konsep demensia dan alzheimer pada lansia
DEMENSIA PADA LANSIA
Konsep Dasar Demensia
1.
Pengertian Demensia
Demensia adalah keadaan dimana
manusia mengalami daya ingat dan daya
fikir lain yang secara
nyata mengganggu aktifitas
kehidupan sehari-hari (Nugroho, 2008;176).
Demensia adalah suatu sindrom organik
yang ditandai oeh kemunduran global secara bertahap dari fungsi mental yang
lebih tinggi tanpa adanya gangguan
kesadaran (Hibbert, 2008; 59).
Demensia adalah gangguan fungsi
intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori,
pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi
tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)
Demensia adalah sindroma klinis yang
meliputi hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga
menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari. Demensia merupakan keadaan ketika
seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata
mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari (Nugroho, 2008).
2.Etiologi
Penyebab utama dari penyakit demensia
adalah penyakit alzheimer, yang penyebabnya sendiri belum diketahui secara
pasti, namun diduga penyakit Alzheimer disebabkan karena
adanya kelainan faktor genetik atau adanya kelainan gen tertentu. Pada penyakit
alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi
kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan
sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak
senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa
terlihat pada otopsi.
Penyebab kedua dari Demensia yaitu,
serangan stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan
menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan.
Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah
otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut
dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh stroke kecil disebut demensia
multi-infark. Sebagian penderitanya
memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan
kerusakan pembuluh darah di otak.
Penyebab dari demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan
menjadi 3 golongan besar :
1.
Sindroma demensia dengan penyakit
yang etiologi dasarnya tidak dikenal kelainan yaitu : terdapat pada tingkat
subseluler atau secara biokimiawi pada
sistem enzim, atau pada metabolisme
2.
Sindroma demensia dengan etiologi
yang dikenal tetapi belum dapat diobati, penyebab utama dalam golongan ini
diantaranya :
a.
Penyakit degenerasi spino-serebelar.
b.
Subakut leuko-ensefalitis sklerotik van Bogaert
c.
Khorea Huntington
3.
Sindoma demensia
dengan etiologi penyakit
yang dapat diobati,
dalam golongan ini diantaranya :
a.
Penyakit cerebro kardiofaskuler
b.
penyakit- penyakit
metabolik
c.
Gangguan nutrisi
d.
Akibat intoksikasi
menahun
3. Patofisiologi
Hal yang menarik dari gejala penderita
demensia (usia >65 tahun) adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah
laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Lansia penderita demensia
tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana
Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal
dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit untuk mengingat dan sering
lupa jika meletakkan suatu barang. Mereka sering kali menutup-nutupi hal
tersebut dan meyakinkan bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan
berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang
tinggal bersama mereka, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat
yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin lansia
kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya
sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua
mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul
biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan
lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit
lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja
lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Disinilah keluarga
membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit dimana demensia bukanlah
menjadi hal utama fokus pemeriksaan. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan
dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki
kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia.
4.
Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala dari Penyakit Demensia
pada lansia antara lain :
1.
Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.
2.
Awalnya gangguan daya ingat jangka
pendek.
3.
Gangguan kepribadian dan perilaku
(mood swings).
4.
Defisit neurologi dan fokal.
5.
Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.
6.
Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi,
waham, dan paranoid.
7.
Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)
8.
Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.
9.
Tidak bisa
pulang kerumah bila bepergian.
10. Lupa meletakkan barang penting.
11. Sulit mandi,
makan, berpakaian dan toileting.
12. Mudah terjatuh
dan keseimbangan buruk.
13.
Tidak dapat makan
dan menelan.
14.
Inkontinensia urine
15.
Dapat berjalan jauh dari rumah dan tidak
bisa pulang.
16. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada
penderita demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
17. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya:
lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
18. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun
kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah
kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.
19. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis
berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil
yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita
demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
20. Adanya perubahan
perilaku, seperti : acuh tak
acuh, menarik diri dan gelisah.
5.
Klasifikasi Demensia
1.
Menurut Kerusakan Struktur Otak
a.
Tipe Alzheimer
Alzheimer adalah kondisi dimana sel
saraf pada otak mengalami kematian sehingga membuat signal dari otak tidak
dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita
Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga
penurunan proses berpikir. Sekitar 50-60%
penderita demensia disebabkan
karena penyakit Alzheimer.
Demensia ini ditandai
dengan gejala :
1)
Penurunan fungsi kognitif
dengan onset bertahap
dan progresif,
2)
Daya ingat terganggu, ditemukan
adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan fungsi eksekutif,
3)
Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
4)
Perubahan kepribadian (depresi,
obsesitive, kecurigaan),
5)
Kehilangan inisiatif.
Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium
berdasarkan beratnya deteorisasi intelektual :
(a) Stadium I (amnesia)
(1) Berlangsung 2-4 tahun
(2) Amnesia menonjol
(3) Perubahan emosi ringan
(4) Memori jangka
panjang baik
(b) Stadium II (Bingung)
(1) Berlangsung 2 – 10
tahun
(2) Episode psikotik
(3) Agresif
(4) Salah mengenali
keluarga
(c) Stadium III (Akhir)
(1) Setelah 6 - 12
tahun
(2) Memori dan intelektual lebih terganggu
(3) Membisu dan gangguan berjalan
(4) Inkontinensia urin
b.
Demensia Vascular
Demensia tipe vascular disebabkan oleh
gangguan sirkulasi darah di otak dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke
dapat berakibat terjadinya demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi
tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat
diduga sebagai demensia vaskular.
Tanda-tanda neurologis fokal seperti :
1)
Peningkatan reflek
tendon dalam
2)
Kelainan gaya berjalan
3)
Kelemahan anggota gerak
2.
Menurut Umur:
a.
Demensia senilis
( usia >65tahun)
b.
Demensia prasenilis (usia
<65tahun)
3.
Menurut perjalanan penyakit
:
a. Reversibel (mengalami perbaikan)
b.
Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit.B, Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb).
Pada demensia tipe ini terdapat
pembesaran vertrikel dengan meningkatnya cairan
serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :
1)
Gangguan gaya jalan (tidak
stabil, menyeret).
2)
Inkontinensia urin.
3)
Demensia.
4.
Menurut sifat klinis:
a. Demensia proprius
b. Pseudo-demensia
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang
: (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003)
1.
Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan
begitu diagnosis klinis demensia ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi
demensia khususnya pada demensia reversible, walaupun 50% penyandang demensia
adalah demensia Alzheimer dengan hasil laboratorium normal,
pemeriksaan laboratorium rutin
sebaiknya dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang rutin
dikerjakan antara lain: pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit
serum, kalsium darah, ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat
2.
Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI
(Magnetic Resonance Imaging) telah menjadi pemeriksaan rutin
dalam pemeriksaan demensia
walaupun hasilnya masih dipertanyakan.
3.
Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak
memberikan gambaran spesifik dan pada sebagian besar EEG adalah normal. Pada
Alzheimer stadium lanjut dapat memberi gambaran perlambatan difus dan kompleks
periodik.
4.
Pemeriksaan cairan otak
Pungsi lumbal diindikasikan bila klinis
dijumpai awitan demensia akut, penyandang dengan imunosupresan, dijumpai
rangsangan meningen dan panas, demensia presentasi atipikal, hidrosefalus
normotensif, tes sifilis (+), penyengatan meningeal pada CT scan.
5.
Pemeriksaan genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu
protein pengangkut lipid polimorfik yang memiliki 3 allel yaitu epsilon 2,
epsilon 3, dan epsilon 4. setiap allel mengkode bentuk
APOE yang berbeda.
Meningkatnya frekuensi epsilon
4
diantara penyandang demensia Alzheimer tipe awitan lambat
atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif APOE epsilon 4 sebagai penanda
semakin meningkat.
6.
Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental, aktivitas sehari-hari fungsional dan aspek
kognitif lainnya. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003) Pemeriksaan
neuropsikologis penting untuk sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama
pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang
mencakup atensi, memori, bahasa, konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving.
Pemeriksaan neuropsikologi sangat
berguna terutama pada kasus
yang sangat ringan untuk membedakan proses ketuaan atau proses depresi.
Sebaiknya syarat pemeriksaan neuropsikologis memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Mampu menyaring secara cepat suatu populasi
b.
Mampu mengukur
progresifitas penyakit yang telah diindentifikaskan demensia.
7. Sebagai
suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE) adalah test yang paling banyak dipakai. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003
;Boustani,2003 ;Houx,2002 ;Kliegel dkk,2004) tetapi
sensitif untuk mendeteksi gangguan memori ringan.
(Tang-Wei,2003).
Pemeriksaan status mental MMSE Folstein
adalah test yang paling sering dipakai saat ini, penilaian dengan
nilai maksimal 30 cukup
baik dalam mendeteksi gangguan kognisi, menetapkan
data dasar dan memantau penurunan kognisi dalam
kurun waktu tertentu. Nilai di bawah 27 dianggap abnormal dan mengindikasikan
gangguan kognisi yang signifikan pada penderita berpendidikan tinggi.(Asosiasi
Alzheimer Indonesia,2003).
Penyandang dengan pendidikan yang rendah
dengan nilai MMSE paling rendah 24 masih dianggap normal, namun nilai yang
rendah ini mengidentifikasikan resiko untuk demensia. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003). Pada penelitian Crum R.M 1993 didapatkan median skor MMSE
adalah 29 untuk usia 18-24 tahun, median skor 25 untuk yang > 80 tahun, dan
median skor 29 untuk yang lama pendidikannya >9 tahun, 26 untuk yang
berpendidikan 5-8 tahun dan 22 untuk yang berpendidikan 0-4 tahun.Clinical
Dementia Rating (CDR) merupakan suatu pemeriksaan umum pada demensia dan sering digunakan dan ini juga merupakan suatu metode yang dapat menilai derajat demensia ke dalam
beberapa tingkatan. (Burns,2002). Penilaian fungsi kognitif pada CDR
berdasarkan 6 kategori antara lain gangguan memori, orientasi, pengambilan
keputusan, aktivitas sosial/masyarakat, pekerjaan rumah dan hobi, perawatan
diri. Nilai yang dapat pada pemeriksaan ini adalah merupakan suatu derajat penilaian
fungsi kognitif yaitu; Nilai 0, untuk orang normal tanpa gangguan kognitif. Nilai 0,5, untuk Quenstionable dementia.
Nilai 1, menggambarkan derajat demensia
ringan, Nilai 2, menggambarkan suatu derajat
demensia
sedang dan nilai 3, menggambarkan suatu derajat demensia yang berat. (Asosiasi
Alzheimer Indonesia,2003, Golomb,2001).
7. Pelaksanaan
1. Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia
tidak dapat disembuhkan.
a.
Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine ,
Memantine
b.
Dementia vaskuler membutuhkan obat
-obatan anti platelet seperti Aspirin, Ticlopidine,Clopidogrel untuk
melancarkan aliran darah ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
c.
Demensia
karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi perkembangannya
bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati tekanan darah tinggi
atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.
d. Jika
hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi seperti
Sertraline dan Citalopram.
e.
Untuk mengendalikan agitasi dan
perilaku yang meledak-ledak, yang bisa menyertai demensia stadium lanjut,
sering digunakanobat anti-psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone). Tetapi obat ini kurang
efektif dan menimbulkan efek samping yang serius. Obat anti-psikotik efektif
diberikan kepada penderita yang mengalami halusinasi atau paranoid.
2. Dukungan atau Peran Keluarga
a.
Mempertahankan lingkungan yang
familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar,
cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga
bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi.
b.
Menyembunyikan
kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya
kecelekaan pada penderita yang senang berjalan-jalan.
c.
Menjalani kegiatan mandi, makan,
tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan
kepada penderita.
d.
Memarahi atau menghukum penderita
tidak akan membantu, bahkan akan memperburuk keadaan.
e.
Meminta
bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan perawatan, akan sangat
membantu.
3. Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit
demensia dapat diberikan
terapi simtomatik, meliputi:
a. Diet
b. Latihan fisik yang sesuai
c. Terapi rekreasional dan aktifitas
d. Penanganan terhadap
masalah-masalah.
8.
Penceghan Dan Perawatan Demensia
Hal yang dapat kita lakukan
untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah
menjaga ketajaman daya ingat
dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1.
Mencegah masuknya zat-zat yang
dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
2.
Membaca
buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
3.
Melakukan kegiatan yang dapat membuat
mental kita sehat dan
aktif :
a. Kegiatan rohani
& memperdalam ilmu agama.
b.
Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul
dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi
4.
Mengurangi stress dalam pekerjaan
dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan
sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.
9.
Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan penulis
mengacu dalam proses keperawatan
yang terdiri dari lima tahapan, yaitu :
•
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan. Kemampuan
mengidentifikasi masalah keperawatan
yang terjadi pada tahap ini akan menentukan
diagnosis keperawatan. Pengkajian harus dilakukan dengan teliti dan cermat sehingga seluruh
kebutuhan perawatan pada klien dapat diidentifikasi
(Nikmatur, 2012).
•
Diagnosis Keperawatan
Pernyataan yang menggambarkan respon
manusia (keadaan sehat atau perubahan pola interaksi actual/potensial) dari
individu atau kelompok agar perawat dapat secara legal mengidentifikasi dan perawat dapat memberikan tindakan keperawatan secara pasti untuk menjaga
status kesehatan.
(Nikmatur, 2012).
•
Perencanaan
Pengembangan strategi desain untuk
mencegah, mengurangi dan mengatasi masalah – masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnosiskeperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh
mana perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan masalah dengan efektif dan
efisien (Nikmatur, 2012).
•
Pelaksanaan
Realisasi rencana tindakan untuk
mencapai tujuanyang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi
pemgumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respons klien selama dan sesudah
pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru (Nikmatur, 2012).
•
Evaluasi
Penilaian dengan cara membandingkan
perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil
yang dibuat pada tahap perencanaan (Nikmatur, 2012).
10. Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan
Demensia
• Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan
proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada
tindakan keperawatan yang terdiri dari 3 kegiatan yaitu pengumpulan data,
pengelompokkan data, dan perumusan diagnosa keperawatan. (Arif Muttaqin, 2008).
•
Identitas
Meliputi nama, jenis kelamin, alamat, agama, bahasa yang
digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan.
•
Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri, nafsu makan menurun, resiko
mencederai diri, gangguan alam perasaan maladaptif.
•
Struktur keluarga : Genoogram
•
Riwayat Keluarga
Pada pengkajian ini bisa ditemukan keluhan yang sama pada generasi
terdahulu apakah oleh faktor adaptif dan maladaptif.
•
Riwayat Penyakit Klien
Kaji ulang riwayat
klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala karakteristik yang berkaitan
dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.
•
Kaji adanya depresi.
•
Singkirkan kemungkinan adanya depresi
dengan scrining yang tepat, seperti geriatric depresion
scale.
•
Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan
•
Wawancarai klien, pemberi asuhan
atau keluarga.
•
Lakukan observasi langsung terhadap
:
1.
Perilaku.
Klien menunjukan sikap yang datar atau tidak berekspresi
sama sekali, klien sering mondar-mandir seperti kebingungan mencari sesuatu
yang dia lupa akan letak dimana benda tersebut ditaruhnya
2.
Afek
Klien terkadang terlihat cemas karena takut kehilangan
sesuatu, bisa juga klien mengalami depresi karena pada pasien demensia terdapat
lesi tertentu diotak sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi pada otak
seperti demensia tipe vaskuler.
3.
Respon kognitif
Klien klien mengalami orientasi waktu, tempat, dan tidak
mampu mengenali orang yang berada disekitarnya, klien mengalami kehilangan
ingatan mengenai hal-hal yang baru saja dilakukan.
4. Pengkajian Perilaku Terhadap
Kesehatan
a.
Pola pemenuhan nutrisi
Klien tidak
mengalami perubahan pola
nutrisi
b.
Pola pemenuhan cairan
Klien tidak
mengalami perubahan pola pemenuhan cairan
c.
Pola kebiasaan tidur dan istirahat
Klien biasanya mengalami perubahan waktu pola tidur dikarenakan
hilangnya ingatan klien tentang waktu.
d.
Pola eliminasi BAB
Tidak terjadi perubahan
pola eliminasi BAB pada klien demensia
e.
Pola eliminasi BAK
Tidak terjadi perubahan
pola eliminasi BAK pada klien demensia
f.
Pola aktivitas
Klien biasanya males untuk mengikuti kegiatan, klien labih suka
menyendiri dan tidak mau berkumpul dengan teman-temannya
g.
Pola pemenuhan kebersihan diri
Klien mengalami gangguan pemenuhan kebersihan diri
dikarenakan klien yang sering lupa akan hal-hal yang baru saja terjadi
h.
Pola sensori dan kognitif
Kelima panca indera klien dengan demensia berfungsi dengan baik
5.
Pemeriksaan fisik
a.
Kepala
Bentuk kepala simetris apa tidak, bekas lesi, warna rambut,
rambut kering atau lembab, rapuh, mudah rontok.
b.
Mata
Kesimetrisan, warna retina, kepekatan terhadap cahaya atau
respon cahaya, anemis atau tidak pada daerah konjungtiva, sklera ikterus
(kekuningan) atau tidak, riwayat katarak
c.
Hidung
Kesimetrisannya, kebersihannya, mukosa kering atau lembab,
terdapat peradangan atau tidak.
d.
Mulut dan Tenggorokan
Kesimetrisan bibir, warna, tekstur
lesi dan lelembaban serta karakteristik
permukaan pada mukosa mulut atau lidah
e.
Telinga
Kaji membrane
timpani terhadap warna, garis dan bentuk,
permukaan luar daerah tragus dalam keadaan normal atau tidak
f.
Leher
Pembesaran kelenjar
tyroid, gerakan-gerakan halus pada respon percakapan, nyeri tekan
g.
Dada
Bentuk dada normal, bunyi napas tambahan, adanya nyeri tekan
h.
Abdomen
Bentuk,
gerakan pernapasan, adanya benjolan/pembesaran hepar, kembung, frekuensi bising
usus
i.
Genetalia
Kebersihan, karakter
mons pubis dan labia mayora serta kesimetrisan labia
mayora
j.
Ekstremitas
Pada ekstremitas warna kuku, turgor kulit hangat,
dingin, penggunaan alat bantu, rentang regak, deformitas
k.
Integumen
Kebersihan, warna dan area terpajan serta kelembaban dan gangguan kulit yang tidak jelas,
kasar, halus permukaan kulit
6.
Indeks Katz (Indeks kemandirian Pada Aktifitas Kehidupan
Sehari-hari)
Pengkajian ini berguna untuk mengetahui sejauh
mana tingkat kemandirian pada lansia. Biasanya terdapat penurunan aktivitas
seperti klien tidak pernah mengikuti kegiatan di panti.
7.
Pengkajian Kemampuan Intelektual
Pengkajian yang biasa dengan mengajukan
beberapa pertanyaan dan dapat menyimpulkan hasil bahawa sejauh mana klien
mengalami kerusakan fungsi
intelektual.
8.
Pengkajian Kemampuan Aspek Kognitif
Pengkajian yang mengkaji meliputi
orientasi, regristasi, perhatian, dan kalkulasi. Dan biasanya pada klien
demensia terdapat penurunan orientasi, ketidakmampuan klien untuk memecahkan
suatu masalah, dan klien mengalami kesulitan untuk berhitung.
9.
Depresi Beck
Suatu pengkajian untuk mengetahui tingkat
depresi pada lansia. Biasanya terjadi depresi pada klien yang merasa bahwa
dirinya tidak berdaya dan gagal akan masa lalu.
•
Diagnosa Keperawatan
Menurut Doengoes,
Marilynn E dalam buku Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian parawatan pasien.
•
Perubahan proses pikir berhubungan
dengan kehilangan memory atau ingatan ditandai dengan Hilangnya konsentrsi
(distrakbilitas), Hilangnya ingatan atau memory, Tidak mampu membuat keputusan,
menghitung, mengumpulkan gagasan, melakukan abstraksi atau konseptualisasi, dan
memecahkan masalah.
•
Perubahan Persepsi Sensori
berhubungan dengan perubahan persepsi, transdan integrasi sensori
(penyakit/defisit neurologis).
. 3.
Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah,
tampak cemas, mudah tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental,
tingkah laku curiga, dan tingkah laku agresif.
4. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan ditandai dengan keluhan
verbal tentang kesulitan tidur, terus-menerus terjaga, tidak mampu menentukan
kebutuhan/ waktu tidur.
5. Kurang perawatan diri berhubungan dengan
intoleransi aktivitas, menurunnya daya tahan dan kekuatan ditandai dengan
penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
6. Resiko
terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan, kelemahan, otot
tidak terkoordinasi, aktivitas kejang.
7. Resiko terhadap perubahan nutrisi lebih dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mudah lupa, kemunduran hobi, perubahn
sensori.
• Perencanaan
•
Diagnosa prioritas pertama
Perubahan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memory atau ingatan
ditandai dengan Hilangnya konsentrsi (distrakbilitas), Hilangnya ingatan atau
memory, Tidak mampu membuat keputusan, menghitung, mengumpulkan gagasan,
melakukan abstraksi atau konseptualisasi, dan memecahkan masalah.
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan
klien mampu mengenali perubahan dalam berpikir.
Kriteria hasiil :
1)
Mampu
memperlihatkan kemampuan kognitif untuk menjalani konsekuensi kejadian yang
menegangkan terhadap emosi dan pikiran tentang diri.
2) Mampu
mengembangkan strategi untuk mengatasi anggapan diri yang negative.
3)
Mampu mengenali tingkah
laku dan faktor penyebab.
Intervensi :
1)
Kembangkan lingkungan yang mendukung dan hubungan klien-perawat yang terapeutik.
Rasional : Mengurangi kecemasan dan emosional.
2) Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang.
Rasional
: Kebisingan merupakan sensori berlebihan yang meningkatkan gangguan neuron.
3) Ijinkan klien untuk mengumpulkan benda yang aman
Rasioanal : Memelihara keamanan
dan keseimbangan kehilangan
4) Bantu klien menemukan hal yang
salah dalam penempatan.
Rasional : Menurunkan defensif jika klien menyadari kesalahan
5)
Gunakan suara yang agak rendah dan berbicara dengan perlahan pada klien.
Rasioanal : Meningkatkan pemahaman. Ucapan tinggi dan keras menimbulkan
stress yg mencetuskan konfrontasi dan respon marah.
•
Diagnosa prioritas kedua Perubahan
persepsi sensori berhubungan dengan stigma (halusinasi, keterbelakangan
mental). Ditantai dengan perubahan kemampuan pemecahan masalah, respon
emosional berlebihan , seperti kecemasan, paranoit, apatis, gelisah,
iritabilitas, depresi, takut, marah, dan halusinasi.
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan
keperawatan 3x24 jam diharapkan perubahan persepsi sensori klien dapat
berkurang atau terkontrol.
Kriteria hasil :
1)
Mengalami penurunan halusinasi.
2)
Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress.
3)
Mendemonstrasikan
respons yang sesuai
stimulasi.
Intervensi :
1)
Kembangkan lingkungan yang suportif
dan hubungan perawat-klien yang terapeutik.
Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan kecemasan pada klien.
2) Bantu klien
untuk memahami halusinasi.
Rasional : Meningkatkan koping dan menurunkan halusinasi.
3) Kaji derajat
sensori atau gangguan
persepsi dan bagaiman
hal tersebut mempengaruhi
klien termasuk penurunan penglihatan atau pendengaran. Rasional : Keterlibatan otak memperlihatkan masalah
yang bersifat asimetris
menyebabkan klien kehilangan kemampuan pada salah satu sisi tubuh.
4) Ajarkan strategi
untuk mengurangi stress.
Rasional : Untuk
menurunkan kebutuhan akan halusinasi.
5) Ajak piknik
sederhana, jalan-jalan keliling
rumah sakit. Pantau
aktivitas.
Rasional : Piknik menunjukkan realita dan memberikan
stimulasi sensori yang menurunkan perasaan curiga dan halusinasi yang
disebabkan perasaan terkekang.
•
Diagnosa prioritas ketiga yaitu
Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari ditandai dengan kebingungan, keprihatinan, gelisah, tampak cemas,
mudah tersinggung, tingkah laku defensive, kekacauan mental, tingkah laku
curiga, dan tingkah laku agresif.
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan
keperawatan diharapkan klien dapat beradaptasi dengan perubahan aktivitas
sehari- hari dan lingkungan.
Kriteria hasil :
1)
mengidentifikasi
perubahan
2)
mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas
kehidupan sehari-hari
3)
cemas dan takut berkurang
4) membuat pernyataan yang positif tentang
lingkungan yang baru Intervensi :
1)
Jalin hubungan
saling mendukung dengan klien.
Rasional : Untuk
membangan kepercayaan dan rasa nyaman.
2) Orientasikan pada lingkungan dan rutinitas baru.
Rasional : Menurunkan kecemasan dan perasaan
terganggu.
3)
Kaji tingkat stressor (penyesuaian
diri, perkembangan, peran keluarga, akibat perubahan status kesehatan).
Rasional : Untuk menentukan persepsi klien tentang
kejadian dan tingkat serangan.
4)
Tentukan jadwal aktivitas yang wajar dan masukkan dalam kegiatan rutin.
Rasional : Konsistensi mengurangi kebingungan dan meningkatkan rasa kebersamaan.
5)
Berikan penjelasan dan informasi
yang menyenangkan mengenai kegiatan/ peristiwa.
Rasional : Menurunkan ketegangan, mempertahankan rasa saling percaya,
dan orientasi.
6) Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi (antipsikotik, seperti haloperidol)
Rasional: mengontrol agitasi.
•
Diagnosa prioritas keempat Perubahan
pola tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan ditandai
dengan keluhan verbal tentang kesulitan
tidur, terus-menerus terjaga, tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan diharapkan tidak terjadi
gangguan pola tidur pada klien.
Kriteria hasil :
1)
Memahami faktor penyebab
gangguan pola tidur.
2)
Mampu menentukan penyebab
tidur inadekuat.
3)
Melaporkan dapat beristirahat yang cukup.
4) Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat.
Intervensi :
1) Jangan menganjurkan klien tidur siang apabila berakibat
efek negative terhadap tidur
pada malam hari.
Rasional : Irama sirkadian
(irama tidur-bangun) yang tersinkronisasi
disebabkan oleh tidur siang yang singkat.
2) Evaluasi efek obat klien (steroid, diuretik)
yang mengganggu tidur.
Rasional : Deragement psikis terjadi bila terdapat
panggunaan kortikosteroid, termasuk perubahan mood, insomnia.
3) Tentukan
kebiasaan dan rutinitas waktu tidur
malam dengan kebiasaan klien(memberi susu hangat).
Rasional : Mengubah pola yang sudah terbiasa dari asupan
makan klien pada malam hari terbukti mengganggu tidur.
4) Memberikan
lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan tidur(mematikan lampu, ventilasi
ruang adekuat, suhu yang sesuai, menghindari kebisingan).
Rasional : Hambatan kortikal pada formasi reticular akan
berkurang selama tidur, meningkatkan
respon otomatik, karenanya respon kardiovakular terhadap suara meningkat selama
tidur.
5) Buat
jadwal tidur secara teratur. Katakan pada klien bahwa saat ini adalah waktu
untuk tidur.
Rasional : Penguatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan
kesetabilan lingkungan.
• Pelaksanaan
Realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Perawat dapat secara efektif memberi saran pada lansia tentang meningkatnya
daya ingat. Perawat juga dapat mengajarkan klien lansia tentang bagaiman cara
dan solusi untuk mencegah terjadinya kepikunan atau kemunduran daya ingat yang
terjadi sesuai dengan penambahan usia, meyakinkan lansia dengan mengubah harapannya sesuai dengan perubahan-perubahan
yang terjadi pada lansia. (Carpenito, 2009).
• Evaluasi
Untuk memudahkan perawat mengevaluasi
atau memantau perkembangan klien, digunakan komponen SOAP. Pengertian SOAP
adalah sebagai berikut :
S : Data Subjektif
Keluhan pasien
yang masih dirasakan setelah dilakukan
tindakan keperawatan.
O : Data
Objektif
Hasil pengukuran atau observasi perawat
secara langsung kepada klien dan
yang dirasakan klien setelah
dilakukan tindakan keperawatan.
A : Analisis
Interpretasi dari data subjektif dan
data objektif.Analisis merupakan
suatu masalah ataudiagnosis keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat
dituliskan masalah/diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan status
kesehatan klien yang telah teridentifikasi datanya dalam data subjektif dan
objek.
P
: Planning
Perencanaan perawatan yang akan
dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi atau ditambahkan dari rencana tindakan
keperawatan yang telah ditentukan
sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar