback


Komentar
Posting Komentar