konsep goutartritis dan konsep spiritual pada lansia
![]()
7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Penyakit GoutArthritis
2.1.1 Pengertian GoutArthritis
Gout adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tukang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah (Merkie, Carrie. 2005).
Gout
Arthritismerupakan penyakit inflamasi sendi yang
ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam ataupun di sekitar
persendian. Monosodium urat ini berasal dari metabolisme purin. Hal penting
yang mempengaruhi penumpukan kristal
adalah hiperurisemia dan saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar
asam urat di dalam darah terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi
jaringan tubuh, penyakit ini akan memiliki manifestasi berupa penumpukan
kristal monosodium urat secara mikroskopis maupun makroskopis berupa tophi
(Zahara, 2013).
2.1.2
Etiologi
Penyebab terjadinya gout adalah karena
adanya deposit/ penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat
sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan kelainan
metabolik dalam pembentukan purin danekskresi
asam urat yang kurang dari ginjal (Aspiani, 2014). Faktor pencetus terjadinya
endapan kristal urat yaitu :
1.
Diet tinggi purin dapat memicu
terjadinya gout pada orang yang
mempunyai kelainan bawaan dalam metabolisme purin
sehingga terjadi peningkatan produksi asam urat.
2. Penurunan filtrasi gllomerulus merupakan penyebab penurunan ekskresi asam urat yang paling sering dan mungkin disebabkan oleh banyak hal.
3.
Pemberian obat diuretik seperti tiazid dan furosemid,
salisilat dosis rendah dan etanol juga merupakan penyebab penurunan
ekskresi asam urat yang sering dijumpai.
4.
Produksi yang berlebihan dapat
disebabkan oleh adanya defek primer
pada jalur penghematan purin (mis,
defisiensi hipoxantin fosforibosil
transferase), yang menyebabkan peningkatan pergantian sel (mis, sindrom lisis tumor) menyebabkan hiperurisemia sekunder.
5.
Minum alkohol dapat menimbulkan
serangan gout karena alkohol meningkatkan produksi urat. Kadar laktal darah
meningkat akibat produk sampingan dari metabolisme normal alkohol. Asam laktat
menghambat ekskresi asam urat oleh ginjal sehingga terjadi peningkatan kadarnya
dalam serum.
6.
Sejumlah obat-obatan dapat
menghambat ekskresi asam urat oleh ginjal sehingga dapat menyebabkan serangan gout. Yang termasuk diantaranya adalah aspirin dosis rendah (kurang dari 1
sampai 2 g/hari), levodopa, diazoksid, asam
nikotinat, asetazolamid, dan etambutol.
2.1.3
Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat
disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan ekskresi asam urat,
ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat
diterangkan sebagai berikut: Sintesis purin
melibatkan dua jalur, yaitu jalut de
novo dan jalur penghematan (salvage
pathway) (Aspiani, 2014).
1.
Jalur de novo melibatkan sintetsis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah
ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui
serangkaian zat antara menjadi nukleotida purim (asam inosinat, asam guanilat, asam
adenilat). Jalur ini dikendalikan
oleh rangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang
mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP), sintetase dan amido-fosforibosiltransferase
(amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang
fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
2.
Jalur penghematan adalah jalur
pembentukan nukleotidapurin melalui
basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini
tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas
(adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi
dengan PRPP untuk membentuk prekusor
nukleotida purin dan asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT)
dan adenin fosforibosiltransferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil
metabolisme purin akan difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus dan
diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang
diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal dan dikeluarkan melalui
urin.
Pada penyakit Gout, terdapat gangguan kesetimbangan metabolisme (pembentukan dan ekskresi) dan asam urat tersebut, meliputi:
1. Penurunan ekskresi
asam urat secara idiopatik.
2. Penurunan ekskresi
asam urat sekunder,
misalnya karena gagal ginjal.
3. Peningkatan
produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang meningkatkan cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzim-enzim atau mekanisme umpan balik inhibisi
yang berperan).
4.
Peningkatan asupan makanan
yang mengandung purin.
5. Peningkatan
produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan asam urat dalam tubuh. Asam
urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga cenderung
membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam
bentuk kristal monosodium urat.
Adanya kristal mononatrium urat ini akan
menyebabkan inflamasi melalui beberapa cara:
1.
Kristal bersifat mengaktifkan
sistem komplemen terutama C3a dan C5a. Komplemen ini bersifat kemotaktik dan akan merekrut neutrofil kr jaringan (sendi dan
membran sinovium). Fagositosis terhadap kristal memicu pengeluaran radikal
bebas toksik dan leukotrien, terutama
leukotrien B. Kematian neutrofil menyebabkan keluarnya enzim lisosom yang destruktif.
2.
Makrofag yang juga terekrut pada
pengendapan kristal urat dalam sendi akan melakukan aktivitas fagositosis, dan juga mengeluarkan
berbagai mediator proinflamasi seperti
IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF. Mediator-mediator ini
akan memperkuat respons
peradangan, di
samping itu mengaktifkan sel sinovium dan sel tulang rawan untuk menghasilkan protease. Protease ini akan menyebabkan
cedera jaringan.
3.
Penimbunan kristal urat dan
serangan yang berulang akan menyebabkan terbentuknya endapan
seperti kapur putih yang disebut tofi/tofus (tophus) di tulang rawan dan kapsul sendi. Di tempat tersebut
endapan akan memicu reaksi peradangan granulomatosa, yang ditandai dengan massa
urat amorf (kristal) dikelilingi oleh makrofag,
limfosit, fibroblas, dan sel raksasa benda asing. Peradangan kronis yang persisten
dapat menyebabkan fibrosis sinovium, erosi
tulang rawan, dan dapat diikuti oleh fusi sendi (ankilosis). Tofus dapat terbentuk di tempat lain (misalnya tendon,
bursa, jaringan lunak). Pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal
dapat mengakibatkan penyumbatan dan nefropati
gout.

2.1.4
Pathway Gout
Gangguan metabolisme purin
|
|
Penimbunan kristal monoatrium di sendi (GOUT) |
|
|
|
|
|
||
Respons inflamasi
Gambar 2.1 Pathway
Gout
2.1.5
Manifestasi klinis
Pada keadaan normal kadar urat serum
pada laki-laki mulai meningkat setelah pubertas. Pada perempuan kadar urat
tidak meningkat sampai setelah menopause karena estrogen meningkatkan ekskresi
asam urat melalui ginjal. Setelah menopause, kadar urat serum meningkat seperti pada pria. Ada prevalensi familial dalam penyakit yang
mengesankan sutu dasar genetik dari penyakit ini. Namun, ada beberapa faktor
yang agaknya memengaruhi timbulnya penyakit ini, termasuk diet, berat badan,
dan gaya hidup (Aspiani, 2014). Menurut Aspiani (2014) terdapat empat stadium
perjalanan klinis dari penyakit gout yaitu:
1.
Stadium I
Stadium I adalah hiperuresemia asimtomatik. Nilai normal asam urat serum pada
laki-laki adalah 5,1 ± 1,0 mg/dl, dan pada perempuan adalah 4,0 ± 1,0 mg/dl.
Nilai-nilai ini meningkat sampai 9-10 mg/dl pada seseorang dengan gout. Dalam tahap ini pasien tidak menunjukkan gejala-gejala selain
dari peningkatan asam urat serum.
2.
Stadium II
Stadium II adalah arthritis gout akut. Pada tahap ini terjadi awitan mendadak
pembengkakan dan nyeri yang luar
biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi metatarsofalangeal. Arthritis bersifat monoartikular dan menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin
terdapat demam dan peningkatan jumlah leukosit. Serangan dapat dipicu oleh pembedahan, trauma, obat-obatan,
alkohol, atau stress emosional. Sendi-sendi lain dapat
diserang, termasuk sendi jari-jari tangan, dan siku. Serangan gout akut biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat makan waktu 10
sampai 14 hari.
Perkembangan dari serangan akut gout,
mula-mula terjadi hipersaturasi dari
urat plasma dan cairan tubuh. Selanjutnya diikuti oleh penimbunan di dalam dan
sekeliling sendi-sendi. Serangan gout seringkali terjadi sesudah trauma lokal
atau rupture tofi (timbunan natrium
urat). Tubuh mungkin tidak dapat mengatasi peningkatan ini dengan baik sehingga
terjadi pengendapan asam urat di luar serum. Kristalisasi dan penimbunan asam
urat akan memicu serangan gout dan memicu respon fagostik oleh leukosit,
sehingga leukosit memakan kristal-kristal urat dan memicu mekanisme respon
peradangan lainnya. Respon peradangan ini dapat dipengaruhi oleh lokasi dan
banyaknya timbunan kristal asam urat, serta peradangan dapat meluas dan
bertambah sendiri.
3.
Stadium III
Stadium III adalah serangan goutakut (gout interitis), adalah tahap
interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada masa ini, yang dapat berlangsung
dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan
goutberulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4.
Stadium IV
Stadium IV adalah gout kronik, dengan
timbunan asam urat yang terus bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan
tidak dimulai. Peradangan kronik akibatnya kristal-kristal asam urat
mengakibatkan nyeri, sakit, dan juga kaku, juga pembesaran dan penonjolan sendi
yang bengkak. Serangan akut arthritis
gout dapat terjadi dalam tahap ini. Tofi
terbentuk pada masa gout kronik
akibat insolubilitas asam urat. Awotan dan ukuran tofi secara proposional mungkin berkaitan dengan kadar asam urat serum. Bursa olekranom, tendon Achilles, permukaan ekstensor lengan
bawah., bursa infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat-tempat yang
sering dihinggapi tofi. Secara klinis
tofi ini mungkin sulit
dibedakan dengan nodul reumatik.
Pada masa kini tofi jarang terlihat
dan akan menghilang dengan terapi yang tepat.
Gout
dapat merusak ginjal, sehingga ekskresi asam urat akan
bertambah buruk. Kristal-kristal asam urat dapat terbentuk dalam interstititum medulla, papilla, dan pyramid, sehingga timbul proteinuria dan hipertensi ringan. Batu
ginjal asam urat juga dapat terbentuk sebagai
sekunder dari gout. Batu biasanya berukuran kecil, bulat, dan
tidak terlihat pada pemeriksaan radiografi.
2.1.6
Tanda dan Gejala
Menurut Aspiani
(2014) adapun tanda dan gejala berupa:
1. Gejala Klinis
a.
Nyeri tulang sendi.
b.
Kemerahan dan
bengkak pada tulang sendi
c.
Tofi pada ibu jari, mata
kaki dan pinna telinga
d.
Peningkatan suhu tubuh
2. Gangguan akut:
a.
Nyeri hebat.
b.
Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang.
c.
Sakit kepala.
d.
Demam
3. Gangguan kronis:
a.
Serangan akut.
b.
Hiperurisemia yang tidak
diobati.
c.
Terdapat nyeri dan pegal.
d.
Pembengkakan sendu membentuk noduler
yang disebuut tofi (penumpukan
monosodium urat dalam jaringan)
2.1.7 Pemeriksaan penunjang
1. Serum asam urat
Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl.
Pemeriksaan ini mengindikasi hiperurisemia, akibat peningkatan produksi asam
urat atau gangguan ekskresi.
2.
Leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan
mencapai 20.000/mm3 selama serangan akut. Selama periode asimtomatik
angka leukosit masih dalam batas normal yaitu 5000-10000/mm3.
3.
Eusinofil Sedimen Rate (ESR)
Meningkat selama serangan akut.
Peningkatan kecepatan sedimen rate mengindikasikan proses inflamasi akut,
sebagai akibat deposit asam urat di persendian.
4.
Urin spesimen
24 jam
Jumlah normal seorang mengekskresikan
250-750 mg/24 jam asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat
maka level asam urat urin meningkat. Kadar kurang dari 800 mg/24 jam
mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum asam urat.
5.
Analisis cairan aspirasi
sendi
Analisis cairan aspirasi dari sendi yang
mengalami inflamasi akut atau material aspirasi dari sebuah tofi menggunakan
jarum krisral urat yang tajam, memberikan diagnosis defintif gout.
6.
Pemeriksaan radiografi
Pada sendi yang terserang, hasil
pemeriksaan menunjukkan tidak dapat perubahan pada awal penyakit, tetapi
setelah penyakit berkembang progresif maka akan terlihat jelas/area terpukul
pada tulang yang berada di bawah sinavial sendi.
2.1.8
Penatalaksanaan
Tujuan untuk mengakhiri serangan akut
secepat mungkin, mencegah serangan berulang, dan pencegahan komplikasi.Menurut Aspiani (2014) pengobatan gout bergantung
pada tahap penyakitnya:
1. Pada stadium
1 (Hiperuresemia asimtomatik)
a.
Biasanya tidak membutuhkan pengobatan.
b.
Turunkan kadar asam urat dengan
obat-obat urikosurik dan penghambat xanthin
oksidase.
2. Stadium 2 (Arthritis
Gout akut)
Serangan akut arthritis gout dapat
diobati dengan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid atau kolkisin. Obat-obatan ini diberikan
dalam dosis tinggi atau dosis penuh untuk mengurangi peradangan akut sendi,
kemudian dosis ini diturunkan secara bertahap dalam beberapa hari.
a.
Kalkisin
di berikan 1 mg (2 tablet) kemudian 0,5 mg (1 tablet) setiap
2 jam sampai serangan akut menghilang.
b. Indometasin 4 x 50 mg sehari.
c.
Fenil butazon
3 x 100-200
mg selama serangan,
kemudian turunkan.
d.
Penderita di anjurkan untuk
diet rendah purin, hindari alkohol dan obat-obat yang
menghambat ekskresi asam urat.
3. Stadium 3 (tahap Inter
kritis)
Obat alopurinol menghambat
pembentukan asam urat dari prekursornya (xantin
dan hipoxantin) dengan menghambat
enzim xantin oksidae. Obat ini dapat
diberikan dalam dosis yang memudahkan yaitu sekali seharai.
a.
Hindari faktor pencetus timbulnya
serangan seperti banyak makan lemak, alkohol dan protein, trauma dan infeksi.
b.
Berikan obat profilatik (Kalkisin
0,5-1 mg) indometasin tiap hari.
4. Stadium 4 (Gout
kronik)
a.
Alopurinol
menghambat enzim xantin
oksidae sehingga mengurangi pembentukan asam urat.
b.
Obat-obat urikosurik
yaitu prebenesid dan sulfinpirazon.
c.
Tofi
yang besar atau tidak hilang
dengan pengobatan konservatif perlu dieksisi.
Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat
menggunakan probenezid 0,5 g/hari
atau sulfinpyrazone (Anturane) pada
pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau menurunkan pembentukan asam urat
dengan Alopurinol 100 mg 2 kali/hari.
2.1.9
Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan menurut
Aspiani (2014) yaitu:
1.
Pembatasan purin
Apabila telah terjadi pembengkakan sendi
maka penderita gangguan asam urat
harus melakukan diet bebas purin.
Namun karena hampir semua
bahan makanan sumber protein mengandung nukleoprotein maka hal ini hampir tidak
mungkin dilakukan.
Maka yang harus dilakukan adalah
membatasi asupan purin menjadi 100-150 mg purin per hari (diet normal biasanya mengandung 600-1000 mg purin per hari).
Makan-makanan yang mengandung purin antara
lain: jeroan (jantung, hati, lidah, ginjal,
usus),
sarden, kerang, ikan kering, kacang-kacangan, bayam, udang, daun melinjo.
2. Kalori sesuai
kebutuhan tubuh
Jumlah asupan kalori harus benar
disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan.
Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, badannya harus
diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga
bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya bahan keton yang
akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urin.
3.
Tinggi karbohidrat
Karbohidrat kompleks seperti nasi,
singkong, roti dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat
karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urin. Konsumsi karbohidrat
sederhana jenis fruktosa seperti gula, permen, arum manis, gulali, dan sirop sebaiknya dihindari karena fruktosa
akan meningkatkan kadar asam urat dalam darah.
4.
Rendah protein
Protein terutama yang berasal dari hewan
dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung
protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, pari dan
limpa. Asupan protein yang dianjurkan bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 gram/hari atau 0,8-1
gram/kg berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan adalah protein nabati yang berasal dari
susu, keju, dan telur.
5. Rendah lemak
Lemak dapat menghambat ekskresi asam
urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarin dan mentega
sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total
kalori.
6.
Tinggi cairan
Konsumsi cairan yang tinggi dapat
membantu membuang asam urat melalui urin. Karena itu, disarankan untuk
menghabiskan minum minimal sebanyak 2,5 liter atau 10 gelas sehari. Air minum ini bisa
berupa air putih masak, teh, atau kopi. Selain dari minuman, caoram bisa
diperoleh melalui buah-buahan segar mengandung
banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah,
nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan
yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah- buahan sangat sedikit mengandung
purin. Buah-buahan sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena
keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
7.
Tanpa alkohol
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa
kadar asam urat mereka yang mengonsumsi
alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang
tidak mengonsumsi alkohol.
Hal ini adalah karena alkohol
akan
meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan
menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.
2.1.10 Komplikasi
Menurut Aspiani (2014), komplikasi yang
dapat terjadi: (1) Deformitas pada persendian yang terserang; (2) Urolitiasis
akibat deposit kristal urat pada saluran kemih; (3) Nephrophaty akibat deposit kristal urat dalam
interstisial ginjal; (4) Hipertensi ringan; (5) Proteinuria; (6)
Hiperlipidemia; (7) Gangguan parenkim ginjal dan batu ginjal.
2.1.11 Masalah Yang Lazim Muncul
1. Nyeri
akut b.d agen cidera biologis pembengkakan sendi, melaporkan nyeri secara
verbal pada area sendi
2.
Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri
persendian (kaku sendi)
3.
Gangguan rasa nyaman
b.d gejala terkait
penyakit (nyeri pada sendi)
4. Resiko
ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar elektrolit pada ginjal
(disfungsi ginjal)
5. Hambatan religiositas b.d gejala terkait
penyakit (nyeri pada
sendi)
6.
Gangguan pola tidur b.d nyeri pada pembengkakan.
2.2 Konsep Spiritualitas dan Religiositas
2.2.1
Pengertian Spiritualitas dan Religiositas
Spiritualitas adalah konsep dua dimensi
dengan dimensi vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal mewakili hubungan
dengan Tuhan sedangkan dimensi horizontal mewakili hubungan dengan orang lain. Spiritual adalah hubungan
transenden antara manusia dengan yang Maha Tinggi, sebuah kualitas yang berjalan diluar afiliasi
agama, yang berjuang keras mendapatkan penghormatan,
kekaguman, inspirasi, dan memberikan jawaban mengenai sesuatu
yang tak terbatas (Mickey & Beare, 2007).
Religiositas merupakan sebuah perangkat
kepercayaan yang merujuk pada aktifitas yang didasarkan atas keyakinan dan
keimanan, baik yang dilakukan dengan kasat mata maupun tidak kasat mata. Religiositas merupakan hal
penting yang mana memiliki tiga focus utama yaitu sebagai alat untuk mengidentifikasi
praktek keagamaan seseorang termasuk kegiatan ibadah, dan kepercayaan terhadap
agama yang dianutnya. (Bjarnason, 2012).
2.2.2
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Religiositas
Beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan sikap kegamaan menurut Sari (2014) adalah:
1.
Pengaruh pendidikan atau pengajaran
dan berbagai tekanan sosial (faktor
sosial).
2. Berbagai
pengalaman yang membantu sikap
keagamaan, terutama
pengalaman-pengalaman mengenai keindahan, kekerasan, kebaikan di dunia lain,
konflik moral, dan pengalaman emosional keagamaan.
3. Faktor-faktor
yang selutuhnya atau sebagian timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak
terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan
ancaman kematian.
4.
Berbagai ptoses pemikiran
verbal (faktor intelektual).
2.2.3
Karakteristik Spiritual
Karakteristik spiritual menjadi bagian
misterius terkait upaya seseorang untuk memahami makna dan tujuan hidup,
keterkaitan yang harmonis atau hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan
dengan orang lain, serta kekuatan dari batin yang berkaitan dengan
spiritualitas yang muncul dari dalam diri individu dan rasa
suci (Marry, 2011)
1.
Hubungan seseorang dengan diri sendiri
Kekuatan yang berasal dari dalam diri
individu atau kepercayaan pada diri sendiri dengan menyadari identitas dirinya
sehingga mampu menjawab siapa dirinya, apa perannya dalam kehidupan dan sikap
pada diri sendiri terkait percaya dengan masa depan, ketenangan pikiran
sehingga memiliki kepuasan dalam menjalani hidup dan melihat pengalaman maupun
kejadian dalam hidup sebagai hal yang positif.
2.
Hubungan individu dengan
orang lain
Hubungan yang lahir dari kebutuhan
dihargai dan diperhatikan orang lain, keadilan dan kebaikan, rasa takut akan
kesepian. Hubungan dengan orang lain dapat dilakukan dengan cara berbagi ilmu, waktu dan melakukan
aktivitas bersama-sama seperti peduli terhadap orang sakit, peduli pada anak
jalanan dan bertakziah pada tetangga yang meninggal dunia.
3.
Hubungan individu dengan
alam
Harmonisasi dengan alam meliputi
pengetahuan dan interaksi seseorang dengan alam.harmonisasi dengan alam dapat
dimenifestasikan dengan pengetahuan tentang ikan, cuaca, musim, berbagai
tanaman, satwa sehingga mendorong seseorang untuk peduli dan ikut serta memelihara
alam.
4.
Hubungan individu dengan
Tuhan
Hubungan dengan Tuhan dapat dilihat dari
sisi religius maupun tidak religius yang tampak dari aktivitas keagamaan seperti beribadah, membaca kitab suci, dan
mengikuti ritual keagamaan.
2.2.4
Pemenuhan Kebutuhan Spiritual
Pemenuhan kebutuhan spiritual individu dilakukan dengan
cara:
1.
Pemenuhan kebutuhan vertikal
Pemenuhan kebutuhan vertikel merupakan
pemenuhan kebutuhan spiritual yang berhubungan dengan Tuhan (Utami &
Supratman, 2009). Pemenuhan kebutuhan spiritual dilakukan dengan cara berdoa
dan ritual agama.
2.
Pemunuhan kebutuhan horizontal
Menurut
Utami & Supratman
(2009) pemenuhan kebutuhan horizontal meliputi:
a.
Hubungan dengan diri sendiri
Pemenuhan kebutuhan spiritual
yang bersumber pada kekuatan diri sendiri untuk mengatasi atau menyelesaikan
masalah yang dihadapinya. Kekuatan
spiritual yang muncul dapat berupa kepercayaan, harapan,
dan makna hidup.
b. Hubungan dengan
orang lain
Manusia diciptakan sebagai mahkluk
sosial. Maka dari itu setiap individu harus dapat menjalin hubungan antar
individu harus dapat menjalin hubungan antar individu ataupun kelompok secara
harmonis untuk memenuhi kebutuhan spiritualitasnya. Pemenuhan kebutuhan
spiritual dapat dilakukan melalui cinta kasih dan dukungan sosial. Cinta kasih
dan dukungan sosial dapat memberikan efek yang positif pada setiap individiu
karena dapat memberikan bantuan dan dukungan emosional untuk membantu dalam
menghadapi penyakitnya.
c. Hubungan dengan
alam
Lingkungan atau suasana yang tenang dan
nyaman dapat memberikan kedamaian
pada setiap individu dalam memenuhi kebutuhan spiritualitasnya. Kedamaian
tersebut dapat meningkatkan status kesehatan individu karena sikap curring dan empatinya.
2.2.5
Kesehatan dan Kesejahteraan Spiritual
Kesehatan spiritual atau disebut juga
kesejahteraan spiritual adalah rasa keharmonisan, saling adanya kedekatan
antara diri sendiri dengan orang lain, alam, dan dengan kehidupan yang
tertinggi. Rasa keharmonisan ini tercapai ketika seseorang menemukan adanya
keseimbangan antara nilai, tujuan, dan keyakinan mereka
akan hubungannya dengan diri sendiri dan orang lain (Potter & Perry, 2004).
Ellison (1983) dan Pilch (1988) dalam
Kozier, 2004) mendefenisikan kesehatan spiritual adalah suatu cara hidupyang
penuh makna, berguna, menyenangkan dan bebas untuk memilih setiap ada
kesempatan yang sesuai dengan nilai-nilai spiritual. Manusia memelihara dan
meningkatkan spiritualnya dengan berbagai cara, ada yang memfokuskan pada
pengembangan dirinya sendiri yaitu dialognya dengan Tuhan melalui doa,
meditasi, melalui mimpi, berkomunikasi dengan alam, atau melalui ekspresi
dibidang seni seperti drama, musik
dan menari, sementara yang lain lebih memfokuskan pada dunia luar yaitu dengan
mencintai orang lain, melayani orang lain, gembira, tertawa, terlibat dalam
pelayanan keagamaan, persahabatan dan aktivitas bersama, rasa haru, empati,
pengampunan, dan harapan (Kozier, 2004).
2.2.6
Peran Keperawatan Dalam Spiritualitas
Peran keperawatan dalam meningkatkan
spiritualitas harus bersifat individual dimana perawat harus bisa memberikan
ketenangan dan kepuasan batin dalam berhubungan dengan Tuhan atau agama yang dianutnya. Dalam hal ini peran
perawat menurut Yusuf (2013) antara lain:
1.
Pengkajian
Merupakan fungsi perawat yang
terpenting. Data yang diperoleh digunakan sebagai dasar bagi intervensi
keperawatan. Pengkajin yang terampil mencangkup mendengarkan dengan penuh perhatiian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan
dengan terampil, mengobservasi dengan penuh pemikiran dan berpikir kritis.
2.
Teman
Perawat yang mengasuh harus menyediakan
waktu untuk lansia, membiarkan mereka menjadi diri mereka sendiri dan mengenal
nilai mereka. Keterampilan yang deperlukan adalah menunjukkan kasih Tuhan, mendengarkan dengan penuh perhatian, memulai percakapan yang
mengarah pada topik spiritual adan menyediakan diri secara teratur.
3.
Advokat
Peran advokasi perawat dapat mencangkup
menulis surat, menelepon, atau melakukan pendekatan tentang sebab-sebab yang
mempengaruhi kesejahteraan klien
4.
Pemberi asuhan
Keterampilan perawat meliputi bersifat
sensitive terhadap kebutuhan yang tidaak terungkap, meningkatkan sikap
membantu, mendengarkan adanya distress spiritual dan memeberikan perawatan
fisik dan spiritual secara bersamaan.
5.
Manager kasus
Keterampilan keperawatan khusus yang
diperlukan mencangkup mengelola sumber-sumber yang terbatas untuk mendapatkan
manfaat yang maksimal mengelola bantuan untuk klien guna meminimalkan keletihan
akan ancietas, meningkatkan penerimaan terhadap bantuan tanpa menjadi
keterganutuan dan meningkatkan ikatan asa? Komunitas agama seseorang.
6.
Peneliti
Penyelikan secara prinsip melibatkan
sikap religious organisasi, sikap religious pribadi dan korelasi aktivitas
religious dengan kesehatan, penyesuain pribadi dan paktik-praktik lain. Lebih
lanjut lagi upaya penelitian spiritualitas belum sepenuhnya dibantu oleh
pemerintah atau sumber pendanaan swasta.
2.2.12 Ekspresi Kebutuhan Spiritual Adaptif Dan
Maladaptif Ekspresi
kebutuhan spiritual adaptif dan maladaptif menurut Yani (2009) yaitu:
1. Rasa
percaya dengan perilaku adaptif berupa percaya pada diri sendiri dan kesabaran, menerima
bahwa yang lain akan mampu memenuhi kebutuhan, percaya terhadap
kehidupan walau terasa berat, dan
keterbukaan terhadap Tuhan. Perilaku maladaptif berupa tidak nyaman dengan
kesadaran diri mudah tertipu, tidak mampu untuk terbuka dengan orang lain,
merasa bahwa orang dan tempat tentang yang aman, mengharapkan orang yang tidak berbuat
baik dan tidak tergantung, ingin
kebutuhan terpenuhi segera, tidak bisa menunggu, tidak terbuka kepada Tuhan, dan takut terhadap
maksud Tuhan.
2. Kemauam
memberi maaf dengan perilaku adaptif berupa menerima diri dan orang lain dapat
membuat salah, tidak mendakwa dan berprasangka buruk, memandang penyesalan
sebagai sesuatu yang nyata, memanfaatkan diri sendiri, memberi maaf orang lain, menerima pengampunan dari Tuhan, dan pandangan yang realistic
terhadap masa lalu. Perilaku maladaptif berupa merasakan penyesalan sebagai
suatu hukuman, merasa Tuhan sebagai penghukum, tidak mampu menerima diri
sendiri, menyalahkan diri dan orang lain, dan merasa bahwa maaf hanya diberikan
berdasarkan perilaku.
3. Keyakinan
dengan perilaku adaptif berupa ketergantungan dengan anugrah Tuhan, termotivasi
untuk tumbuh, mampu puas menjelaskan
kehidupan setelah kematian, dan mengekspresikan kebutuhan spiritual. Perilaku
maladaptif berupa perasaan ambivalens dg Tuhan, tidak percaya dengan kekuasaan
Tuhan, takut kematian dan kehidupan setelah mati, merasa terisolasi dengan
kepercayaan masyarakat, merasa pahit, frustasi dan marah dengan Tuhan,
keyakinan dan tujuan hidup yang tidak jelas, konflik nilai, dan tidak punya komitmen.
4. Mencintai
dan ketertarikan dengan perilaku adaptif berupa mengekspresikan perasaan
dicintai oleh orang laindan Tuhan,
mampu menerima
bantuan, menerima diri sendiri, dan mencari kebaikan dari orang lain. Perilaku
maladaptif berupa takut untuk tergantung oranglain, menolak kerjasama dengan
tenaga kesehatan, cemas berpisah dengan keluarga, menolak diri, angkuh atau
mementingkan diri, tidak percaya bahwa diri dicintai Tuhan, tidak mempunyai
hubungan rasa cinta dengan Tuhan, dan merasa jauh dengan Tuhan
5. Kreatifitas
dan harapan dengan perilaku adaptif berupa minta info tentang kondisi, bicara
kondiri secara realistic, menggunakan waktu secara konstruktif, mencari cara
untuk mengekspresikan diri, mencari kenyamanan batin dari pada fisik, dan
mengekspresikan harapan tentang masa depan. Perilaku maladaptif berupa
mengekspresikan rasa takut kehilangan kendali, ekspresi kebosanan, tidak
mempunyai visi alternative, takut terhadap terapi, putus asa, tidak dapat
menolong/menerima diri, tidak dapat menikmati apapun, dan menunda keputusan.
6. Arti
dan tujuan dengan perilaku adaptif berupa mengekspresikan kepuasan hidup,
menjalankan kehidupan sesuai dengan system nilai, menggunakan penderitaan
sebagai cara untuk memahami diri sendiri, mengekspresikan arti kehidupan/kematian, mengekspresikan komitmen dan orientasi
hidup, dan jelas tentang apa yang penting. Perilaku maladaptif berupa mengekspresikan tidak ada alas an untuk bertahan
hidup, tidak dapat menerima arti penderitaan yang dialami,
mempertanyakan arti kehidupan, bertanya tujuan penyesalan, penyalahgunaan
obat/alcohol, dan bercanda tentang hidup setelah kematian
2.3
Konsep Asuhan Keperawatan Pada
Lansia Penderita GoutArthritisDengan
Masalah Keperawatan Hambatan Religiositas
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap yang
sistematis dalam pengumpulan data tentang individu, keluarga, dan kelompok
(Carpenito dan Moyet 2007, dalam Haryanto 2008).
a. Identitas
Nama, umur,agama, jenis kelamin (laki-laki lebih mudah
terserang), pendidikan, pekerjaan terakhir, identitas penanggung jawab, dll.
b.
Keluhan utama
Pada umumnya klien merasakan nyeri yang
luar biasa pada sendi ibu jari kaki ataupun sendi yang lain.
c. Riwayat penyakit
sekarang
Riwayat penyakit mulai dari timbulnya
keluhan yang dirasakan sampai saat dibawa ke layanan kesehatan, apakah pernah
memeriksakan diri ketempat lain serta pengobatan yang telah diberikan dan
bagaimana perubahannya. Disertai lokasi, kualitas, area yang sakit, skala, dan
waktu timbulnya sakit.
d.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang lalu seperti
riwayat penyakit musculoskeletal sebelumnya, riwayat pekerjaan yang dapat
berhubungan dengan penyakit musculoskeletal, penggunaan obat, riwayat
mengkonsumsi alkohol dan merokok.
e. Riwayat penyakit
keluarga
Riwayat penyakit keturunan keluarga atau
apakah keluarga pernah menderita penyakit yang sama karena faktor genetik.
f. Pengkajian psikososial dan spiritual
1) Psikologi: biasanya
mengalami peningkatan stress
2) Sosial : cenderung menrik diri dari lingkungan
3) Spiritual
: kaji agama terlebih dahulu, bagaimana cara pasien menjalankan ibadah menurut
agamanya, adakah risiko/ hambatan pasien dalam menjalankan ibadahnya
g.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi
1) Kebutuhan nutrisi
a)
Makan : Kaji frekuensi, jenis makanan, dan jenis
pantangan
b)
Minum : Kaji frekuensi, jenis makanan, dan jenis
pantangan
2) Kebutuhan eliminasi
a) BAK :
Frekuensi, jumlah, warna,
bau
b) BAB :Frekuensi, jumlah, warna, bau
3) Kebutuhan aktivitas
Biasanya klien kurang atau tidak dapat
melaksankan aktivitas sehari-hari secara mandiri akibat dari nyeri dan pembengkakan.
2.
Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Klien lansia (≥60 tahun) yang mengalami gangguan
musculoskeletal keadaan umumnya lemah. Timbang berat badan klien, apakah ada
gangguan penyakit karena obesitas atau malnutrisi.
b.
Kesadaran
Kesadaran klien biasanya
composmentis dan apatis.
c. Tanda-tanda vital
1)
Suhu meningkat (>37ᶿC)
2)
Nadi meningkat
3)
Tekanan darah meningkat atau dalam batas normal
4)
Pernafasan biasanya normal atau terjadi
peningkat
d. Pemeriksaan head to
toe
1.
Pemeriksaan kepala dan muka
Pemeriksaan ini meliputi bentuk wajah,
benjolan pada kepala maupun muka, ada tidaknya lesi, penyebaran rambut, dan
kerontokan rambut.
2.
Mata
Pemeriksaan yang dilakukan yaitu
pemeriksaan konjungtiva, sklera, strabismus, penglihatan, peradangan, katarak,
dan penggunaan kacamata.
3.
Hidung
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi
bentuk hidung, peradangan dan penciuman.
4.
Mulut, Tenggorokan, Telinga
Terdapat kebersihan mukosa bibir,
peradangan/stomatitis, gigi, radang gusi, kesulitan mengunyah,
pendengaran. Pada lansia biasanya terdapat penurunan pendengaran.
5.
Leher
Pemeriksaan kelenjar
thyroid, JVD, dan kaku kuduk.
6.
Dada
Pemeriksaan yang dilakukan pemeriksaan
bentuk dada normal, retraksi, suara nafas vesikuler, tidak ada suara tambahan,
tidak ada suara jantung tambahan, pemeriksaan ictus cordis, dan tidak ada
keluhan yang dirasakan.
7.
Abdomen
Pemeriksaan bentuk perut, nyeri tekan,
kembung, bising usus, dan massa
keluhan yang diraskan.
8.
Genetalia
Pemeriksaan kebersihan emoroid, hernia,
dan keluhan yang dirasakan.
9.
Ekstremitas
Pemeriksaan kekuatan otot (skala 1-5)
0) : Lumpuh
1) : Ada
kontraksi
2) : Melawan
gravitasi dengan sokongan
3) : Melawan
gravitasi tetapi tidak ada
tahanan
4) : Melawan
gravitasi dengan tahanan
sedikit
5) : Melawan
gravitasi dengan kekuatan
penuh
Biasanya penderita gout akan mengalami
kelemahan otot karena terdapat nyeri pada persendian, selain itu bisa juga terdapat pembengkakan pada persendian
seperti pada jari kaki/tangan,
10. Integument
Biasanya terdapat luka atau edema pada
bagian yang terserang dengan warna kulit yang kemerahan.
11. Pemeriksaan penunjang
Serum asam urat umumnya meningkat,
diatas 7,5 mg/dl. Leukosit mencapai
20.000/mm3. Urine spesimen meningkat lebih dari 750 mg/24 jam.
e. Pola fungsi
kesehatan
Yang perlu dikaji adalah aktivitas apa
saja yang biasa dilakukan sehubungan dengan adanya nyeri pada persendian,
ketidakmampuan mobilisasi, kurangnya pengetahuan mengenai diet untuk mencegah
terjadinya serangan ulang, akibat dan penanganan tentang masalah terkait
penyakit.
1) Pola persepsi
dan tata laksana
hidup sehat
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan, dan penanganan
kesehatan.
2) Pola nutrisi
Menggambarkan masukan nutrisi, balance
cairan dan elektrolit, nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,
mual/muntah, makanan kesukaan.
3) Pola eliminasi
Menjelaskan pola fungsi ekskresi,
kandung kemih, defekasi, ada tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi, dan
penggunaan kateter.
4) Pola tidur dan
istirahat
Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan
persepsi terhadap energi, jumlah jam tidur pada siang dan malam hari, masalah tidur insomnia.
5) Pola aktivitas dan istirahat
Menggambarkan pola latihan aktivitas,
fungsi pernafasan dan sirkulasi, riwayat penyakit jantung, frekuensi irama, dan
kedalaman pernafasan. Pengkajian indeks KATZ.
6) Pola hubungan
dan peran
Menggambarkan dan mengetahui ubungan dan
peran klien terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan,
tidak punya rumah, dan masalah keuangan.
Pengkajian APGAR keluarga.
7) Pola sensori dan kognitif
Menjelaskan persepsi sensori data kognitif. Pola persepsi sensori
meliputi pengkajian penglihatan, pendengaran, perasaan, dan pembau. Pengkajian
status mental menggunakan tabel Short Portable Mental Quesionare (SPMQ)
8) Pola persepsi dan konsep diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri
terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan gambaran diri, harga
diri, peran identitasdiri. Manusia sebagai
sistem terbuka dan makhluk bio-psiko-kultural- spiritual, kecemasan, ketakutan,
dan dampak terhadap sakit. Pengkajian tingkat depresi menggunakan Tabel
Inventaris Depresi Back.
9) Pola seksualitas dan reproduksi
Menggambarkan kepuasan masalah terhadap seksualitas.
10) Pola
mekanisme penanganan stress dan koping Menggambarkan kemampuan untuk menangani
stress.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai keyakinan termasuk
spiritual.
3. Pengkajian Status Fungsional
Pengkajian ini meliputi pengukuran
kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, penentuan
kemandirian, mengidentifikasi kemampuan, dan keterbatasan klien, seta
menciptakan pemilihan intervensi yang tepat. Instrument yang biasa digunakan
dalam pengkajian status fungsional adalah Indeks Katz, Barthel Indeks, dan
Sullivan Indeks Katz. Alat ini digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan
roknosis pada lansia dan penyakit
kronis. Lingkuppengkajian meliputi keadekuatan 6 fungsi, yaitu mandi,
berpakaian, toileting, berpindah, kontinen dan makan, yang hasilnya untuk
mendeteksi tingkat fungsional klien (mandiri atau dilakukan sendiri atau
tergantung) (Nursa, 2008).
Indeks Katz
1) Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, kekamar mandi kecil,
berpakaian, dan mandi.
2) Kemandirian dalam semua hal, kecuali satu dari fungsi
tersebut
3) Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.
4) Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi, berpakaian, dan satu
fungsi tambahan.
5) Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi berpakaian, kekamar kecil, dan satu fungsi
tambahan
6) Kemandirian dalam semua hal, kecuali mandi, berpakaian, kekamar kecil, berpindah, dan
satu fungsi tambahan.
7) Ketergantungan pada keenam fungsi
tersebut.
Tabel 2.1Kemandirian Lansia
menurut Barthel Indeks
|
No |
Kriteria |
Dengan Bantuan |
Mandiri |
|
1 |
Makan |
5 |
10 |
|
2 |
Aktivitas ke toilet |
5 |
10 |
|
3 |
Berpindah dari kursi roda atau sebaliknya, termasuk duduk ditempat
tidur |
5-10 |
15 |
|
4 |
Kebersihan diri mencuci
muka, menyisir rambut dan
menggosok gigi |
0 |
5 |
|
5 |
Mandi |
0 |
5 |
|
6 |
Berjalan di permukaan datar |
10 |
25 |
|
7 |
Naik turun
tangga |
5 |
10 |
|
8 |
Berpakaian |
5 |
10 |
|
9 |
Mengontrol defekasi |
5 |
10 |
|
10 |
Mengontrol berkemih |
5 |
10 |
|
|
Total |
|
100 |
Sumber: fik-ump/
format-askep-lansia
Penilaian:
0-20 : ketergantungan
21-61 : ketergantungan berat/sangat tergantung 62-90 :
ketergantungan berat
91-99 : ketergantungan ringan
100 : mandiri
Tabel 2.2 Posisi dan Keseimbangan Lansia (Sullivan
Indeks Kats)
|
No |
Tes Koordinasi |
Keterangan |
Nilai |
|
1 |
Berdiri dengan postur
normal |
|
|
|
2 |
Berdiri dengan postur
normal menutup mata |
|
|
|
3 |
Berdiri dengan kaki
rapat |
|
|
|
4 |
Berdiri dengan satu kaki |
|
|
|
5 |
Berdiri fleksi trunk
dan berdiri ke posisi netral |
|
|
|
6 |
Berdiri lateral dan fleksi trunk |
|
|
|
7 |
Berjalan tempatkan tumit
salah satu kaki di depan jari kaki
yang lain |
|
|
|
8 |
Berjalan sepanjang garis
lurus |
|
|
|
9 |
Berjalan mengikuti tanda
gambar pada lantai |
|
|
|
10 |
Berjalan menyamping |
|
|
|
11 |
Berjalan mundur |
|
|
|
12 |
Berjalan mengikuti lingkaran |
|
|
|
13 |
Berjalan pada tumit |
|
|
|
14 |
Berjalan dengan ujung
kaki |
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
Sumber: fik-ump/
format-askep-lansia
|
Keterangan : |
4 |
: mampu melakukan aktivitas dengan lengkap |
|
|
3 |
: mampu melakukan aktivitas dengan bantun |
|
|
2 |
:mampu melakukan aktivitas dengan bantuan |
|
|
|
maksimal |
|
|
1 |
: tidak mampu
melakukan aktivitas |
Nilai : 42-54 : mampu
melakukan aktivitas
28-41 :mampu melakukan sedikit bantuan 14-27 :mampu
melakukan bantuan maksimal
15 : tidak mampu melakukan
4. Pengkajian status
kognitif/afektif
Pengkajian status kognitif/afektif merupakan
pemeriksaan status mental sehingga dapat memberikan gambaran perilaku dan kemampuan mental dan fungsi intelektual.
Pengkajian status mental bisa digunakan untuk klien yang beresiko delirium.
Pengkajian ini meliputi Short Portable
Mental Status Questionnaire (SPMSQ), Skala Depresi Beck (IDB), Skala Depresi Geriatrik Yesavage(Husna, 2014).
Tabel 2.3Short Portable
Mental Status Questionnaire (SPMSQ)
|
Benar |
Salah |
Nomor |
Pertanyaan |
|
|
|
1 |
Tanggal berapa
hari ini? |
|
|
|
2 |
Hari apa sekarang? |
|
|
|
3 |
Apa nama tempat
ini? |
|
|
|
4 |
Dimana alamat anda? |
|
|
|
5 |
Berapa anak
anda? |
|
|
|
6 |
Kapan anda
lahir? |
|
|
|
7 |
Siapakah
presiden Indonesia saat
ini? |
|
|
|
8 |
Siapakah
presiden Indonesia sebelumnya? |
|
|
|
9 |
Siapakah
nama ibu anda? |
|
|
|
10 |
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3
dari angka baru semua secara menurun. |
|
Jumlah |
|
|
|
Sumber: fik-ump/
format-askep-lansia
Interpretasi:
Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
Salah 4-5 : fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6-8 : fungsi
intelektual kerusakan sedang Salah 9-10 : fungsi intelektual kerusakan
berat
Tabel 2.4Mini-Mental
State Exam (MMSE)
|
No |
Aspek
kognitif |
Nilai
maksimal |
Nilai
klien |
Kriteria |
|
1 |
Orientasi |
5 |
|
Menyebutkan 1) Tahun 2) Musim 3) Tanggal 4) Hari 5)
Bulan |
|
2 |
Orientasi Registrasi |
5 3 |
|
Dimana sekarang kita berada? 1) Negara 2) Provinsi 3) Kabupaten Sebutkan 3 nama objek
(kursi, meja, kertas),
kemudian tanya kan
kepada klien, menjawab: 1. Kursi 2. Meja 3.
Kertas |
|
3 |
Perhatian dan kalkulasi |
5 |
|
Meminta klien
berhitung mulai dari 100, kemudian dikurangi 7 sampai 5 tingkat 1. 100, 92, …, …, … |
|
4 |
Mengingat |
3 |
|
Meminta klien
untuk menyebutkan objek pada point 3. 1. Kursi |
|
|
|
|
|
2.
Meja 3.
…… |
|
5 |
Bahasa |
9 |
|
Menanyakan kepada
klien tentang benda (sambal menunjuk benda
tersebut). 1. Jendela 2. Jam dinding Meminta klien
untuk mengulang kata berikut “tanpa, jika, dan, atau, tetapi”. Klien menjawab …, dan, atau, tetapi. Meminta klien
untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri dari 3 langkah. Ambil pulpen di
tangan anda, ambil kertas, menulis “saya mau tidur”. 1. Ambil pulpen 2. Ambil kertas 3. …. Perintahkan klien
untuk hal berikut (bila aktivitas sesuai perintah nilai 1 poin): “tutup mata
anda”. 1. Klien menutup mata Perintahkan pada klien untuk menulis satu kalimat dan menyalin gambar (2 buah segi 5). |
|
Total |
|
30 |
|
|
Sumber: fik-ump/
format-askep-lansia
Skor:
24-30 : Normal
17-33 : Probable
gangguan kognitif 0-16 : Definitif gangguan
kognitif
4. Pengkajian Spiritual
Keterkaitan spiritualitas dengan proses
penyembuhan dapaat dijelaskan dengan keperawatan holistik berupa
biologis, psikologis, soaial, kultural bahkan spiritual (Dossey, 2005). Fokus
pengkajian pada spiritualitas adalah bersifat
terapeutik yang menunjukkan sesuatu bentuk pelayanan dan dukungan.Evaluasi
kesehatan spiritual klien dalam beberapa
cara yang berbeda. Salah satu cara adalah menanyakan pertanyaan langsung. Untuk
mengunakan pendekatan ini, anda harus merasa nyaman saat bertanya pada orang
lain tentang spiritualitas mereka(McEvoy, 2003)..
Alat pengkajian B-E-L-I-E-F membantu
perawat mengevaluasi klien, serta kebutuhan spiritual dan keagamaan keluarga
(McEvoy, 2003). Akrinim memiliki arti sebagai berikut :
B- Belief system (system
kepercayaan)
E-Ethics or values (etika atau nilai-nilai)
L-Lifestyle (gaya hidup)
I-
Involvement in a spiritual
community (keterlibatan dalam kominitas spiritual)
E- Education (pendidikan)
F-Future events
(kejadian-kejadian yang akan datang)
Skala spiritual Well-Being (SWB)
memiliki 20 hal yang menjadi pengkajian pandangan pada individu tentang
kehidupan dan hubungan dengan kekuatan tertinggi (Gray, 2006).
Alat pengkajian spiritual yang efektif
seperti B-E-L-I-E-F dan skala SWB mudah digunakan dan membantu perawat
mengingat halpenting yang dikaji. Respons terhadap alat pengkajian biasanya akan
menunjukkan hal yang memerlukan investigasi segera. Sebagai contoh, setelah
menggunakan alat pengkajian, seorang perawat menemukan bahwa seorang klien
memiliki kesulitan untuk menerima perubahan, perawat akan memerlukan waktu
untuk memahami bagaimana klien menerima dan mengatasi penyakit baru. Perawat
menggunakan pengkajian dengan pertanyaan yang berdasarkan prinsip spiritual.
Hal ini biasanya tepat untuk dilakukan ketika nilai-nilai dan kepercayaan klien
sama dengan perawat. Ketika perawat
memahami keseluruhan pendekatan terhadap pengkajian spiritual, mereka dapat
masuk kedalam diskusi yang mendalam dengan klien mereka, mendapatkan kesadaran terbesar tentang sumber daya
personal klien membawa kepada suatu kondisi, dan menggabungkan sumber daya
kedalam rencana keperawatan yang efektif.
Pengkajian aspek spiritual memerlukan
hubungan interpersonal yang baik dengan pasien. Pengkajian sebaiknya dilakukan
setelah perawat dapat membentukhubungan yang baik dengan pasien atau dengan
orang terdekat pasien, atau perawat telah merasa nyaman untuk membicarakannya.
Pengkajian yang perlu dilakukan meliputi :
a. Pengkajian data subyektif
Pedoman pengkajian ini disusun oleh
Stoll (dalam Kozier, 2005), yang mencangkup konsep ketuhanan, sumber kekuatan
dan harapan, praktek agama dan ritual, dan hubungan antara keyakinan spiritual
dan kondisi kesehatan.
b.
Pengkajian data
obyektif
Pengkajian data obyektif dilakukan
melalui pengkajian klinik yang meliputi pengkajian afek dan sikap, dan
perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal, dan lingkungan. Pengkajian data
obyektifterutama dilakukan melalui observasi. Pengkajian tersebut meliputi :
1) Afek
dan sikap. Apakah pasien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi,
apatis, atau preokupasi?
2) Perilaku.
Apakah pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci atau buku
keagamaan? Apakah pasien seringkali
mengeluh, tidak dapat tidur, bermimpi buruk, dan berbagai bentuk gangguan tidur
lainnya, serta bercanda yang tidak sesuai atau mengekspresikan kemarahannya terhadap
agama?
3) Verbalisasi.
Apakah pasien menyebut Tuhan, doa, rumah ibadah, atau topik keagamaan lainnya?
Apakah pasien pernah minta dikunjungi oleh pemuka agama? Apakah pasien
mengekspresikan rasa takutnya terhadap kematian?
4) Hubungan interpersonal. Siapa pengunjung pasien?
Bagaimana pasien berespons terhadap pengunjung? Apakah
pemuka agama datang mengunjungi pasien? Bagaimana pasien berhubungan dengan
pasien lain dan juga dengan perawat?
5) Lingkungan.
Apakah pasien membawa kitab suci atau perlengkapan ibadah lainnya? Apakah
pasien menerima kiriman tanda simpati dari unsure keagamaan dan apakah pasien
memakai tanda keagamaan (misalnya memakai jilbab).
5.
Pengkajian Fungsi Sosial
Pengkajian fungsi sosial ini lebih
ditekankan pada hubungan lansia dengan keluarga sebagai peran sentralnya dan
informasi tentang jaringan pendukung. Hal ini penting dilakukan karena
perawatan jangka panjang membutuhkan dukungan fisik dan emosional dari keluarga. Pengkajian aspek fungsi sosial dapat
dilakukan dengan menggunakan alat skrining singkat
untuk mengkaji fungsi social lanjut usia, yaitu APGAR keluarga (Adaptation, Partnership, Growth, Affection,
Resolve)(Husna, 2014). Instrument
APGAR adalah :
a. Saya
puas bisa kembali pada keluarga saya yang ada untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya (adaptasi).
b.
Saya puas dengan cara keluarga saya
membicarakan sesuatu dang
mengungkapkan masalah dengan saya (hubungan).
c. Saya
puas bahwa keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas (pertumbuhan).
d. Saya
puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan efek dan berespons terhadap
emosi saya, seperti marah, sedih atau mencintai (afek).
e. Saya
puas dengan cara teman saya dan saya menyediakan waktu bersama-sama.
Penilaian: Pertanyaan yang dijawab: selalu (poin 2), kadang- kadang (poin 1),
hampir tidak pernah (poin 0).
6.
Intervensi Hambatan Religiositas
Tabel 2.4 Intervensi Hambatan
Keperawatan
|
Masalah Keperawatan |
NOC |
NIC |
|
Hambatan Religiositas Batasan karakteristik: 1. Distres tentang perpisahan 2. Keinginan untuk berhubunga n kembali dengan pola keyakinan dan adat istiadat sebelumnya 3.
Kesulitan mematuhi |
-Status kenyamanan: psikospiritual -Harapan -Otonom Pribadi Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan klien dapat
mencapai batasan karakteristik: 1. Menyatakan
status kenyamanan 2. Dapat
mengontrol risiko komunitas: tradisi budaya yang tidak sehat 3. Terjadi
peningkatan harapan |
1.
Mengurangi kecemasan 2. Meningkatkan koping 3. Manajemen lingkungan 4. Memberikan inspirasi harapan 5. Meningkatkan ritual keagamaan 6. Memfasilitasi pengembangan spiritual 7. Memberikan dukungan spiritual |
|
keyakinan agama yang dianut Faktor yang berhubungan
dengan: Krisis akhir kehidupan, penuaan, transisi
kehidupan, nyeri, penyakit, ansietas, dukungan sosial tidak cukup,
krisis personal, strategi koping, tidak efektif. |
|
|
7. Implementasi Hambatan
Religiositas
Tindakan yang dapat dilakukan pada klien dengan masalah keperawatan hambatan religiositas:
a. Menciptakan komunikasi terapeutik
b.
Pengungkapan perasaan
c. Pendidikan
tentang gout dan spiritual
kemudian menghubungkannya dengan kegiatan sehari-hari
d.
Pemenuhan bio, psiko,
sosio, spiritual
e. Memberikan dorongan
dan motivasi
f. Dokumentasi
8. Evaluasi
a. Mengukur pencapaian tujuan
b. Membandingkan
data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan
2.4 Hubungan antar konsep
|
Lansia |
|
Gout |
|
|
![]()
Komentar
Posting Komentar