INKONTINENSIA URINE PADA LANSIA
INKONTINENSIA URINE
PADA LANSIA
Lanjut Usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke
atas, berdsarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut
Usia. Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan.
Populasi lansia di Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi dari pada
populasi lansia dunia setelah tahun 2100.
Proses menua adalah proses alami yang disertai adanya
penurunan kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang saling berinteraksi satu
sama lain. Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
Inkontinensia urin merupakan salah satu keluhan/alasan
pasien umumnya dibawa ke dokter, walaupun jarang yang sampai memerlukan
perawatan, namun pengeluaran urin yang berlangsung di luar kontrol meskipun
penderita berusaha mencegahnya dan terjadi di mana saja dan kapan saja sering
menyebabkan rasa malu dan frustasi bagi penderita serta salah satu
komplikasinya dapat menyebabkan gagal ginjal.
Definisi inkontinensia urin secara umum
adalah kegagalan kontrol secara volunter vesika urinaria dan sfingter uretra
sehingga terjadi pengeluaran urin secara involunter yang konstan/frekuen.1
Secara umum gangguan berkemih yang menyebabkan pakaian atau tempat tidur
basah disebut mengompol (enuresis), yang berlangsung melalui proses berkemih
yang normal (normal voiding) tetapi
terjadi pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Dianggap sebagai akibat
maturasi proses berkemih yang terlambat dan umumnya tidak ditemukan kelainan
organik yang nyata sebagai penyebab. Berbagai keadaan patologik gangguan
berkemih selain enuresis disebut inkontinensia urin.
Dalam proses berkemih secara normal, seluruh komponen sistem
saluran kemih bawah yaitu detrusor, leher buli-buli dan sfingter uretra
eksterna berfungsi secara terkordinasi dalam proses pengosongan maupun
pengisian urin dalam buli-buli. Secara fisiologis dalam setiap proses miksi
diharapkan empat syarat berkemih yang normal terpenuhi, yaitu kapasitas
buli-buli yang adekuat, pengosongan buli-buli yang sempurna, proses pengosongan
berlangsung di bawah kontrol yang baik serta setiap pengisian dan pengosongan
buli-buli tidak berakibat buruk terhadap saluran kemih bagian atas dan ginjal.
Bila salah satu atau beberapa aspek tersebut mengalami kelainan, maka dapat
timbul gangguan miksi yang disebut inkontinensia urin.
PREVALENSI DAN INSIDENSI
Berbagai kepustakaan melaporkan insidens maupun prevalensi
inkontinensia urin berdasarkan keluhan seperti mengedan, polakisuria (sering
berkemih), mengompol sehingga diagnosis definitif yang ditegakkan berbeda satu
sama lain. Dengan adanya kesimpang-siuran mengenai diagnosis ini maka timbullah
masalah dalam menilai sensitivitas dan spesifisitas penemuan gejala/tanda
klinik secara epidemiologik, sehingga akan mempengaruhi prevalensi
inkontinensia urin.
Meskipun demikian diperkirakan sekitar
20% kasus poliklinik nefrologi anak terdiri dari kasuskasus ISK kompleks
berulang, inkontinensia urin fungsional atau disfungsi sfingter non neuropatik.
Di antara kelompok buli-buli neurogenik, mielodisplasia merupakan etiologi
tersering dan 90% di antaranya berupa mielomeningokel. Diperoleh 20 kasus
inkontinensia urin dari data rawat jalan dan rawat inap di RSCM selama 11 tahun
(September 1989-Agustus 2001), namun sebagian di antaranya diagnosis
definitifnya masih belum dapat ditegakkan.
Tabel 1 Inkontinensia
Pada Anak Di RSCM Jakarta (September 1989 Agustus 2001)
|
Jenis
kelainan |
Laki-laki |
Perempuan |
Jumlah |
|
1. Disfungsi buli-bulisfingter neuropatik |
3 |
7 |
10 |
|
2.
Disfungsi
buli-bulisfingter non neuropatik |
4 |
2 |
6 |
|
3. Inkontinensia struktural/anatomik |
3 |
1 |
4 |
|
Jumlah |
10 |
10 |
20 |
Sumber: Tambunan
ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
Inkontinensia urin dapat bersifat sementara misalnya pada
ibu pasca persalinan atau pada sistitis, tetapi lebih sering bersifat kronik
dan progresif. Inkontinensia urin kronik dapat disebabkan oleh berbagai
etiologi dan digolongkan sebagai berikut:6
1. Inkontinensia
anatomik atau tekanan (stress
incontinence)
2. Inkontinensia
desakan (urge incontinence)
3. Inkontinensia
neuropatik/neurogenik
4. Inkontinensia
kongenital
5. Inkontinensia semu (false=overflow
incontinence)
6. Inkontinensia
paska trauma/iatrogenik
7. Inkontinensia
fistula
Selain berdasarkan etiologi,
inkontinensia urin dapat pula digolongkan dengan berbagai cara antara lain
berdasarkan kelainan pola berkemih (misalnya buli-buli otonom), berdasarkan
tingkat lesi neurologik (misalnya tipe upper
atau lower motor neuron),
berdasarkan lesi perifer yang timbul (misalnya buli-buli hipertonik atau
atonik) dan sebagainya.
Namun berbagai klasifikasi tersebut di
atas kurang bermanfaat secara klinis maupun dalam penanganan, sehingga dibuat
klasifikasi lain berdasarkan pendekatan diagnostik yang lebih mutakhir
didasarkan pada hasil pemeriksaan miksio-sisto uretrografi (MSU) dan
urodinamik. Inkontinensia urin digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu disfungsi
buli-buli-sfingter neuropatik, disfungsi non neuropatik dan inkontinensia
struktural akibat kelainan anatomik (seperti tertera pada tabel 1 )
Disfungsi sfingter
buli-buli neuropatik (neurogenic bladder
sphinter dysfunction)
Mielodisplasia adalah kelainan ruas tulang belakang (columna vertebralis) yang terutama
mengenai segmen lumbal dan sakral, merupakan penyebab tersering buli-buli
neurogenik. Kelainan yang ditemukan dapat berupa meningomielokel,
lipomeningokel dan sebagainya, namun meningomielokel merupakan kasus terbanyak
(90%).
Konsekuensi utama akibat buli-buli
neurogenik ialah kerusakan ginjal dan inkontinensia urin, kerusakan ginjal
berkaitan dengan peninggian tekanan intra-vesika atau adanya refluks vesiko
ureteral sebagai penyerta dan timbulnya infeksi saluran kemih (infeksi, refluks
dan obstruksi sering ditemukan secara bersama-sama).
Tabel 2 Klasifikasi Etiologik Disfungsi
Saluran Kemih Bawah
![]()
![]()
1. Disfungsi sfingter buli-buli neuropatik
a. Malformasi kongenital susunan saraf pusat
• Mielomeningokel
• Occult
spinal dysraphism
• Syringocele
• Diastematomielia
• Malformasi sakrum
b. Kelainan susunan saraf pusat yang didapat
• Spatisitas cerebral (akibat asfiksia
perinatal)
• Penyakit degeneratif proliferatif
• Sklerosis multipel
• Sindrom Guillain-Barre
• Radikulitis
• Trauma medula spinalis
• Infeksi medula spinalis
• Tumor
• Malformasi vaskular medula spinalis
c. Kelainan
kongenital fungsi otot polos
Displasia neuronal
d. Kelainan kongenital fungsi otot serat
lintang
• Duchenne muscular dystrophy
• Spinal muscle atrophy
• Amyotropic lateral sclerosis
|
2. |
Disfungsi sfingter
buli-buli non neuropatik a.
Classifiable § Sindrom urge § Disfungsi berkemih § Sindrom lazy bladder b. Non classifiable § Inkontinensia giggle § Sindrom Hinman |
![]()
![]()
3. Kelainan struktural atau anatomik
a. Kelainan bawaan
v Ekstrofi
v Epispadia
v Ureterokel
v Katup uretra posterior
b. Kelainan didapat
v Trauma
v Iatrogenik
v Hiperkalsiuria
v Distensi buli-buli kronik
v Fibrosis dinding buli-buli
Sumber:
Tambunan
PATOGENESIS
Mekanisme timbulnya inkontinensia sangat beragam dan sering
merupakan kelainan ganda, sedikitnya ada empat pola gambaran urodinamik yang
dapat ditemukan pada buli-buli neurogenik, yaitu:
1. Hiperrefleksia
otot detrusor bersama-sama dengan hiperrefleksia (spastisias) sfingter
2. Arefleksia
otot detrusor bersama-sama dengan arefleksia sfingter
3. Arefleksia
otot detrusor bersama-sama dengan hiperrefleksia (spastisias) sfingter
4. Hiperrefleksia
otot detrusor bersama-sama dengan arefleksia sfingter
Manifestasi klinik inkontinensia yang
timbul akan bervariasi tergantung pada intensitas dan kombinasi kelainan
urodinamik yang ditemukan, ringkasnya buli-buli bisa normal atau kapasitasnya
kecil, otot detrusor bisa akontraktil atau kontraktil (biasanya
hiperrefleksia), leher buli-buli bisa kompeten atau inkompeten, mekanisme
sfingter distal dapat normal, inkompeten atau obstruktif
(disinergia detrusor- sfingter atau
obstruktif statik sfingter distal).
Disfungsi sfingter buli-buli non neuropatik
(inkontinensia fungsional)
Inkontinensia fungsional di dalam ICD-10 diklasifikasikan
sebagai enuresis of nonorganic origin, dengan
kode ICD F98.0.4 Antara lain:
1. Inkontinensia
desakan (urge syndrome/incontinence)
Akibat kontraksi detrusor yang tidak dapat dihambat pada
fase pengisian buli-buli, atau pada saat yang bersamaan dilawan oleh kontraksi
otot- otot dasar panggul secara volunter untuk mencegah/mengurangi mengompol
namun biasanya masih terjadi juga pengeluaran sedikit urin. Perlu dipikirkan
pada kasus refluks-vesiko-ureter (RVU) dengan infeksi saluran kemih berulang,
dapat dicetuskan oleh peninggian tekanan intra abdomen misalnya pada saat
melompat atau bila tertawa. Salah satu contohnya adalah giggle incontinence, biasanya penderita akan menghindari tertawa
agar tidak mengompol.
2. Dysfunctional/dyssynergic
voiding
Ditandai dengan berkemih yang tiba- tiba berhenti secara
periodik akibat kontraksi otot- otot dasar panggul secara ritmik, kelainan ini
analog dengan disinergia detrusor- sfingter pada disfungsi bulibuli neurogenik.
3. Incomplete/fractionated
voiding
Akibat kurangnya aktivitas otot detrusor, pancaran urin
sangat ireguler, penderita sering mengedan untuk memperlancar aliran urin.
Biasanya kapasitas buli- buli menjadi besar dan kencing tidak lampias.
4. Lazy bladder syndrome
Merupakan kelanjutan dari incomplete/fractionated voiding, akibat jangka lama kurangnya
aktivitas otot detrusor menyebabkan buli-buli makin membesar dan berdilatasi
sampai akhirnya otot detrusor tidak mampu berkontraksi lagi. Satu-satunya upaya
untuk berkemih hanya mengandalkan tekanan abdomen, akhirnya residu urin makin
meningkat dan infkesi makin sering terjadi. Buli-buli seperti malas
berkontraksi, miksi makin jarang dan akhirnya timbul inkontinensia karena
buli-buli sudah sangat penuh.
5. Sindrom
Hinman
Ditandai dengan retensi urin dengan miksi yang
tersendat-sendat (intermitten voiding
pattern), sama seperti kasus buli-buli neurogenik tetapi tanpa kelainan
anatomik/neurogenik berupa disinergia detrusor-sfingter. Etiologinya belum
diketahui, diduga kombinasi berbagai faktor dan peranan faktor psikologik cukup
dominan.
Inkontinensia struktural atau akibat
kelainan anatomik
Kelainan yang ditemukan dapat berupa bawaan atau didapat
(seperti tercantum pada tabel di atas), yang dapat mengganggu proses miksi yang
normal antara lain akibat sumbatan dan bermanifestasi sebagai inkontinensia
urin.
DIAGNOSTIK
Tahapan diagnostik meliputi anamnesis yang teliti dan
pemeriksaan fisik yang seksama, diharapkan sudah dapat dibedakan antara
enuresis primer (enuresis nokturnal) dengan inkontinensia urin. Hal-hal yang
perlu ditanyakan antara lain pola berkemih (voiding)
dan mengompol, frekuensi dan volume urin, kebiasaan defekasi serta pola
kepribadian. Pemeriksaan fisik meliputi perkembangan psikomotor, inspeksi
daerah genital dan punggung, refleks lumbosakral dan pengamatan terhadap pola berkemih.
Tahapan diagnostik berikutnya ialah
pemeriksaan penunjang baik laboratorik (urinalisis, biakan urin, pemeriksaan
kimia darah dan uji faal ginjal perlu dilakukan terhadap semua kasus
inkontinensia urin) maupun pencitraan. Ultrasonografi dipakai sebagai pilihan
pertama (penyaring), kemudian dilanjutkan dengan miksio-sisto-uretrografi
(MSU). MSU merupakan pemeriksaan radiografi vesika urinaria dengan pemakaian
kontras yang dimasukkan melalui kateter urin kemudian dilakukan pemeriksaan
fluoroskopi secara intermitten selama pasien berkemih.
Pemeriksaan urodinamik terindikasi pada
kasus yang diduga buli-buli neurogenik yang tidak selalu dapat terdiagnosis
hanya berdasarkan pemeriksaan fisik-neurologik, ataupun pada sekitar 20% kasus
yang belum jelas diagnosisnya dengan pemeriksaan baku seperti USG dan MSU.
Pemeriksaan tersebut pada anak terbatas karena memerlukan waktu yang sangat
banyak dan kesabaran dengan banyaknya instruksi yang harus diberikan, selain
itu tidak semua rumah sakit memiliki alat tersebut. Bila sarana pemeriksaan MSU
ataupun urodinamik tersedia, maka diagnosis akhir yang lebih akurat dapat
ditegakkan.
PENATALAKSANAAN
Penanganan terhadap kasus-kasus inkontinensia urin harus
memperhatikan berbagai aspek antara lain sebagai berikut:
Ø Prioritas
utama ialah pemeliharaan fungsi ginjal
Ø Penanganan
terhadap disfungsi vesiko-ureteral ditujukan terhadap kelainan yang ditemukan
secara nyata
Ø Penanganan
harus realistis dengan memperhatikan kondisi neurologis yang diderita
Ø Penanganan
adekuat terhadap infeksi yang menyertai disfungsi vesiko-ureteral


Gambar 1 Tahapan
Diagnostik Akhir Gangguan Berkemih Pada Anak Sumber: Tambunan
Dengan kata lain penanganan adekuat
meliputi pengosongan buli-buli dengan baik, penurunan tekanan intravesika,
pencegahan ISK serta penatalaksanaan terhadap inkontinensia sendiri tercapai
terutama pada anak yang cukup besar. Rencana penanganan harus melihat kondisi
kasus demi kasus, tahapan permulaan meliputi identifikasi gangguan fungsi
ginjal serta pengobatannya. Bila sudah sempat terjadi gangguan fungsi ginjal
umumnya berkaitan dengan obstruksi aliran urin, baik sebagai akibat disinergia
detrusor-sfingter atau stasis akibat obstruksi sfingter uretra distal. Bila
disertai refluks vesikoureter maka gangguan fungsi ginjal semakin berat
Tahap berikutnya ialah evaluasi
terhadap inkontinensia apakah perlu segera ditangani atau tidak, pada anak
berusia 2-3 tahun misalnya penanganan dapat ditunda sampai usia di mana
inkontinensia yang dialami menimbulkan masalah sosial atau membuat malu
penderitanya. Selanjutnya ialah penilaian apakah kondisi penderita memungkinkan
untuk suatu tindakan misalnya seorang anak dengan kelainan neurologik dan
urologik yang berat, pemakaian kateter dauer
tampaknya lebih rasional dibandingkan dengan usaha lain yang lebih sulit
dan invasif
Tahapan selanjutnya ialah penilaian
apakah ada tindakan khusus yang dapat dilakukan, jika perlu ada kerja sama
antar disiplin seperti urologi, neurologi, pediatri dan rehabilitasi medik.
Tindakan dapat berupa pengobatan medikamentosa atau berupa tindakan urologik
seperti sistoplastik, pemasangan sfingter artifisial atau hanya sekedar clean intermitten catheterisation (CIC)
yaitu pemasangan kateter urin yang dilakukan oleh pasien sendiri ataupun
keluarganya di rumah. Oksibutinin saat ini merupakan obat standar pada anak
terutama pada buli-buli yang hiperaktif (overactive
bladder), namun laporan terbaru menyebutkan obat tolterodin memiliki
toleransi yang lebih baik sedangkan efektivitasnya sama. Imipramin dapat
dipakai dan cukup bermanfaat terutama memperbaiki fungsi pengisian dan
penampungan buli-buli, diduga melalui efek agonis adrenergik dan sering
dikombinasi dengan antispasmodik atau antikolinergik. Untuk kasus-kasus
hiperaktivitas otototot dasar panggul pada saat berkemih, dapat dicoba dengan
fisioterapi berupa latihan otot dasar panggul (bladder and pelvic-floor training). Pengobatan medikamentosa untuk
kelainan ini kurang
bermanfaat.
Pada kasus-kasus inkontinensia akibat
buli-buli neurogenik perlu dilakukan tindakan kateterisasi intermiten (CIC)
untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk seperti refluks dan hidronefrosis,
di samping pemberian obat-obat antikolinergik seperti oksibutinin maupun
tolterodin. Terhadap kasus akibat kelainan struktural maupun anatomik, tindakan
disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan. Hasil pemeriksaan urodinamik sangat
membantu menentukan pilihan pengobatan, selain tindakan bedah urologik
pemakaian medikamentosa juga masih ada manfaatnya. Pengeluaran urin secara Crede tidak dianjurkan karena dapat
memperburuk refluks yang sudah ada dan memperburuk fungsi ginjal
Tindakan lain seperti rekonstruksi
leher buli-buli serta stimulasi elektrik untuk mengurangi disinergia
dertusor-sfingter pada umumnya kurang bermanfaat. Di atas segalanya, perhatian,
kesabaran dan dedikasi untuk menolong penderita sangat penting untuk
meningkatkan kualitas hidup kasus yang ditangani.
KESIMPULAN
Anamnesis yang teliti dan pemeriksaan fisik yang seksama
diperlukan dalam penegakkan diagnosis inkontinensia urin, didukung oleh
berbagai pemeriksaan penunjang seperti laboratorik, maupun USG dan MSU yang
merupakan pemeriksaan baku. Sedangkan pemeriksaan urodinamik masih terbatas
pada anak karena indikasinya jika pemeriksaan baku masih belum dapat menegakkan
diagnosis, tehnik pemeriksaan yang banyak menyita waktu serta keterbatasan
fasilitas.
Inkontinensia urin perlu mendapat
perhatian mengingat salah satu komplikasinya dapat menyebabkan gagal ginjal,
sehingga penatalaksanaan yang sesuai merupakan hal mutlak dan jika perlu
diadakan kerja sama antar disiplin ilmu.
LAMPIRAN
PREPARAT OBAT-OBATAN
INKONTINENSIA URIN
![]()
![]()
Oksibutinin & Tolterodin
|
Mekanisme
kerja |
Ø Ø |
Merupakan obat golongan
antikolinergik Memberikan efek parasimpatis pada vesika urinaria &
sfingter uretra, berupa mengurangi kontraksi otot detrusor vesika urinaria
serta mengurangi dilatasi sfingter uretra interna. |
|
|
Ø |
Terutama diberikan pada
keadaan aninhibisi kontraksi vesika urinaria |
Pada anak usia > 6 tahun: 2-3 x 5 mg PO, tidak
Dosis diindikasikan
pada anak kurang dari 6 tahun
|
Efek
samping |
Ø Ø Ø |
Rasa kering pada mulut Kemerahan pada muka Hiperpireksia |
|
Sediaan |
Ø |
Tablet salut selaput 2 mg |
|
|
Imipramin |
|
§ Merupakan
obat golongan anti depresan
§ Bekerja
sebagai anti kolinergik serta anti spasmodik sehingga menyerupai efek
Mekanisme kerja simpatomimetik pada
vesika urinaria, yaitu
kontraksi trigonum
serta relaksasi otot detrusor vesika urinaria
|
Dosis |
§ § § |
1-2 mg/kgBB sekali sehari
sebelum tidur, atau 0,9-1,5 mg/kgBB/hari, atau Berdasarkan usia: 6-8 tahun
25 mg sehari >8 tahun 50-75 mg sehari |
|
|
§ |
Tidak diindikasikan untuk
anak < 6 tahun |
|
§ Efek samping |
Insomnia Rasa cemas Perubahan perilaku |
|
|
§ |
Gangguan irama &
hantaran jantung |
|
|
Sediaan § |
Tablet selaput 25 mg |
|
DAFTAR PUSTAKA
Agustina,
A., Yuniarti, Y., & Okhtiarini, D. (2021). HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN
KEJADIAN INKONTINENSIA URINE PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI
SEJAHTERA BANJARBARU. Jurnal Terapung:
Ilmu-Ilmu
Sosial,
3(2), 1-12
Utomo, A.
S. (2019). Status kesehatan lansia
berdayaguna. Media Sahabat Cendekia
Wilis, N. (2018). Inkontinensia,
Tugas Keluarga, Tugas Keluarga Dalam
Menghadapi
Inkontinensia Urine Pada Lansia. Jurnal
Keperawatan Malang, 3(1), 7-15
Komentar
Posting Komentar